Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jilbab yang Mengecil, Hati yang Membesar pada Dunia

Bahron Ansori Editor : Rudi Hendrik - Rabu, 24 Desember 2025 - 12:24 WIB

Rabu, 24 Desember 2025 - 12:24 WIB

26 Views

Memanjangkan jilbab mungkin terasa berat hari ini, tapi bisa jadi itulah langkah kecil yang menyelamatkan di akhirat nanti. Mengurangi tabarruj mungkin terasa tidak nyaman, tapi bukankah surga memang tidak pernah murah? (Gambar: ig)

ADA satu pemandangan yang kian hari terasa semakin biasa, padahal seharusnya membuat hati kita terusik. Jilbab masih ada di kepala, tetapi kian mengecil. Kainnya semakin pendek, semakin tipis, semakin tak mampu lagi menyembunyikan lekuk tubuh. Rambut memang tertutup, tapi dada, pinggul, dan bentuk badan justru berbicara lebih keras. Ini bukan tentang satu dua orang, tapi tentang fenomena yang pelan-pelan menjadi budaya.

Banyak akhwat hari ini tidak merasa sedang melanggar apa pun. Karena jilbab masih dipakai. Karena aurat “katanya” sudah tertutup. Karena semua orang di sekeliling juga begitu. Maka hati pun menjadi tenang, padahal mungkin iman sedang diuji dengan cara yang paling halus: merasa benar saat sebenarnya sedang menjauh dari ruh syariat.

Kita perlu jujur pada diri sendiri. Jilbab bukan sekadar kain penutup rambut. Ia adalah simbol ketaatan, penjaga kehormatan, dan bentuk ketaqwaan yang tampak. Ketika jilbab mengecil, sering kali bukan hanya ukuran kain yang berkurang, tetapi juga rasa takut kepada Allah yang pelan-pelan memudar. Bukan hilang seketika, tapi bergeser, tergeser oleh standar dunia.

Hari ini, banyak akhwat lebih takut dianggap tidak modis daripada dianggap melanggar batas Allah. Lebih khawatir dicap “kuno” daripada dicatat malaikat sebagai hamba yang taat. Maka jilbab pun disesuaikan dengan selera pasar, bukan lagi tuntunan syariat. Yang penting cantik di mata manusia, meski belum tentu aman di hadapan Allah.

Baca Juga: Perempuan Tadarus Al-Qur’an Pakai Speaker, Apakah Boleh?

Tak sedikit yang berkata, “Yang penting hatinya baik.” Kalimat ini terdengar menenangkan, tapi sering kali menjadi tameng untuk menolak nasihat. Padahal hati yang baik akan mendorong tubuh untuk taat, bukan sebaliknya. Jika hati benar-benar tunduk, maka ia akan merasa risih ketika auratnya mengundang pandangan. Ia akan gelisah saat lekuk tubuhnya menjadi konsumsi mata yang bukan mahram.

Ironisnya, banyak akhwat justru merasa lebih percaya diri saat diperhatikan. Ada kebanggaan terselubung ketika dipuji cantik, modis, atau “body goals”. Padahal rasa percaya diri yang dibangun dari pujian manusia adalah kepercayaan diri yang rapuh. Ia akan runtuh saat pujian itu berhenti, dan berubah menjadi kecemasan yang tak berujung.

Jilbab yang seharusnya menjadi pelindung, kini justru menjadi hiasan. Ia tidak lagi berfungsi menutup, tapi menonjolkan. Tidak lagi meredam, tapi menarik perhatian. Di sinilah masalahnya bukan sekadar soal kain, tapi soal arah hati. Ketika hati semakin mencintai dunia, penilaian manusia menjadi lebih penting daripada ridha Allah.

Tulisan ini bukan untuk menghakimi. Setiap akhwat punya perjalanan iman masing-masing. Namun mencintai sesama saudari berarti berani saling mengingatkan. Karena membiarkan kesalahan yang terus dinormalisasi bukanlah bentuk kasih sayang, melainkan pembiaran yang berbahaya.

Baca Juga: Emak-Emak Mencicipi Masakan di Saat Puasa, Bolehkah?

Cobalah bertanya pada diri sendiri dengan jujur: apakah jilbab yang kita pakai hari ini membuat kita lebih dekat kepada Allah, atau justru lebih sibuk menjaga citra di hadapan manusia? Apakah pakaian kita menenangkan hati orang tua, atau malah menambah kekhawatiran mereka? Apakah ia membantu menjaga pandangan kaum lelaki, atau justru menjadi sebab fitnah?

Perubahan jarang terjadi karena nasihat yang keras. Tapi sering lahir dari kejujuran yang lembut. Dari keberanian bercermin, lalu mengakui bahwa mungkin kita sedang terlalu longgar pada diri sendiri. Bahwa mungkin kita sedang lebih sibuk mempercantik tampilan luar, sementara iman di dalam butuh perhatian yang lebih besar.

Allah tidak menuntut kesempurnaan seketika. Tapi Allah mencintai hamba yang mau memperbaiki diri, sedikit demi sedikit. Memanjangkan jilbab mungkin terasa berat hari ini, tapi bisa jadi itulah langkah kecil yang menyelamatkan di akhirat nanti. Mengurangi tabarruj mungkin terasa tidak nyaman, tapi bukankah surga memang tidak pernah murah?

Jilbab yang membesar bukan tanda kemunduran, tapi tanda keberanian melawan arus. Tanda bahwa seorang akhwat memilih Allah di atas dunia. Dan hati yang kembali mengecil dari cinta dunia justru akan membesar dalam ketenangan, kemuliaan, dan keberkahan.

Baca Juga: Awas Jangan Salah Beli! Kenali 6 Ciri Kurma Israel

Karena pada akhirnya, kecantikan sejati bukan pada seberapa banyak mata yang memandang, tapi pada seberapa besar rasa takut kita kepada Allah. Dan jilbab, jika dipakai dengan benar, bukan penjara bagi perempuan—melainkan mahkota kehormatan yang mengangkat derajatnya.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Ramadhan bagi Ibu Menyusui, Sebaiknya Puasa atau Tidak?

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Tausiyah
Tausiyah
Tausiyah
Tausiyah