Dari sebuah rumah sederhana di Cimahi, Jawa Barat, langkah pengabdian itu bermula, hingga akhirnya berujung di Lebanon Selatan, medan tugas yang menjadi saksi gugurnya Mayor Anumerta Infanteri Zulmi Aditya Iskandar (33 tahun) dalam misi perdamaian dunia.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa Indonesia yang kehilangan salah satu putra terbaiknya, prajurit TNI yang rela mengorbankan jiwa raganya demi kemanusiaan dan perdamaian.
Rumah duka di Kampung Cikendal, RT 01/04, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, hingga Selasa 7 April 2026 masih dipenuhi para pelayat yang datang silih berganti. Mereka membawa doa dan penghormatan terakhir bagi almarhum yang gugur saat menjalankan tugas dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Dari tempat itulah, kisah seorang prajurit yang penuh dedikasi, kasih sayang, dan keteguhan keimanan dikenang dengan haru. Kenangan tentang bagaimana ia menapaki jalan pengabdian sejak muda, menjaga amanah sebagai anak yang berbakti, suami yang setia, dan ayah yang penuh cinta, hingga akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di tanah jauh demi tugas mulia menjaga perdamaian dunia.
Baca Juga: Imam Al-Qurthubi: Pakar Tafsir dari Spanyol yang Mengukir Peradaban
Zulmi Aditya meninggalkan jejak keteladanan yang tak hanya menggetarkan hati keluarga, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang tentang arti pengorbanan, keikhlasan, dan cinta kepada sesama.
Di mata sang ayah, Iskandarudin, Zulmi bukan sekadar seorang tentara. Ia adalah putra yang sangat sayang kepada orangtuanya. Ia selalu menyempatkan berkabar kepada keluarga, meski hanya lewat suara.
“Dia selalu menelepon, minta didoakan agar tugasnya lancar,” tutur sang ayah dengan suara bergetar. Lebanon, bagi Zulmi, bukan sekadar medan tugas, melainkan amanah yang ia emban dengan sepenuh jiwa.
Di tengah situasi kawasan yang rawan konflik, Zulmi tetap menjaga satu hal yang tak pernah ia tinggalkan: keluarganya. Jarak ribuan kilometer tidak memutus ikatan batin yang ia rajut sejak kecil. Ia rutin menghubungi orang tuanya, menanyakan kabar, dan memohon doa.
Baca Juga: Imam Abu Hanifah, Pelopor Rasionalitas Fikih Islam
Dalam setiap panggilan di ujung telepon, terselip kerinduan dan juga tekad kuat untuk menunaikan tugas negara dengan sebaik-baiknya.
Iskandarudin mengenang putranya sebagai sosok yang rajin, patuh, dan sangat berbakti. Sejak kecil, Zulmi dikenal disiplin dan memiliki semangat juang tinggi. “Dia anak yang tidak pernah membantah, selalu menurut, dan sangat perhatian dengan keluarga,” ujarnya.
Bahkan di tengah kesibukan sebagai prajurit, Zulmi tetap menunjukkan cinta yang tulus kepada keluarga besarnya.
Menjelang kepergiannya untuk selamanya, Zulmi sempat melakukan panggilan kepada sang ayah. Ia meminta doa agar perjalanan pulangnya nantinya diberikan kelancaran. Tak ada firasat apa pun saat itu, yang ada hanyalah harapan sederhana: seorang anak yang ingin kembali ke rumah, berkumpul bersama keluarga tercinta.
Baca Juga: Imam Muslim Sang Pemilik Karya Abadi Sepanjang Zaman
Menurut jadwal semula, Zulmi seharusnya telah kembali ke tanah air sebulan sebelumnya. Namun, karena adanya perpanjangan masa tugas dalam misi tersebut, kepulangannya ditunda hingga bulan berikutnya. Takdir berkata lain. Ia pulang lebih cepat dari jadwal, namun dalam keheningan yang menyayat hati.
Sebagai anak kedua, Zulmi tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sarat nilai pengabdian. Kakaknya, yang juga merupakan prajurit TNI, pernah bertugas di Lebanon pada 2012 silam. Jalan pengabdian seakan menjadi warisan dalam keluarga ini, sebuah pilihan hidup yang tidak mudah, tetapi tetap dijalani dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
Zulmi meninggalkan seorang istri dan dua anak yang masih sangat belia, masing-masing berusia lima tahun dan satu tahun. Mereka mungkin belum sepenuhnya memahami arti kehilangan. Namun suatu hari nanti, mereka akan mengerti bahwa Sang Ayah mereka adalah seorang penjaga perdamaian dunia, yang mengorbankan hidupnya demi tugas mulia.
Di balik ketegasan sebagai prajurit, Zulmi adalah pribadi yang lembut dan sangat taat dalam beribadah. Sang ayah menuturkan, ia sangat menjaga waktu shalat. Dalam kondisi apa pun, ia berusaha tidak meninggalkan kewajiban shalat lima waktu dengan berjamaah. Bahkan, ia juga dikenal sering manunaikan puasa sunnah sebagai bentuk kedekatannya kepada Allah Ta’ala.
