SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Imam Al-Qurthubi: Pakar Tafsir dari Spanyol yang Mengukir Peradaban

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - 2 jam yang lalu

2 jam yang lalu

1 Views

Ilustrasi: Kejayaan Islam Anadalusia (Cordobapie)

DI BALIK gemerlapnya peradaban Islam di Andalusia (Spanyol), lahirlah para ulama yang ilmunya terus mengalir hingga saat ini. Salah satunya adalah Imam Al-Qurthubi, seorang ahli tafsir, fikih, dan hadits yang namanya harum semerbak sepanjang zaman.

Dikenal dengan karyanya yang monumental Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an atau terjemah Bahasa Indonesia Tafsir Al-Qurthubi (20 Jilid). Al-Qurthubi tidak hanya menafsirkan ayat, tetapi juga menuntun umat memahami hukum-hukum Allah dengan mendalam.

Tulisan ini akan mengajak pembaca utuk mengenal lebih dekat sosok luar biasa ini, mulai dari kehidupannya di Cordova (sekarang Spanyol), perjalanan intelektualnya, hingga warisan ilmunya yang terus membumi hingga abad ke-21.

Dari Cordova hingga Mesir

Baca Juga: Imam Abu Hanifah, Pelopor Rasionalitas Fikih Islam 

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farh al-Anshari al-Khazraji al-Andalusi al-Qurthubi. Ia dilahirkan di Cordova (Qurthubah), Andalusia, pada sekitar tahun 1214 M / 610 H.

Masa kecil Al-Qurthubi tidak lepas dari gejolak politik. Ia hidup di masa ketika umat Islam di Andalusia sedang berjuang menghadapi serangan Reconquista (Penaklukan Kembali oleh Kristen).

Ayahnya yang berprofesi sebagai petani meninggal dunia dalam sebuah serangan pada tahun 1230 M. Meskipun hidup dalam kesederhanaan dan ketegangan perang, semangat belajarnya tidak pernah padam.

Hijrah demi Ilmu

Baca Juga: Dari Cimahi ke Lebanon, Kisah Mayor Zulmi Aditya yang Gugur dalam Misi Perdamaian Dunia

Setelah Cordova jatuh ke tangan Kristen pada tahun 1236 M, Al-Qurthubi memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahirannya. Ia memulai pengembaraan panjang ke timur untuk menuntut ilmu, sebuah tradisi mulia dalam Islam.

Rute perjalanannya Adalah Aleksandria (Mesir) untuk memulai mempelajari Hadits dan Tafsir. Kemudian ke Kairo untuk menyempurnakan ilmunya di pusat peradaban Dinasti Ayyubiyah. Al-Querthubi kemudian melanjutkan perjalanan ilmunya ke Al-Fayyum & Mansoura, untuk berguru kepada ulama-ulama terkemuka di sana.

Terakhir, ia menimba ilmu ke Munya Abi al-Khusayb (Minya). Hingga menetap di kota di Mesir Hulu ini sampai wafatnya.

Akhir Hayat

Baca Juga: Imam Muslim Sang Pemilik Karya Abadi Sepanjang Zaman

Imam Al-Qurthubi menghabiskan sisa hidupnya untuk beribadah, mengajar, dan menulis. Beliau wafat pada malam Senin, 9 Syawal 671 H (29 April 1273 M) dan dimakamkan di Minya, Mesir. Makamnya masih terawat hingga kini .

Guru-Gurunya

Meskipun catatan sejarah tentang guru-gurunya tidak selengkap ulama lain, sumber-sumber menyebutkan beberapa nama penting yang mengajarinya, baik di Cordova maupun di Mesir.

Di Cordova (Andalusia) ada Ibnu Rawwa (Abu Muhammad bin Rawah), seorang imam besar dalam bidang Hadits. Ada juga Abu al-Abbas bin Umar al-Qurthubi, salah satu gurunya yang mendorongnya untuk menekuni Tafsir. Ada juga Al-Hasan al-Bakari (Abu Ali Al-Hasan bin Muhammad), guru yang mengajarkan ilmu Hadits.

Baca Juga: Demi Merdeka, Wahsyi dari Budak Menjelma Jadi Pembunuh Bayaran Handal

Di Mesir ada Abdul Mu’thi al-Iskandari, ulama terkemuka di Alexandria, serta Ibnu al-Muzayyin, seorang ahli Qira’at Al-Qur’an.

Dari mereka, Al-Qurthubi menyerap berbagai disiplin ilmu seperti Bahasa Arab, Nahwu, Fiqih, Qira’at, dan Tafsir .

Karya-Karya Monumental

Imam Al-Qurthubi adalah seorang penulis yang produktif. Selain Tafsir, ia juga menulis kitab di bidang akidah, dzikir, dan etika. Berikut karya-karya utamanya, di antaranya: Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (Kitab Tafsir Al-Quran bercorak hukum), At-Tadzkirah fi Ahwalil Mauta wa Umuril Akhirah (Kiamat, tanda-tandanya, kematian, dan akhirat), Al-Asna fi Syarhi Asma’illah al-Husna (Penjelasan tentang 99 nama baik Allah), Qam’ al-Hirsh bi az-Zuhd wa al-Qana’ah (Keutamaan zuhud dan qana’ah), dan At-Tidzkar fi Afdal al-Adzkar (Kumpulan dzikir dan doa).

