Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Demi Merdeka, Wahsyi dari Budak Menjelma Jadi Pembunuh Bayaran Handal

Rudi Hendrik Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 28 Maret 2026 - 18:28 WIB

Sabtu, 28 Maret 2026 - 18:28 WIB

77 Views ㅤ

Ilustrasi. (Gambar: Dreamina)

WAHSYI BIN HARB adalah budak asal Ethiopia yang membunuh paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Hamzah bin Abdul Muththalib Radhiyallahu ‘anhu, dalam perang Uhud. Dia budak milik Jubair bin Muth’im.

Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury dalam Sirah Nabawiyah menjelaskan, sewaktu Perang Badar, paman Jubair, yaitu Thuaimah bin Adi, tewas terbunuh.

Jubair ingin membalas dendam, maka dia berkata kepada Wahsyi, “Jika engkau dapat membunuh Hamzah, paman Muhammad, sebagai pembalasan atas terbunuhnya pamanku, maka engkau menjadi merdeka.”

Wahsyi kemudian dibawa dan dipertemukan dengan Hindun binti Utbah, istri dari Abu Sufyan, untuk digembleng, dididik, dan dihasut mentalnya.

Baca Juga: Hamzah bin Abdul Muthalib: Sayyidus Syuhada yang Gugur di Uhud

Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya berjudul “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” menjelaskan, Hindun sendiri memiliki dendam kesumat terhadap Hamzah, sebab, sebagaimana disampaikan orang-orang kepadanya, bahwa ayah (Utbah bin Rabi’ah), paman (Syaibah bin Rabi’ah), saudara (al-Walid bin Utbah), dan putranya (tidak dijelaskan putranya yang mana) telah dibunuh oleh Hamzah dalam Perang Badar.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Hindun sangat membenci Hamzah, dan di antara orang-orang Quraisy lainnya. Hindun adalah wanita yang paling giat dan keras untuk menghasut orang-orang agar mau berperang. Tujuannya semata adalah agar dapat membunuh Hamzah, berapa pun harga yang mesti dia bayar.

Pada awalnya, Hindun memberi pilihan kepada Wahsyi untuk membunuh salah satu dari tiga orang, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Hamzah, atau Ali bin Abi Thalib.

Ternyata Wahsyi sudah memiliki data karakter tentang ketiga nama yang diajukan kepadanya.

Baca Juga: Kisah Sa’id bin ‘Amir, Sahabat Nabi yang Zuhud

Dia pun menjawabnya, “Aku sama sekali tak dapat mendekati Muhammad, karena para sahabatnya lebih dekat kepadanya ketimbang siapa pun lainnya, sementara Ali amat awas di medan pertempuran. Namun, Hamzah terlalu galak, sehingga di saat bertempur, dia tak memerhatikan ke sisi lain, dan mungkin aku dapat menjatuhkannya dengan suatu muslihat atau menyergapnya ketika lengah.”

Janji Hindun binti Utbah

Wahsyi yang merupakan mantan prajurit di negeri asalnya sudah mampu membuat analisis tentang kondisi lawan-lawannya nanti. Maka tercapailah suatu kesepakatan, bahwa yang akan dibunuhnya adalah Hamzah. Hindun sendiri menjanjikan kemerdekaan kepadanya jika misi ini dapat tercapai.

Berhari-hari lamanya Hindun kemudian tidak melakukan pekerjaan lain, kecuali menggembleng dan menghasut Wahsyi serta menumpahkan sumpah serapah dan kebenciannya kepada Hamzah, dan juga merencanakan peranan yang akan dimainkan oleh Wahsyi.

Baca Juga: Al-Miqdad bin Amr Kesatria Berkuda Pertama di Awal Islam

Selain menjanjikan kemerdekaan, dia juga menjanjikan akan memberinya kekayaan dan perhiasan yang paling berharga milik wanita seperti dirinya.

Sementara dia berbicara, jari-jarinya yang penuh kebencian memegang anting-anting permata yang bernilai tinggi dan kalung emas yang terlilit pada lehernya.

Lalu dengan kedua matanya yang memancarkan semangat, dia berkata kepada Wahsyi, “Jika engkau dapat membunuh Hamzah, maka semua ini akan menjadi milikmu!”

Bagaimanapun Wahsyi juga menjadi tergiur karenanya, dan angan-angannya pun terbang melayang dipenuhi kerinduan ingin cepat bertemu dengan peperangan yang akan datang itu.

Baca Juga: Mu’adz bin Jabal, Sahabat Nabi yang Paling Mengetahui Halal dan Haram

Dia membayang-bayangkan bagaimana lembingnya dapat menembus tubuh Hamzah sehingga dia pun tidak menjadi budak lagi. Begitu pula dia ingin segera memiliki perhiasan-perhiasan yang selama ini menghiasi leher dan jemari istri pemimpin dan putri tokoh Quraisy tersebut.

