Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asa Kemabruran: Refleksi Hari Khidmat Haji dan Umrah

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Senin, 14 September 2026 - 23:12 WIB

Senin, 14 September 2026 - 23:12 WIB

24 Views ㅤ

Jamaah umrah Indonesia di Makkah (foto: dok MINA)

Oleh Arif D Hasibuan, Ketua Mabrur Center Indonesia

ADA satu pengalaman yang sulit dilupakan oleh siapa pun yang pernah menunaikan ibadah haji: menjadi tamu Allah sekaligus menyaksikan bagaimana negara hadir melayani para tamu Allah. Pengalaman berhaji bukan hanya perjalanan spiritual menuju Baitullah. Haji juga menjadi perjalanan kemanusiaan. Di sana kita belajar bahwa ibadah yang sangat individual ternyata membutuhkan pelayanan yang sangat kolektif.

Ada jutaan langkah jamaah yang harus diatur. Ada transportasi yang harus dipastikan. Ada makanan yang harus tersedia. Ada hotel yang harus layak. Ada kesehatan yang harus dijaga. Ada lansia yang harus didampingi. Ada jemaah yang tersesat, kelelahan, sakit, bahkan membutuhkan pertolongan dalam keadaan darurat. Dan di balik semua itu ada tangan-tangan petugas yang bekerja, sering kali jauh dari sorotan kamera.

Negara Hadir Melayani Tamu Allah

Baca Juga: Misteri Tiga Pulau di Kawasan Krakatau: Sertung, Rakata, dan Panjang

Tahun 2026 merupakan babak baru dalam sejarah penyelenggaraan haji Indonesia. Kehadiran kementerian khusus yang menangani haji dan umrah membawa harapan baru agar pelayanan kepada jemaah semakin fokus, profesional, terintegrasi, dan berorientasi pada kebutuhan jamaah.

Kemenhaj mendorong kualitas layanan melalui sejumlah pendekatan baru, termasuk digitalisasi layanan, percepatan proses keberangkatan, penguatan validasi data jamaah, serta peningkatan standar pelayanan konsumsi, akomodasi dan transportasi. Yang menarik, apresiasi terhadap pelayanan Haji 2026 tidak hanya datang dari satu pihak. Evaluasi di lapangan juga menunjukkan adanya peningkatan pada berbagai aspek layanan, mulai dari keberangkatan, transportasi, pemondokan, konsumsi hingga kesehatan.

Bahkan, Tim Pengawas Haji DPR RI menilai wajah pelayanan tahun ini terasa lebih humanis dan memberikan perhatian lebih terhadap kenyamanan jamaah, termasuk kelompok lanjut usia dan kelompok rentan. Hemat saya, ini bukan sekadar statistik pelayanan. Ini adalah tentang bagaimana negara memperlakukan warganya yang sedang menjalankan ibadah.

Saya pernah berada di dua Sisi. Saya pernah berada di posisi sebagai jamaah. Tepatnya pada 2019 M/1440 H. Saat itu, saya mendapatkan berkah dari pelimpahan porsi haji yang resmi diberlakukan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah. Ayah saya wafat di tahun keberangkatan haji beliau tiba, setelah mendaftar pada 2010. Atas wasiat, saya pun menggantikan almarhum dan menemani Ibunda berhaji ke Tanah Suci.

Baca Juga: Perang Trump di Teluk, Warga Amerika yang Menanggung Harga dan Inflasi

Karena itu, saya tahu rasanya berdiri di Tanah Suci dengan hati yang berdebar. Saya tahu bagaimana rasanya menjadi manusia kecil di tengah jutaan manusia yang datang dengan tujuan yang sama: memenuhi panggilan Allah.

Tetapi saya juga pernah berada dalam posisi berkhidmat melayani jamaah. Tepatnya, pada 2024 M /1445 H. Seorang teman pemilik Travel di Jakarta menghubungi dan meminta saya membantunya untuk ikut berhaji mendampingi jamaah. Dari pengalaman itu saya memahami satu hal sederhana: jemaah tidak hanya membutuhkan pelayanan yang benar, tetapi juga pelayanan yang menyentuh hati.

