SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iran Siap Jadi Mediator Antara Saudi-Yaman, Tolak Tuduhan Keterlibatan

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:24 WIB

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:24 WIB

18 Views ㅤ

Peta kawasan Arab Saudi, Yaman dan Iran. (Dreams Time)

Teheran, MINA – Iran siap menggunakan kapasitas diplomatiknya untuk memediasi konflik antara Arab Saudi dan Yaman, jika kedua belah pihak memintanya, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei.

Teheran juga dengan tegas menolak tuduhan bahwa Teheran berperan dalam operasi balasan Yaman. Laporan Press TV, Jumat (16/10).

Berbicara kepada wartawan, Baghaei menguraikan posisi Iran mengenai konflik Saudi-Yaman dan menegaskan kembali sikap prinsipil Teheran bahwa perselisihan harus diselesaikan melalui dialog dan diplomasi.

“Iran selalu siap untuk membantu mengakhiri konflik, dan tetap siap menggunakan seluruh kapasitasnya untuk tujuan ini jika diminta oleh kedua belah pihak,” ujarnya.

Baca Juga: Irak Luncurkan Stasiun Bumi Satelit Pertama di Baghdad, Menuju Kedaulatan Digital

Merujuk pada sejarah perang antara Arab Saudi dan Yaman, Baghaei mengatakan perkembangan selama 12 tahun terakhir telah menunjukkan bahwa intervensi asing, agresi militer, dan blokade bukanlah solusi atas masalah Yaman.

“Selama lebih dari satu dekade, rakyat Yaman telah menolak blokade udara dan laut negara tersebut dan dengan sabar menanggung konsekuensi blokade tidak adil ini, yang dirancang oleh aktor dari luar kawasan, khususnya Inggris dan Amerika Serikat,” katanya.

Baghaei mengatakan negara-negara regional dan dunia Islam yang lebih luas diharapkan melakukan upaya serius untuk mengakhiri situasi ini.

Ia juga menolak tuduhan dari pejabat Kementerian Luar Negeri Saudi bahwa Iran telah mendorong warga Yaman untuk menyerang Arab Saudi.

Baca Juga: Iran Tunjuk Menteri Pertahanan Baru di Tengah Ancaman Konfrontasi AS-Israel

“Iran menolak klaim apapun terkait perannya dalam operasi Yaman,” kata Baghaei, dan menekankan bahwa penyelesaian masalah Yaman memerlukan penghormatan terhadap kedaulatan nasional dan integritas wilayah negara tersebut, mengakhiri semua campur tangan dalam urusan dalam negeri, dan yang terpenting, pencabutan blokade udara dan laut.

Baghaei mengatakan angkatan bersenjata Yaman bertindak sesuai dengan kepentingan dan penilaian mereka sendiri. Sementara itu, ia menambahkan bahwa Iran tidak menganggap eskalasi ketegangan sebagai kepentingan pihak manapun.

Belum Ada Respons Positif

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh mengatakan kepada Al Mayadeen bahwa Teheran telah menawarkan bantuan kepada Arab Saudi untuk memediasi perselisihan tersebut, namun belum menerima respons positif.

Baca Juga: Qatar Siapkan Pakta Pertahanan Baru untuk Hadapi Rudal, Drone, dan Serangan Siber

“Hari ini, menteri luar negeri kami dan pemerintah kami telah menawarkan segala bentuk bantuan, bantuan mediasi, tentu saja, tetapi sejauh ini kami belum menerima respons positif,” katanya.

Pernyataan tersebut muncul saat angkatan bersenjata Yaman mengatakan pesawat tempur Saudi telah melakukan 101 serangan udara dan rudal terhadap target sipil selama 24 jam terakhir, menyerang ibu kota, Sana’a, serta provinsi al-Dhalea, Taizz, Hudaydah, Dhamar, Marib, Sa’ada, al-Jawf, Amran, dan Lahij.

Dalam sebuah pernyataan, pasukan mengatakan serangan tersebut melibatkan pesawat F-15 dan Typhoon yang lepas landas dari pangkalan udara Khamis Mushait dan Taif, serta serangan rudal yang diluncurkan dari Najran. Mereka mengatakan serangan tersebut telah menewaskan dan melukai warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak.

Pernyataan tersebut menyebutkan total serangan Saudi terhadap Yaman sejak awal eskalasi sebesar 2.489 serangan udara dan serangan rudal.

Baca Juga: Dewan Menlu OKI Desak Penarikan Penuh Pasukan Zionis dari Jalur Gaza

Pemerintahan Sana’a mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi pada 20 Juli, sebagai balasan atas “pengepungan yang tidak adil dan menindas” di Yaman yang telah berlangsung hampir 12 tahun.

Militer Yaman telah melaporkan beberapa operasi sukses yang menargetkan kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi di Laut Merah.

Pada Maret 2015, Arab Saudi dan sekutunya memberlakukan blokade terhadap Yaman dan memulai kampanye militer berskala besar, dengan dukungan dari Amerika Serikat dan berbagai negara Barat dalam hal sumber daya militer, politik, dan logistik.

Konflik ini telah menyebabkan kematian puluhan ribu warga Yaman. Namun demikian, Arab Saudi belum berhasil mencapai tujuannya untuk mengembalikan pemerintahan boneka yang sejalan dengan kepentingannya. []

Baca Juga: Saudi Jamin Keamanan Jamaah Umrah, Kemenhaj Imbau Penerbangan Langsung Madinah-Jeddah

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Timur Tengah
Dunia Islam
Internasional
Internasional