Hari demi hari terus berjalan, dan waktu peperangan semakin dekat, Washyi pun mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke medan perang.

Cerita Wahsyi

Di masa keislamannya yang suram karena dia terkucilkan, Wahsyi bercerita, ketika Rasulullah menakhlukkan Makkah, ia kabur ke Thaif.

Baca Juga: Shuhaib bin Sinan ar-Rumi: Sahabat Nabi yang Rela Kehilangan Harta demi Hijrah

Namun, ketika utusan Thaif justru keluar untuk masuk Islam, Wahsyi merasa sangat khawatir atas keselamatannya.

“Aku pergi ke Syam, Yaman, dan negara-negara yang lain. Demi Allah Azza wa Jalla, sesungguhnya ketika itu aku sangat takut. Tiba-tiba ada seseorang berkata: ‘Demi Allah Azza wa Jalla, jika Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hendak membunuh seseorang, orang itu segera masuk ke dalam agamanya (agar selamat),” kisah Wahsyi kepada sahabat yang memintanya bercerita.

Wahsyi kemudian keluar dari persembunyiannya dan pergi menuju Madinah untuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian bertanya, “Apakah engkau Wahsyi?”

Baca Juga: Sa’d bin Abi Waqqash, Panglima Perang Qadisiyah yang Mengguncang Kekaisaran Persia

Wahsyi menjawab, “Ya.”

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata, “Duduklah dan ceritakan bagaimana engkau membunuh Hamzah.”

Lalu Wahsyi pun menceritakannya.

Dahulu aku adalah budak Jubair bin Muth`im. Pamannya yang bernama Thuaimah bin Adi terbunuh di perang Badar (dibunuh oleh Hamzah Radhiyallahu ‘anhu). Majikanku (Jubair) berkata kepadaku, “Jika engkau berhasil membunuh Hamzah, maka engkau akan bebas.”

Baca Juga: Abdullah bin Umar: Pribadi Tangguh Banyak Meriwayatkan Hadits

Aku dahulu adalah ahli tombak, sedikit sekali lemparan tombakku yang tidak mengenai sasaran. Aku keluar bersama beberapa orang (di Perang Uhud). Ketika mereka (pasukan) telah bertemu, aku pun mengambil tombakku dan keluar hingga melihat Hamzah Radhiyallahu ‘anhu ada di antara orang banyak. Ia seperti unta yang berwarna keabu-abuan. Ia mengancam orang-orang dengan pedangnya dan tidak pernah melepaskan pedangnya. Demi Allah Azza wa Jalla, sesungguhnya aku telah bersiap-siap (bertarung) dengannya, dan tiba-tiba aku didahului as-Siba bin Abdul Uzza al-Khuzai. Tatkala Hamzah Radhiyallahu ‘anhu melihatnya, Hamzah berkata, “Kemarilah wahai anak wanita tukang khitan.” Kemudian dia dipenggal oleh Hamzah Radhiyallahu ‘anhu. Demi Allah Azza wa Jalla, tidak luput sabetan pada kepalanya. Aku tidak melihat sesuatu yang lebih cepat dari jatuhnya kepalanya. Kemudian aku pun menggerakkan tombakku, dan ketika telah benar-benar yakin, aku pun melemparkannya. Lemparanku tepat mengenai perut bagian bawahnya, hingga tembus ke antara kedua kakinya. Ia pun pergi untuk bangkit, akan tetapi tidak kuat. Kemudian aku menunggunya hingga mati, setelah itu aku berdiri di hadapannya. Aku ambil tombakku dan kemudian kembali ke pasukan dan duduk.

Mendengar cerita Wahsyi, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata, “Celaka engkau, menyingkirlah dariku. Janganlah engkau muncul di hadapan kami!”

“Itu menunjukkan kecintaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada pamannya, Hamzah Radhiyallahu ‘anhu. Aku pun menjauh dari beliau hingga beliau meninggal dunia.”

Maka, setelah masuk Islamnya dan bertemu dengan Rasulullah, Wahsyi tidak pernah muncul di tempat yang memungkinkan Rasulullah dapat melihatnya, meskipun ia sudah menjadi bagian dari kaum Muslimin. []

Baca Juga: Bilal bin Rabah: Kisah Teguh Sahabat Nabi yang Tetap Mengucapkan “Ahad…Ahad” Saat Disiksa

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Kolom
Dunia Islam
Viral di Medsos, Bendera Palestina Berkibar di Tribun saat Swedia vs Tunisia
Kolom
MINA Sport
Internasional
Info MINA
Indonesia