Doha, MINA — Qatar tengah bersiap mengumumkan kemitraan pertahanan baru yang bertujuan menangani ancaman seperti rudal, drone, dan serangan siber.
Isu ini terasa semakin mendesak setelah serangan tahun lalu terhadap fasilitas energi vital negara tersebut.
Langkah ini diungkapkan oleh Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Qatar, Sheikh Saoud bin Abdulrahman Al Thani, dalam forum Global Security Forum di Doha, Senin (19/10). Laporan Newsbytesapp.
Ia menyatakan bahwa Qatar berencana bekerja sama dengan mitra internasional, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis, meskipun detail kerja sama tersebut masih dirahasiakan.
Baca Juga: Irak Luncurkan Satelit Stasiun Bumi Pertama di Baghdad, Menuju Kedaulatan Digital
Melindungi Energi dan Jalur Pelayaran
Kemitraan ini bukan hanya tentang kekuatan militer. Ia juga dirancang untuk melindungi infrastruktur energi vital Qatar dan jalur pelayaran utama seperti Selat Hormuz.
Sebagai salah satu eksportir gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, Qatar sangat bergantung pada keamanan jalur pelayaran di Teluk. Setiap gangguan di Selat Hormuz dapat berdampak langsung pada ekonomi Qatar dan pasar energi global.
Dengan ketegangan regional yang tinggi, terutama dengan Iran yang berada di dekatnya, Qatar berupaya memperkuat pertahanan udara dan keamanan siber. Namun, di saat yang sama, Qatar tetap membuka saluran diplomatik di mana pun diperlukan, sebuah pendekatan khas Doha yang menyeimbangkan pertahanan militer dengan diplomasi.
Baca Juga: Iran Tunjuk Menteri Pertahanan Baru di Tengah Ancaman Konfrontasi AS-Israel
Qatar selama ini dikenal sebagai mediator dalam berbagai konflik regional, termasuk antara AS dan Iran. Langkah ini menunjukkan bahwa Qatar ingin memperkuat pertahanan tanpa menutup pintu dialog. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Dewan Menlu OKI Desak Penarikan Penuh Pasukan Zionis dari Jalur Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic