Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kapal Malaysia dan Singapura Diizinkan Melintasi Selat Hormuz

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Ahad, 29 Maret 2026 - 07:45 WIB

Ahad, 29 Maret 2026 - 07:45 WIB

25 Views ㅤ

Kapal minyak di selat Hormuz (foto: X)

Teheran, MINA – Pemerintah Iran secara resmi memberikan jaminan keamanan bagi kapal-kapal tanker milik dua negara tetangga Indonesia, Malaysia dan Singapura, untuk melintasi Selat Hormuz.

Keputusan itu muncul di tengah ketegangan tinggi di perairan Teluk, di mana Teheran memperketat pengawasan terhadap lalu lintas maritim internasional sebagai respons atas meningkatnya kehadiran militer asing di kawasan tersebut. Farsnews melaporkan, Ahad (29/3).

Langkah Iran memberikan “lampu hijau” ini dipandang sebagai bentuk pengakuan terhadap posisi diplomatik Kuala Lumpur dan Singapura yang dinilai lebih netral dalam pusaran konflik Timur Tengah.

Bagi Malaysia, jaminan ini sangat krusial mengingat ketergantungan sektor energinya pada pasokan minyak mentah dari kawasan Teluk. Sementara bagi Singapura, izin ini memastikan kelancaran aktivitas transshipment di pelabuhan mereka yang merupakan salah satu yang tersibuk di dunia.

Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya

Kelonggaran yang diberikan Teheran merupakan hasil dari komunikasi diplomatik yang intensif guna mencegah krisis pasokan energi di Asia Tenggara.

Iran menegaskan bahwa kerja sama ini didasarkan pada prinsip saling menghormati kedaulatan, dengan syarat kapal-kapal tersebut mematuhi protokol keamanan laut yang ditetapkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) saat melewati titik sempit yang memisahkan Teluk Persia dan Teluk Oman tersebut.

Pengecualian bagi Malaysia dan Singapura dapat memicu pergeseran peta logistik energi di kawasan Asia.

Data menunjukkan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur bagi hampir sepertiga pengiriman minyak dunia lewat laut. Kepastian akses bagi dua negara anggota ASEAN ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga energi regional di tengah fluktuasi pasar global yang tidak menentu.

Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa

Kebijakan ini juga menjadi pesan politik bagi negara-negara Barat bahwa Iran tetap memiliki kendali penuh atas navigasi di Selat Hormuz. Teheran menggunakan otoritas geografisnya untuk membedakan antara negara yang kooperatif dengan negara yang dianggap mendukung agresi militer asing.

Situasi ini menuntut Indonesia untuk turut memperkuat posisi tawar diplomatiknya agar kepentingan energi nasional tetap terlindungi dari dampak blokade maritim.

Meskipun izin telah diberikan, pengawasan ketat terhadap setiap kapal yang melintas diprediksi akan terus berlanjut seiring belum meredanya tensi antara Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya.

Keberhasilan Malaysia dan Singapura dalam mengamankan jalur ini menjadi pelajaran penting bagi diplomasi maritim regional, bahwa menjaga jarak aman dari polarisasi kekuatan global adalah kunci dalam mengamankan kepentingan ekonomi nasional di wilayah konflik. []

Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda