Empat Karakter BJ Habibie yang Patut Ditiru

Jakarta, MINA – Presiden RI ketiga Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Rabu (11/9). Tokoh dirgantara itu wafat setelah berjuang melawan penyakit dalam yang dideritanya.

Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi menyampaikan duka mendalam. Menurut TGB, meski BJ Habibie telah tiada, namun karakter-karakternya mampu bersemayam di memori pemuda-pemudi Indonesia.

“Ada empat karakter beliau yang patut dicontoh generasi penerus bangsa ini. Pertama kegigihan beliau dalam menuntut ilmu. Jadi beliau, kita tahu, memiliki etos keilmuwan yang sangat luar biasa, dan itu diakui oleh dunia,” kata TGB dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (12/9).

Kedua, kata dia, keberanian BJ Habibie dalam memulai sesuatu yang baru. Kepeloporannya dalam membangun industri kedirgantaraan nusantara menjadi bukti BJ Habibie berani memulai sesuatu yang baru tersebut

“Kemudian sekarang kita baru sadar bahwa ternyata industri yang dikembangkan beliau itu adalah industri masa depan, artinya sekarang kita harus menata kembali apa yang dulu ditinggalkan oleh beliau,” ujarnya.

TGB melanjutkan, ketiga adalah kerendahan hati BJ Habibie. Hal itu dibuktikan ketika BJ Habibie telah usai memimpin Indonesia, ia sadar betul bahwa itu bukan masanya lagi dan memberikan ruang kepada para pemimpin berikutnya untuk membangun Indonesia sebaik-baiknya.

“Jadi tidak pernah mengganggu, tidak pernah memberikan statement yang aneh-aneh, beliau justeru memotivasi kepada pemimpin-pemimpin setelahnya untuk membangun Indonesia menjadi lebih maju,” katanya.

Keempat, tambah dia, BJ Habibie selalu mampu menempatkan diri dalam posisi yang baik untuk semua, sehingga tidak ada satupun orang di Indonesia yang memusuhinya, bahkan justeru mencintai BJ Habibie.

“Namun, yang menarik juga dari beliau, menjadi pelajaran bagi saya secara pribadi dan untuk kita semua bahwa beliau telah sampai pada keyakinan bahwa nilai-nilai agama itu tetap harus menjadi pondasi dalam membangun Indonesia,” katanya. (L/R06/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)