Makkah, MINA – Kota suci Makkah yang selama ini dikenal sebagai destinasi ibadah umat Islam, kini bertransformasi menjadi lahan subur investasi properti, khususnya di sektor perhotelan.
Pergeseran ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan perubahan struktural yang didorong oleh lonjakan jumlah jamaah haji dan umrah, serta proyek ambisius Visi Saudi 2030.
Para pengembang properti di Makkah kini mulai meninggalkan model bisnis lama yang mengandalkan penjualan tanah dan unit rumah, dan beralih ke aset yang menghasilkan pendapatan berkelanjutan: hotel dan apartemen layanan. Mengapa? Karena permintaan kamar hotel di Makkah terus melonjak sepanjang tahun, tidak lagi musiman.
Menurut Dr. Hussein Al-Attas, seorang konsultan keuangan dan ekonomi, sektor perhotelan Makkah saat ini sedang berada di “salah satu fase historis terkuatnya.”
Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya
Ada beberapa faktor yang membuat investasi hotel di Makkah begitu menarik:
- Jumlah jamaah terus meningkat: baik haji maupun umrah, dengan program umrah yang kini berlangsung sepanjang tahun.
- Proyek infrastruktur raksasa: perluasan Masjid Agung, jaringan transportasi, kereta api, dan jalan raya yang memudahkan akses.
- Visi Saudi 2030: target pemerintah untuk menarik lebih banyak pengunjung ke kota suci menjadi pendorong utama.
Alhasil, tingkat pemesanan hotel dan harga kamar rata-rata pun ikut melonjak, terutama saat musim haji dan umrah.
Salah satu contoh nyata adalah Perusahaan Pengembangan Jabal Omar. Setelah sempat merugi, perusahaan ini mencatat laba bersih 158,1 juta riyal pada kuartal kedua 2026, berkat kinerja hotel yang cemerlang. Pendapatan mereka melonjak 42,5 persen menjadi 715,2 juta riyal (Rp3,36 triliun).
Pembukaan hotel Rotana awal tahun ini turut mendongkrak kinerja mereka. Ini membuktikan bahwa hotel bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi mesin utama profitabilitas.
Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa
Dari Jual Tanah ke Kelola Hotel
Khaled Al-Mobid, CEO Menassat Real Estate Company, menjelaskan bahwa Makkah punya keunggulan luar biasa: permintaan yang berkelanjutan. Tidak ada musim sepi di Makkah. Sepanjang tahun, jamaah datang silih berganti.
Ia menambahkan bahwa pengembang kini tidak cukup hanya membangun. Mereka juga harus memikirkan kualitas operasional, manajemen aset, dan pengalaman tamu. Nilai sebuah proyek hotel kini diukur dari kinerjanya, bukan hanya biaya pembangunannya.
Tantangan di Balik Peluang
Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik
Namun, di balik gemerlapnya peluang, ada tantangan yang harus diwaspadai. Pasokan kamar hotel juga terus bertambah, dan persaingan antar operator semakin ketat. Biaya tanah, konstruksi, operasional, hingga upah pekerja ikut naik.
Dr. Al-Attas memperingatkan bahwa efisiensi operasional akan menjadi kunci. Hotel yang mampu memaksimalkan pendapatan per kamar, menekan biaya, dan memberikan layanan premium akan tetap unggul.
Menurut Al-Mobid, penting juga untuk mendiversifikasi segmen tamu, tidak hanya jamaah haji, tetapi juga wisatawan bisnis, keluarga, dan peziarah individu.
Ke depan, investasi perhotelan di Makkah tidak lagi sekadar soal jumlah kamar. Kualitas produk, lokasi strategis, efisiensi operasional, dan pengalaman tamu akan menjadi faktor penentu kesuksesan.
Baca Juga: Saudi Koordinasi dengan NATO dan Eropa Bahas Perkembangan Kawasan
Dengan permintaan dan pasokan yang terus bertumbuh secara bersamaan, para pengembang dituntut untuk lebih cerdas. Mereka yang mampu mengubah lonjakan pengunjung menjadi arus kas berkelanjutan, serta mengelola aset dengan profesional, akan menjadi pemenang di era baru ini.
Makkah kini bukan lagi sekadar kota ibadah, tapi juga kota bisnis yang menjanjikan. Hotel-hotel di sana kini menjadi simbol transformasi ekonomi Saudi yang nyata. []
Sumber: Asharq al-Awsat
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Qatar Bantah Campur Tangan di Pemilu Israel: “Tuduhan Konyol dan Berbahaya!”
















Mina Indonesia
Mina Arabic