Kekuatan Ekonomi Umat Dalam Mewujudkan Khoiru Ummah (Bagian Akhir)

Oleh: Dr. Legisan Samtafsir M.Ag.; Pendiri Rumah Al-Balad

Kedua, ibadah yang berkemajuan. Anggapan bahwa surga dicapai dengan menghitung-hitung pahala ubudiyyah, bisa membuat tujuan ubudiyyah menjadi sempit. Padahal tujuan yang sebenarnya dari semua ubudiyyah adalah untuk menjadikan insan bertaqwa, suatu kualitas manusia yang berkemajuan dan pemimpin peradaban. Ubudiyyah bukan untuk menjauhkan kita dari urusan ekonomi, politik, kebudayaan, Pendidikan dan
tatanan social. Ubudiyyah sebaliknya memberi kita kekuatan untuk mampu melaksanakan pembangunan itu tercapai sempurna.

Allah mengajarkan kita bahwa ‘sholat akan mencegah perbuatan keji dan munkar’. Artinya dengan sholat semua yang buruk dan keji akan tercegah.

Kalau yang buruk dan keji sudah tercegah, maka yang harus subur adalah yang baik dan mulianya. Ibarat bertanam padi, sholat itu menghilangkan tikusnya; kalau tikusnya hilang maka akan suburlah padinya. Artinya jangan
Cuma menghilangkan tikusnya, tapi juga suburkanlah padinya. Jangan sampai kita hanya menghilangkan tikusnya, tapi tidak menanam padinya, akhirnya tikus hilang tapi kita tidak mendapat hasil apa-apa.

Ibadah yang berkemajuan adalah ibadah yang dikerjakan dalam rangka menguatkan diri kita untuk mampu dan sempurna dalam melaksanakan tugas membangun ekonomi yang adil dan maju, pendidikan yang berkualitas
dunia, tatanan social yang sejahtera dan damai, kebudayaan yang beradab, teknologi dan peradaban yang manusiawi dan bermartabat. Oleh karena ibadah wajib berjamaah, maka berjuang membangun umat dan bangsa pun wajib berjamaah. Sholat harus diimami oleh figure yang mumtaz, maka membangun bangsa pun harus dipimpin oleh figure yang terbaik; jangan malah dipimpin oleh orang yang gak mampu, plonga plongo, lelet, yang tiada daya tiada upaya.

Maka kemajuan Umat dan bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang ubudiyahnya tinggi, tetapi muamalahnya mumtaz. Pemimpin yang mampu menghilangkan yang keji dan munkar, tapi juga mampu membangun manusia yang manusiawi (berperikemanusiaan), yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, tanpa memandang ras, warna kulit, suku dan bahkan agama. Pemimpin manusiawi yang menghargai kemerdekaan sejati manusia, yang menolak segala bentuk tirani dan penjajahan (kolonialisme), baik fisik maupun kebudayaan, baik langsung maupun tidak langsung.

Pemimpin humanis yang mampu mengupayakan kemerdekaan sejati dan perdamaian abadi seluruh umat manusia sedunia.

Ketiga, berinfaq kemampuan yang terbaik. Secara tidak disadari Umat Islam dan rakyat Indonesia saat ini menjadi bangsa yang terpinggirkan (periphery) di tengah penguasaan dunia yang bebas (liberal). Umat Islam di dunia banyak, hampir 2 miliar (20% dari penduduk dunia). Tapi produktivitasnya hanya 6% dari GDP dunia. Sangat rendah. Masyarakat dunia menuduh dan menyerang kaum muslimin sebagai penyebab keterbelakangan, penyebab terorisme, ekstrimisme; opini Islamophobia (Islam sebagai ancaman) terus digemborkan, untuk melemahkan kekuatan Islam. Di antara yang mengaku Muslim, ada juga yang dijadikan alat untuk menggembosi dari dalam; mereka kaum munafikun dan para pengkhianat, yang menghancurkan Islam dari dalam tubuh Umat Islam.

Dalam keadaan begitu, Umat Islam menjadi salah tingkah, lemah dan rentan untuk dipecah. Orientasi perjuangan Umat Islam menjadi bergeser untuk tujuan ukhrawi. Sumber-sumber produktif untuk kemajuan Umat Islam dikuasai oleh pihak musuh-musuh Islam. Umat Islam menjadi tidak punya apa-apa. Kita ramai tapi tidak lemah, seperti buih tampak banyak tapi tak berdaya. Coba lihat, kita ramai berkumpul di Masjid, di lapangan, di majelis- majelis ta’lim, tapi minumannya dibuat oleh Yahudi, motor dan mobilnya dibuat oleh Confucian Jepang, HP-nya dibuat oleh Confucian Korea, kedelai untuk tempe dan tahunya diimpor, lauk ayamnya dibuat oleh
perusahaan asing non muslim.

Hampir semua barang-barang perkakas dibuat oleh tangan-tangan perusahaan Nonmuslim dan asing. Ke mana Umat Islam dan bangsa Indonesianya? Mereka tenggelam dalam lautan konsumeris dan hedonis ketika bergelimang harta; mereka menjadi oportunis ketika bergulat dalam kekuasaan; mereka pragmatis tanpa prinsip; sedekah dan ZISWAF mereka hanya untuk tujuan pahala dan menggugurkan kewajiban tapi tidak dipergunakan sebagai sumber modal kerja untuk pertumbuhan dan kemajuan berkesinambungan.