Baca Juga: Demi Merdeka, Wahsyi dari Budak Menjelma Jadi Pembunuh Bayaran Handal
“Dia itu sangat menjaga shalatnya. Puasa sunnah juga sering,” kenang Iskandarudin. Kesalehan pribadi itu menjadi kekuatan batin yang menuntunnya dalam setiap langkah, termasuk saat menjalankan tugas di wilayah konflik yang penuh risiko.
Kepergian Zulmi menjadi pukulan berat bagi keluarga. Namun di balik kesedihan yang mendalam, terselip keikhlasan yang terus tumbuh. Keluarga menyadari bahwa tugas seorang prajurit bukanlah tugas biasa. Ia adalah amanah besar yang kadang menuntut pengorbanan tertinggi: jiwa dan raga.
“Kami ikhlas. Ini sudah takdir yang ditetapkan Allah,” ujar sang ayah, mencoba tegar di tengah duka. Kalimat itu sederhana, namun sarat makna, sebuah bentuk ketundukan kepada takdir Ilahi yang tidak semua orang mampu menjalaninya dengan lapang dada.
Hingga kunjungan tim MINA ke rumah duka, tempat itu tak pernah sepi dari pelayat. Dari kerabat dekat hingga tokoh masyarakat, dari rekan sesama prajurit hingga perwakilan negara sahabat, semua datang menyampaikan belasungkawa.
Baca Juga: Salman Al-Farisi Sahabat Cerdas dari Persia
Doa-doa yang tulus terus mengalir, mengiringi kepergian seorang putra terbaik bangsa yang gugur di tanah konflik demi menjaga perdamaian dunia.
Salah satu pesan menyentuh datang dari aktivis Palestina, Dr Ahed Abu Al-Atta. Ia menyampaikan harapan yang penuh makna spiritual, bahwa almarhum insyaAllah termasuk dalam golongan syuhada, yang kelak dapat memberikan syafaat kepada keluarganya di Yaumil Qiyamah kelak.
Ungkapan itu menjadi penghibur bagi keluarga, sekaligus pengingat bahwa pengorbanan Zulmi tidak akan sia-sia. Di sisi Allah Ta’ala, ia mendapat kedudukan mulia dan akan bisa mengajak anggota kelaurganya tercinta.
Hal senada juga disampaikan oleh Duta Besar Palestina, Abdul Fattah Sattari. Ia mengapresiasi dedikasi prajurit TNI dalam menjaga perdamaian dunia, khususnya di wilayah yang selama ini menjadi titik panas konflik. Kehadiran pasukan penjaga perdamaian seperti Zulmi menjadi simbol harapan di tengah ketidakpastian.
Baca Juga: Hamzah bin Abdul Muththalib, Singa Allah dan Penghulu Para Syuhada di Hari Kiamat
Misi UNIFIL sendiri merupakan bagian dari komitmen internasional untuk menjaga stabilitas di Lebanon Selatan, wilayah yang kerap dilanda ketegangan akibat konflik berkepanjangan. Indonesia, sebagai salah satu kontributor pasukan terbesar dalam misi ini, telah lama memainkan peran penting dalam menjaga perdamaian dunia.
Zulmi Aditya adalah bagian dari barisan panjang prajurit tersebut. Mereka yang bekerja dalam senyap, namun membawa dampak sangat besar bagi kemanusiaan.
Kepergian Mayor Anumerta Infanteri Zulmi Aditya Iskandar bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa. Ia adalah representasi dari ribuan prajurit yang mengabdikan diri tanpa pamrih, yang siap ditempatkan di mana pun demi menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.
Namun, di balik semua itu, ia tetap seorang manusia, seorang anak yang mencintai orang tuanya, seorang suami yang menyayangi istrinya, dan seorang ayah yang menjadi pelindung bagi anak-anaknya.
Baca Juga: Abbas bin Abdul Muththalib, Paman Tersayang dan Intelijen Nabi di Makkah
Kini, suara itu memang telah tiada. Telepon itu tak akan lagi berdering. Namun nilai-nilai yang ia tinggalkan akan terus hidup—dalam ingatan, dalam doa, dan dalam jejak pengabdian yang tak lekang oleh masa.
Di ujung kisah Zulmi, yang tersisa bukan hanya duka, tetapi juga kebanggaan. Bahwa dari sebuah desa di Cimahi, pernah lahir seorang penjaga perdamaian dunia, Mayor Zulmi Aditya yang memilih jalan sunyi pengabdian, dan mengakhirinya dengan kemuliaan.
Dan dari rumah sederhana itu pula, doa-doa tak pernah putus mengiringinya, menuju keabadian yang dijanjikan bagi mereka yang gugur dalam tugas mulia menjaga perdamaian. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Anas bin Malik, Pelayan Rasulullah hingga Menjadi Guru dan Sahabat Terakhir yang Wafat
















Mina Indonesia
Mina Arabic