Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Imaam Yakhsyallah Mansur: Ulul Albab Bukan Sekadar Cerdas, Tapi Tunduk

Zaenal Muttaqin Editor : Ali Farkhan Tsani - Ahad, 26 April 2026 - 08:50 WIB

Ahad, 26 April 2026 - 08:50 WIB

50 Views ㅤ

Imam Yakhsyallah Mansur menyampaikan tausiah di Ponpes Shuffah Hizbullah Mranggen Demak (Foto: Zaenal/MINA)

Dem​ak, MINA – Istilah Ulul Albab kerap dimaknai sederhana sebagai orang berilmu. Namun dalam tausiah Ba’da Subuh di Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah Kalitengah, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak Jawa Tengah, Ahad (26/4/2026), Imaam Yakhsyallah Mansur menegaskan, makna itu jauh lebih dalam, bukan sekadar cerdas, tetapi mampu mengikat akal dengan iman dan amal.

Dalam pemaparannya, Ulul Albab digambarkan sebagai pribadi yang tidak berhenti pada membaca ayat-ayat Allah, melainkan menembus makna, merenungi, lalu mengamalkannya dalam kehidupan nyata.

“Akal mereka jernih, hati mereka bersih. Dari situlah lahir ketundukan,” ujarnya.

Rujukan utama karakter ini, lanjutnya, tertuang dalam Alquran Surah Ar-Ra’d ayat 19–24. Di dalamnya, tergambar standar tinggi yang harus ditempuh seseorang untuk layak disebut Ulul Albab.

Baca Juga: MK Tolak Gugatan Ijazah SMA Gibran Rakabuming Raka

Karakter pertama yang ditekankan adalah kesetiaan pada janji kepada Allah. Janji keimanan bukan sekadar pengakuan, melainkan komitmen yang harus dibuktikan dalam tindakan nyata. Pelanggaran terhadap janji, menurutnya, menjadi indikator rapuhnya iman seseorang.

Tak berhenti di situ, Ulul Albab juga dikenal tidak merusak perjanjian yang telah diteguhkan. Mereka menjaga integritas, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun sesama manusia. Prinsip tidak mudah ditukar dengan kepentingan sesaat, bahkan ketika dihadapkan pada tekanan dan godaan.

Dimensi sosial juga menjadi ciri penting. Ulul Albab aktif menyambung silaturahmi, menjaga hubungan keluarga dan masyarakat, serta menghadirkan diri sebagai penghubung kebaikan.

“Mereka tidak mudah memutus relasi hanya karena emosi, melainkan menjadi perekat di tengah perbedaan,” tegasnya.

Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat

Di sisi spiritual, rasa takut kepada Allah menjadi fondasi utama. Namun, rasa takut ini bukan ketakutan biasa, melainkan lahir dari pemahaman mendalam tentang kebesaran-Nya. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar rasa takutnya, yang justru menjauhkan dari kesombongan.

Kesadaran akan hari perhitungan juga terus mengiringi langkah mereka. Ulul Albab tidak pernah merasa aman dari hisab, sehingga hidup mereka dipenuhi muhasabah dan upaya memperbaiki diri secara berkelanjutan.

Dalam menghadapi ujian, mereka mengedepankan kesabaran yang ikhlas, semata-mata demi meraih ridha Allah. Kesabaran ini bersifat aktif, bertahan dalam ketaatan, menjauhi maksiat, dan tetap teguh saat diuji.

Shalat menjadi pilar utama kehidupan mereka. Bukan sekadar rutinitas, tetapi menjadi sumber kekuatan spiritual yang menopang setiap persoalan hidup. Dari kedekatan itulah, mereka menemukan ketenangan dan arah.

Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat

Selain itu, kata Imaam Yaksyallah, Ulul Albab juga dikenal dermawan. Mereka menafkahkan rezeki, baik secara sembunyi-sembunyi demi menjaga keikhlasan, maupun secara terbuka untuk memberi teladan. Harta dipandang sebagai titipan, bukan tujuan.

“Yang paling menonjol, mereka membalas kejahatan dengan kebaikan. Sikap ini mencerminkan kematangan jiwa yang tidak mudah terpancing konflik. Kehadiran mereka justru menjadi penyejuk dan penengah di tengah masyarakat,” paparnya.

Di akhir tausiah, ditegaskan bahwa balasan bagi Ulul Albab adalah kebahagiaan puncak di akhirat, sebagaimana digambarkan dalam lanjutan ayat tersebut: surga yang penuh kedamaian, sebagai hasil dari perjalanan panjang menjaga iman, akal, dan amal.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa kecerdasan sejati bukan hanya soal pengetahuan, tetapi kemampuan menundukkan diri pada kebenaran—sebuah standar yang tidak ringan, namun menjadi tujuan utama setiap insan beriman. []

Baca Juga: Forum Zakat Soroti Perlindungan dan Profesionalisme Amil

Mi’raj News Agency (MINA) 

Rekomendasi untuk Anda