Oleh karena itu Umat Islam dan Bangsa Indonesia harus bangkit. Kita Umat Islam harus melepaskan semua kemampuan terbaik kita untuk memajukan ekonomi dan social politik kita. Pemimpin yang kita pilih haruslah figur yang nasionalis sejati, yang mencintai tanah air, bangsa dan negara; yang berkehendak dan mampu melindungi segenap rakyat dan tumpah darah Indonesia. Pemimpin Indonesia haruslah yang mampu berdiri dan berpihak kepada rakyat dan bangsa Indonesia, yang mampu memberi perlindungan domestic dari kekuatan asing yang destruktif, dan memberikan pelayanan yang mengutamakan rakyat. Pemimpin Indonesia haruslah yang patriotik dan berjiwa kebangsaan, yang mampu menyatukan dan membangkitkan jiwa kebangsaan seluruh rakyat, mampu mengarusutamakan rakyat Indonesia (Bumiputera).

Keempat, demokratis dan berkerakyatan. Kita harus menghargai setiap individu, semata-mata karena setiap invidu itu adalah khalifah Allah. Maka kita harus dalam suasana inklusif, yang memberi kesempatan kepada setiap
individu untuk berpartisipasi aktif dalam kemajuan. Dilarang keras adanya otoritarianisme dan tindakan tirani atas individu. Karena itu Indonesia harus dipimpin oleh figure yang demokratis (mengedepankan syura), yang menghargai kemerdekaan individu untuk ikut berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan.

Secara inklusif, pemimpin Indonesia haruslah yang mampu menghadirkan kemerdekaan bagi seluruh rakyat untuk menyuarakan aspirasinya bagi keselamatan dan kemajuan bangsa Indonesia; memfasilitasi dan menggairahkan peran serta masyarakat dalam laju gerak pembangunan.

Pemimpin Indonesia bukanlah orang yang menggunakan kekuasaan otoriter atau kekuasaan monarki absolut dalam kepemimpinanya, tetapi pemimpin yang menghargai dan mengikuti konstitusi yang diakui sah; yang menegakkan hukum yang adil bagi seluruh rakyat.

Kelima, berkeadilan untuk seluruh rakyat. Pemimpin Indonesia haruslah yang mengupayakan keadilan sejati bagi seluruh rakyat, adil dalam mengakses hasil-hasil pembangunan maupun adil dalam menggunakan resources faktor-faktor produksi. Pemimpin Indonesia haruslah yang mampu melindungi seluruh rakyat dari tindakan sewenang-wenang dan ketidakadilan pihak-pihak domestik maupun asing; menjamin pemanfaatan kekayaan alam Indonesia untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran seluruh rakyat, dan bukan untuk kemakmuran hanya segelintir orang (oligarki).

Keenam, jujur berintegritas. Dalam tindakannya, kita dan pemimpin yang kita butuhkan adalah figure yang bersih, jujur dan memiliki integritas tinggi dan tidak akan mengkhianati tujuan proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Track record pemimpin yang dibutuhkan Indonesia adalah yang tidak pernah terlibat korupsi dan tetap mengupayakan Gerakan anti korupsi.

Ketujuh, egaliter berkelas dunia. Kita dan pemimpin Indonesia haruslah yang berkaliber dunia, cakap, dikenal dan diakui dalam pergaulan dunia; memiliki berbagai perghargaan prestisius atas prestasi kepemimpinanya di
tingkat dunia.

Kedelapan, patriotik berkebangsaan. Karakter kita dan pemimpin yang kita butuhkan adalah yang berjiwa patriotic, rela berkorban demi tanah air dan bangsanya, dan memiliki track record keluarganya yang terbukti dalam
perjuangan membangun dan menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kesembilan, kapabel dan berkelas dunia. Kemampuan kita dan pemimpin yang kita butuhkan adalah yang kapabel dan inklusif, yang memberdayakan dan mendidik masyarakat Indonesia, tanpa memandang ras, suku dan agama. Pengalaman dan kemampuannya mendidik masyarakat, telah diejawantahkan dalam berbagai kegiatan masyarakat, yang merupakan panggilan jiwanya.

Kesepuluh, peduli dan berpihak pada rakyat. Karakter kita dan pemimpin yang kita butuhkan adalah yang peduli pada rakyat, yang telah terbukti berjuang untuk kesejahteraan social ekonomi, pendidikan, kesehatan dan
peran serta aktif masyarakat.

Semoga Allah memberikan kemampuan kepada kita semua. Ekonomi kita dan Bangsa Indonesia akan berjaya jika Umat Islam bersatu, menjadikan jamaahnya sebagai sumber kekuatan ekonomi, sosial dan politik.

Kemampuan kita akan maksimal jika keimanan dan ketaqwaan kita berkemajuan dan produktif; iman yang produktif, ubudiyyah yang berkemajuan, infaq kemampuan (potensi) yang optimal, dan kita dipimpin oleh figur yang jujur dan berintegritas, egaliter dan inklusif, kapabel dan berkelas dunia, patriotic berkebangsaan, peduli dan berpihak pada rakyat.

Itulah super leader Indonesia, dan itu adalah kita semua. Hasbunallahu wani’mal wakil, ni’mal maula wani’man nashiir.(AK/R1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)