Jepang Tambah Proyek Bantuan Pengolahan Air Limbah di Indonesia

Jakarta, MINA – Duta Besar Jepang untuk Republik Indonesia, Masafumi Ishi dan Direktur Eksekutif Asian People’s Exchange (APEX), Dr. Nao Tanaka pada Rabu (27/2) kembali menandatangani kontrak kerjasama proyek distribusi IPAL komunal atau bantuan alat pengolahan limbah air untuk Indonesia dari Lembaga Sosial Masyarakat Jepang.

Tahun ini merupakan kali ketiga secara beruntun kerjasama ini dilakukan, dalam rangka menanggulangi masalah sanitasi dan pencemaran air di Indonesia yang  hingga saat ini masih memprihatinkan.

Dubes Ishi menanggapi kerjasama tersebut secara positif. “Saya sangat gembira dengan kerjasama ini. Semoga proyek ini tepat guna untuk masyarakat Indonesia,” ujar Dubes Ishi usai upacara penandatanganan kerjasama distribusi IPAL komunal di Kedutaan Besar Jepang, Jakarta.

Selama ini penggunaan septik tank tidak sesuai dengan perkotaan, sedangkan proyek IPAL tersentralisasi berskala besar membutuhkan investasi besar.

Maka sanitasi berbasis masyarakat terutama IPAL komunal diharapkan memegang peranan sangat penting bagi solusi realitas dan praktinya.

Namun, proses anaerobik dalam IPAL komunal yang selama ini diterapkan di Indonesia juga belum menghasilkan air olahan yang maksimal dan terkadang masih bau. Sedangkan proses aerobik yang biasa dipakai di negara maju kualitasnya sudah baik, walaupun pemakaian listriknya lebih besar.

Menanggapi hal tersebut, tahun ini APEX akan menggunakan sistem kombinasi anaerobik dan aerobik yang akan mewujudkan IPAL komunal yang kualitas air olahan baik dan hemat listrik.

“Dengan memanfaatkan teknologi Rotating Biological Contactors (RBC) (dalam kombinasi tersebut), pengoperasian juga lebih mudah dan kualitas (air olahan) bagus dan hemat energi,” jelas Dr. Tanaka.

Selama dua tahun terakhir sudah 39 proyek IPAL komunal dibangun yang tersebar di daerah Pulau Jawa, dan untuk tahun ini, Dr. Tanaka mengatakan akan ada 15 proyek lagi yang didanai oleh Pemerintah Jepang.

“Tahun lalu juga ada 15 proyek bertambah jadi 17, karena masyarakat menginginkan dan yang dua menggunakan uang mereka sendiri,” jelas Dr. Tanaka yang secara fasih berbicara bahasa Indonesia.

Menurutnya, proyek ini tidak hanya terbatas di Pulau Jawa saja, namun daerah mana saja yang menginginkan akan diprioritaskan.

Proyek ini juga menandai 60 tahun kerjasama bilateral antara Indonesia dan Jepang yang selama ini berjalan dengan baik. (L/Sj/RS10/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)