Jihad Media (Part 1), Oleh: Nurhabibi

Oleh : Nurhabibi, Wartawan MINA Biro Sumatera, Aceh

Pada 2012 lalu, saat Zionis Israel menyerang Gaza, yang menjadi perhatian awak media saat itu, ternyata serangan tersebut tidak hanya melibatkan unsur kekuatan udara dan darat saja, tetapi juga telah melebar ke dunia digital, khususnya media sosial.

Israel dengan akun Twitter @IDFSpokeperson menyerang Hamas dan berusaha mendulang simpati dari masyarakat dunia. Sementara Hamas berusaha mengimbangi dengan akun Twitter @Alqassambrigade.

Menurut pakar media sosial, Nukman Luthfie, sebagaimana dilansir dari laman beritasatu.com, Israel rupanya lebih siap di era perang digital ini. Israel telah sadar bahwa perang di era modern tidak hanya berlangsung di darat, udara, dan laut, tetapi juga di dunia maya. Sehingga Israel sudah mempersiapkan strategi dan senjata digitalnya dengan membentuk ekosistem, konten, dan komunitas sosial media yang terpadu untuk mendukung aksi militernya terhadap Gaza dan menyebarkan kampanye anti-Hamas.

Semua platform sosial media resmi Israel untuk perang berisi propaganda dengan format infografik berbasis data yang kuat. Contohnya website resmi IDF (Israel Defense Forces) yang memiliki widget yang dapat menghitung secara real time jumlah roket yang telah ditembakan Hamas ke Israel. Di YouTube, IDF mengunggah video korban-korban yang jatuh dari pihak Israel, dan di Facebook menampilkan grafik tentang jangkauan roket Hamas.

Unggahan video melalui media sosial tersebut sebenarnya merupakan strategi Israel untuk mencitrakan bahwa mereka tidak punya pilihan lain kecuali perang dengan Palestina. IDF saat itu punya hampir 200.000 followers di Twitter, sementara akun Twitter resmi Hamas, Allqassam Brigade, mempunyai tidak lebih dari 40.000 followers.

Menurut pendiri dan direktur lembaga riset media sosial PoliticaWave, Yose Rizal, “Israel sudah menyiapkan strategi digital yang dikomunikasikan melalui aset-aset digitalnya, seperti Twitter, Facebook, YouTube, dan website.”

Komunikasi digital yang dilakukan oleh @IDFSpokeperson bertujuan untuk menjustifikasi invasi mereka ke jalur Gaza, sementara komunikasi dari @Alqassambrigade lebih menceritakan update kondisi yang terjadi.

Tetapi kampanye digital terpadu yang dilancarkan Israel, menurut Yose, tidak serta-merta menguntungkan Israel. Menurut dia banyak juga akun di dunia maya yang membantu perjuangan Palestina di dunia digital. Jadi percakapan dan sentimen yang terjadi lebih banyak membela perjuangan Palestina.

Menurut Yose, salah satu cara konkret untuk membantu warga Palestina di Gaza adalah dengan ikut terlibat dalam “perang digital” melawan Israel, meredam propaganda perang digital Israel.

Meski demikian, menurut Yose jika ingin me-retweet tentang agresi Israel maka harus mencari sumber terpercaya agar tidak “me-retweet sampah”. Yose menganjurkan jika ingin membantu perjuangan Palestina di dunia digital bisa dilakukan dengan memfollow akun @Alqassambrigade dan me-retweet informasi mereka, dengan beberapa tagar seperti #Gaza, #GazaUnderAttack, #Palestine, dan #IsraeliTerrorism. Dengan demikian pesan dan kondisi Gaza dapat viral secara cepat dan luas.

Media memiliki peran yang sangat penting dalam menyiarkan pemberitaan. Berapa banyak kejadian besar yang tersembunyikan, karena tidak adanya media yang meliput. Berapa banyak kejahatan yang dilakukan oleh penndudukan Israel namun tidak sampai kepada tahap pemberitaan. Oleh sebab itu, khalayak umum tidak mengetahui apa yang tengah terjadi sehingga tidak memiliki perhatian terhadap nasib Bangsa Palestina.

Media ibarat senjata dalam berjuang di era modern. Semakin canggihnya fasilitas di dunia saat ini, sesungguhnya memudahkan berbagai pihak dalam menyebarkan pemberitaan. Berbagai kasus kezaliman seyogyanya dapat segera dituntaskan. Namun, permasalahannya sedikit sekali orang yang ingin memberitakan kezaliman itu. Masyarakat masih terfokus kepada media utama yang banyak dikuasai oleh pihak Barat, terutama Israel (bersambung).

(A/B07/R12/P1).

Mi’raj News Agency (MINA).