Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Abbas bin Abdul Muththalib, Paman Tersayang dan Intelijen Nabi di Makkah

Rudi Hendrik Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 13 Maret 2026 - 19:18 WIB

Jumat, 13 Maret 2026 - 19:18 WIB

138 Views ㅤ

Ilustrasi: seorang lelaki Arab memberikan minum kepada jamaah hajid di Kabah al-Haram di Makkah pada zaman jahiliyah. (Gambar: Dreamina)

DEMI menjaga kestabilan dan keselamatan orang-orang Muslim di masa Makkah dan setelah hijrah, Abbas bin Abdul-Muththalib menjadi salah satu intelijen penting bagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Abbas adalah paman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Nama panggilannya Abu Fadhel. Ia termasuk pemuka Quraisy, baik semasa jahililiyah maupun setelah Islam. Ia memeluk Islam sebelum Hijrah secara diam-diam dan tetap berdiam di Makkah guna dapat mengirimkan berita tentang kaum musryikin kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Abu Rafi’, pembantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberi kesaksian, “Pada waktu itu, ketika aku masih kanak-kanak, aku menjadi pembantu di rumah Abbas bin Abdul Muththalib. Ternyata, pada waktu itu, Islam sudah masuk ke dalam rumah tangganya. baik Abbas maupun Ummul Fadhal, keduanya sudah masuk Islam. Akan tetapi, Abbas takut kaumnya mengetahui dan terpecah-belah, lalu ia menyembunyikan keislamannya.”

Keturunan dari Abbas-lah yang menjadi golongan khalifah yang dikenal dengan nama Bani Abbasiyah yang pernah berkuasa di Baghdad, Irak.

Baca Juga: Hamzah bin Abdul Muthalib: Sayyidus Syuhada yang Gugur di Uhud

Menurut beberapa literatur sejarah, Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim dilahirkan tahun 566, tiga tahun sebelum kedatangan Pasukan Gajah yang hendak menghancurkan Baitullah di Mekkah (beberapa tahun sebelum keponakannya Muhammad, dan merupakan saudara termuda ayahnya Muhammad).

Ibu Abbas, Natilah binti Khabbab bin Kulaib, adalah wanita Arab pertama yang mengenakan kelambu atau penutup sutra pada Baitullah al-Haram.

Pada waktu Abbas masih anak-anak, ia pernah hilang. Sang ibu lalu bernazar, kalau putranya itu ditemukan, ia akan mengenakan kelambu sutra pada Baitullah. Tak lama antaranya, Abbas ditemukan, maka iapun menepati nazarya itu.

Abbas bin Abdul Muthalib menikah dengan Ummul Fadhal atau Ummu al-Fadhl Lubab. Ummu Fadlh diklaim sebagai wanita kedua yang memeluk Islam, pada hari yang sama dengan sahabatnya Khadijah. Bersama istrinya tersebut, Abbas bin Abdul Muthalib memiliki 5 orang keturunan yakni:

Baca Juga: Kisah Sa’id bin ‘Amir, Sahabat Nabi yang Zuhud

  1. Abdullah bin Abbas, yang kerap disebut pula Ibnu Abbas. Dia pernah menjadi gubernur di Basrah pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dia meninggal dan dikuburkan di Thaif, Arab Saudi.
  2. Ubaidillah bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Yaman pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Madinah.
  3. Fahdl bin Abbas, dikuburkan di Syam.
  4. Qutsam bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Bahrain pada masa Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Samarkand
  5. Ma’bad bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Makkah pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Afrika

Pesan Abbas di Baiat Aqaba

Dalam pertemuan peristiwa Baiat Aqaba, Abbas memberikan sambutan pertama dengan mengingatkan orang-orang Yastrib (Madinah) untuk tidak membiarkan Rasulullah menderita, sebab di Makkah ia hidup dalam kemuliaan dan perlindungan.

“Wahai Khazraj, sesungguhnya Muhammad di antara kami memiliki kedudukan sebagaimana yang telah kalian ketahui. Kami membela dan melindunginya dari kaumnya yang memiliki keyakinan seperti kami. Di tengah kaumnya ia mendapat kemuliaan, dan di negerinya sendiri ia mendapat perlindungan. Dan sekarang, ia memilih untuk bergabung dengan kalian,” kata Abbas.

“Jika kalian memang berniat untuk memenuhi janji kepadanya dan melindunginya dari orang yang memusuhinya, kalian dapat membawanya ke negeri kalian. Namun, jika kalian akan menghinakannya setelah ia bergabung dengan kalian, maka dari saat ini juga aku meminta kalian untuk meninggalkannya, karena sesungguhnya ia berada dalam kemuliaan dan perlindungan kaumnya dan negerinya,” lanjutnya.

Baca Juga: Al-Miqdad bin Amr Kesatria Berkuda Pertama di Awal Islam

Kemudian Rasulullah memulai dengan membaca Al-Qur’an, berdoa kepada Allah, menyeru semua orang yang hadir di sana untuk beriman kepada-Nya, dan mengajak mereka untuk memeluk agama Islam. Setelah itu Rasulullah bersabda, “Aku menerima baiat kalian agar kalian melindungiku seperti kalian melindungi istri dan anak-anak kalian.”

Mereka bertanya, “Apa yang akan kami dapatkan jika kami memenuhi janji kami, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab tegas, “Surga.”

Paman yang paling akrab

Baca Juga: Mu’adz bin Jabal, Sahabat Nabi yang Paling Mengetahui Halal dan Haram

Abbas bin Abdul Muthalib sempat mengikuti perang Hunain bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menjadi sosok pertahanan yang paling kuat. Ia ikut rombongan Anshar dalam Baiat Aqabah.

Ia adalah paman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan salah seorang yang paling akrab di hati Rasulullah dan yang paling dicintainya. Karena itu, beliau senantiasa berkata menegaskan, “Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas sama dengan menyakitiku.”

Di zaman Jahiliah, Abbas bin Abdul Muthalib mengurus kemakmuran Masjidil Haram dan melayani minuman para jamaah haji. Seperti halnya ia akrab di hati Rasulullah, Rasulullah pun dekat dengannya. Ia pemah menjadi pembantu dan penasihat utama Rasulullah dalam Baiat Aqabah menghadapi kaum Anshar dari Madinah.

Abbas bin Abdul-Muththalib wafat tahun 653 M dan dimakamkan di Pemakaman al-Baqi di Madinah. []

Baca Juga: Shuhaib bin Sinan ar-Rumi: Sahabat Nabi yang Rela Kehilangan Harta demi Hijrah

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Kolom
Hikmah
Tausiyah