Jamaah yang sudah berusia lanjut mungkin tidak selalu membutuhkan penjelasan yang panjang. Ia membutuhkan seseorang yang mau menggandeng tangannya. Jemaah yang kelelahan tidak selalu membutuhkan kata-kata yang rumit. Ia membutuhkan petugas yang dengan sabar mengatakan, “Bapak/Ibu, mari saya bantu.”

Jamaah yang kebingungan tidak membutuhkan birokrasi. Ia membutuhkan kepastian.  Dan jamaah yang sedang sakit membutuhkan kehadiran negara yang benar-benar terasa. Karena itu, ukuran keberhasilan pelayanan haji sesungguhnya bukan hanya berapa banyak hotel yang tersedia, berapa jumlah bus yang beroperasi atau seberapa cepat sistem digital bekerja.

Baca Juga: Arab Saudi di Antara Dua Selat: Hormuz, Bab Al-Mandab, dan Masa Depan Pakta Makkah

Ukuran yang paling penting adalah: Apakah jamaah merasa aman? Apakah jamaah merasa dihormati? Apakah jemaah merasa dilayani? Dan apakah jemaah dapat beribadah dengan tenang?

Pelayanan Haji Adalah Ibadah Kemanusiaan

Saya percaya bahwa pelayanan kepada jamaah haji pada hakikatnya merupakan ibadah kemanusiaan. Seorang petugas mungkin tidak sedang melakukan tawaf ketika ia membantu seorang jemaah menemukan busnya. Ia mungkin tidak sedang sa’i ketika ia membantu lansia menuju tempat istirahat.

Namun, boleh jadi justru pada saat itulah nilai pengabdiannya sedang diuji.  Sebab haji bukan hanya tentang bagaimana kita beribadah kepada Allah, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan sesama manusia. Di sinilah saya melihat pentingnya membangun budaya pelayanan yang semakin kuat di lingkungan Kemenhaj. Transformasi kelembagaan harus diikuti dengan transformasi budaya kerja.

Baca Juga: Hikmah Al-Qur’an: Strategi Menjaga Organisasi dari Keterpurukan

Petugas bukan sekadar pelaksana teknis. Mereka adalah wajah negara di hadapan jamaah. Senyum petugas adalah wajah Indonesia. Kesabaran petugas adalah wajah Indonesia. Respons cepat petugas adalah wajah Indonesia. Dan ketika seorang petugas dengan tulus membantu jemaah yang kesulitan, sesungguhnya ia sedang memperlihatkan kepada dunia bagaimana Indonesia memuliakan tamu-tamu Allah.

Karena itu, dalam momentum memperingati Hari Khidmat Haji dan Umrah pada 8 September yang bertepatan pada 1 tahun berdirinya Kemenhaj RI, saya ingin menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Menteri dan Wakil Menteri Haji dan Umrah beserta seluruh jajaran Kemenhaj, PPIH, petugas kesehatan, petugas transportasi, petugas akomodasi, pembimbing, serta seluruh pihak yang telah bekerja melayani jamaah Indonesia.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada sistem pelayanan yang sempurna. Masih akan selalu ada catatan, kekurangan dan ruang perbaikan.  Namun, apresiasi harus diberikan kepada setiap ikhtiar yang menghadirkan perubahan positif.  Justru karena kita ingin pelayanan haji semakin baik, maka kritik dan evaluasi harus ditempatkan sebagai bagian dari ta’awun, saling membantu dalam kebaikan.

Saya berharap apa yang telah dicapai pada penyelenggaraan Haji 2026 menjadi baseline, bukan titik akhir. Evaluasi Haji 2026 sendiri memang diarahkan sebagai pijakan untuk merumuskan perbaikan pelayanan pada musim berikutnya.  Ke depan, saya berharap pelayanan haji semakin: profesional dalam tata kelola, humanis dalam pendekatan, transparan dalam pelayanan, cepat dalam merespons, dan ikhlas dalam pengabdian.

Baca Juga: Satu Layar, Seribu Fitnah

Karena pada akhirnya, jamaah tidak hanya ingin pulang sebagai orang yang telah selesai menunaikan rangkaian ritual haji. Mereka ingin pulang dengan membawa asa kemabruran. []

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Kaderisasi Harus By Design: Karena Buah Tidak Jatuh dari Langit

Rekomendasi untuk Anda

Artikel
Dunia Islam
Menteri Haji dan Umrah, Moch. Irfan Yusuf (foto: Kemenhaj RI)
Dunia Islam