Baca Juga: Salman Al-Farisi Sahabat Cerdas dari Persia

Karakteristik Utama

Karakteristik utama Kitab Tafsir Al-Qurthubi bercorak fiqih (hukum). Tujuan utamanya adalah mengekstrak hukum syariat dari Al-Qur’an. Karena itulah kitab ini lebih populer dengan sebutan Tafsir Ahkam.

Al-Qurthubi menggunakan Metode Tahlili, menafsirkan ayat demi ayat, surat demi surat, dengan urutan mushaf Usmani. Penjelasannya dimulai dari aspek bahasa (lughawi), asbabun nuzul (sebab turun ayat), hingga qira’at (ragam bacaan).

Al-Qurthubi juga tidak fanatik Mazhab. Meskipun seorang Maliki, Al-Qurthubi dikenal jujur dan adil. Jika pendapat Mazhab Maliki lemah, ia tidak segan-segan mengambil pendapat mazhab lain (Syafi’i, Hanafi, atau Hambali) yang dianggap lebih kuat dalilnya.

Baca Juga: Hamzah bin Abdul Muththalib, Singa Allah dan Penghulu Para Syuhada di Hari Kiamat

Al-Qurthubi juga anti Khurafat dan anti Bid’ah. Dalam tafsirnya, Al-Qurthubi keras mengkritik kelompok-kelompok yang menyimpang seperti Mu’tazilah, Rafidhah (Syi’ah ekstrem), serta filsuf dan sufi yang menyimpang dari syariat .

Warisan Ilmu

Kualitas keilmuan Al-Qurthubi diakui oleh para kritikus hadits dan sejarawan. Seperti Imam Adz-Dzahabi, seorang pakar hadits terkemuka, yang memujinya dengan menyebutkan Al-Qurthubi adalah seorang imam yang ahli dalam berbagai cabang ilmu, lautan ilmu yang dalam. Karya-karyanya menjadi saksi atas luasnya pengetahuannya.

Warisan Imam Al-Qurthubi tidak berhenti di abad ke-13. Kitab Tafsir Al-Qurthubi menjadi rujukan utama di pesantren-pesantren tradisional dan universitas Islam di seluruh dunia. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Inggris, Urdu, Bengali, dan Indonesia.

Baca Juga: Abbas bin Abdul Muththalib, Paman Tersayang dan Intelijen Nabi di Makkah

Di Indonesia, Tafsir Al-Qurthubi menjadi salah satu kitab wajib yang dikaji di berbagai lembaga pendidikan Islam karena kedalaman pembahasannya tentang hukum fikih yang aplikatif untuk kehidupan sehari-hari.

Ahli Ibadah yang Zuhud

Selain cerdas, Imam Al-Qurthubi dikenal memiliki kepribadian yang mulia. Ia adalah sosok yang tawadhu’ (rendah hati), zuhud (tidak mencintai dunia), dan wara’ (sangat berhati-hati terhadap yang haram).

Ibnu Farihun menggambarkannya sebagai seorang hamba Allah yang saleh, seorang alim yang arif, wara’, zuhud di dunia, dan sibuk dengan urusan akhirat. Waktu-waktunya dihabiskan untuk ibadah dan menulis karya.

Baca Juga: Anas bin Malik, Pelayan Rasulullah hingga Menjadi Guru dan Sahabat Terakhir yang Wafat

Ia sering terlihat mengenakan jubah bersih dengan kopiah di kepalanya, penampilan sederhana yang mencerminkan kesungguhannya dalam beribadah dan meninggalkan gemerlap dunia.

Penutup

Imam Al-Qurthubi adalah bukti nyata bahwa runtuhnya sebuah kota (Cordova) tidak serta-merta memadamkan cahaya keilmuan Islam. Melalui hijrah dan perjuangannya, ia melahirkan karya yang menjadi jembatan antara umat Islam dan pemahaman mendalam terhadap Kitabullah.

Dengan Tafsir Al-Qurthubi, ia tidak hanya mengajarkan apa yang dikatakan Allah, tetapi juga bagaimana hukum-hukum itu diaplikasikan. Al-Qurthubi adalah sang Mufassir Cordova yang ajarannya terus hidup di setiap baris kajian para santri dan mahasiswa Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Baca Juga: Kisah Tatang Asy’ari dari Lorong ke Lorong Istiqamah di Jalan Dakwah

Semoga kita dapat meneladani semangat belajarnya, keteguhan memegang prinsip, dan dedikasinya dalam mengabdi kepada ilmu. Wallahu a’lam. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Abu Hurairah Sang Penjaga Hadits, Ahli Ibadah, dan Teladan Ramadhan

Rekomendasi untuk Anda