Hakikat Hidup Memurnikan Ketaatan Kepada Allah

Oleh : Urfa Kaida, Koordinator Fatayat Bandung Selatan, Aktivis Aqsa Working Group (AWG) Jawa Barat

Manusia memiliki kebebasan untuk menikmati dunia yang begitu memesona. Manusia juga pasti mengalami suka dan duka sebagai pewarna ragam pesona perjalanan hidup yang silih berganti. Namun senyatanya tetap saja bahagia jauh lebih banyak menghampiri kita manusia. Duka hanya sebagai selingan untuk hadirnya suka.

Ketika hidup mendekati maut tanpa kita rasa, di situlah titik pertanyaan tentang arti hidup kita mengemuka. Masa hidup manusia yang ternyata begitu pendek, menimbulkan tanya, derita, dan bahkan asa. Keindahan dunia begitu membuat manusia terlena. Hingga rentang usia seratus tahun pun tak akan terasa lama.

Dengan memahami keabadian jiwa ini manusia sedikit berkurang rasa takutnya, asa tetap terentang tanpa jeda. Ada harapan yang diciptakan sendiri tentang kehidupan setelah hidup di dunia, yang dinamai here after, akhiratlah akhir dari perjalanan manusia.

Paradoks manusia berlaku, ketika manusia mengingkari masa hidupnya dan kematian dan ingin hidup selamanya di dunia. Tetapi toh pada akhirnya manusia satu per satu menemui ajalnya.

Setelah itu, harapan akan hidup setelah mati digantikan balasan surga atau neraka sebagai konsekwensi paling adil. Di sinilah pertanyaan mencari jawab hakikat perjalanan hidup menemui jawabannya. Hingga keyakinan itu mendamaikan gejolak dan paradoks hidup singkat manusia.

Dalam keingintahuan itu muncul pertanyaan tentang kekuatan lain di luar manusia, dengan ketakutan akan masa depan yang gulita, menciptakan Kuasa paling perkasa. Kuasa di luar batas kemampuan manusia. Kuasa itu harus dimiliki oleh yang tidak terbayangkan, tidak terhingga, tidak terbatas oleh apapun juga. Juga tidak tergambarkan oleh pikir dan nalar manusia.

Perjalanan kehidupan, fakta kematian, semua itu hendaknya menyadarkan kita manusia,  dari mana kita berasal dan untuk apa?

Allah menyatakan di dalam Al-Quran :

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍۚ

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sungguh, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS Al-Hijr: 28).

فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ

Artinya: “Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS Al-Hijr/15: 29).

Pada ayat lain, Allah mengingatkan kita manusia akan kesaksian kita ketika di alam rahim, pengakuan akan Allah sebagai Tuhan.

Al-Quran menyebutkan:

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (QS Al-A’raf/7: 173).

Pada ayat lain disebutkan bagaimana tujuan kita manusia diciptakan, tiada lain adalah untuk beribadah kepada Allah, dan untuk memurnikan ketaatan (keikhlasan) kepada-Nya.

Firman Allah menyebutkan:

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

مَآ اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَآ اُرِيْدُ اَنْ يُّطْعِمُوْنِ

اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.

Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.

Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS Adz-Dzariyat/51: 56).

Pada ayat lain dikatakan:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

Artinya: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS Al-Bayyinah/98: 5).

Di sinilah timbul kesadaran hidup manusia akan adanya Allah, muara akhir bagi semua jawaban dangkal tentang manusia dan alam semesta.

Di sini pula muncul kesadaran akan pentingnya memperibadati-Nya sepanjang hayat di kandung badan, dengan penuh kemurnian dan keikhlasan, hanya untuk mengharap ridha-Nya. Aamiin. (A/Urf/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)