Kepemimpinan dan Penegakkan Agama (Oleh: Taufiqurrahman)

Taufiqurrahman, Redaktur MINA Bahasa Arab

Kepemimpinan dalam Islam adalah wasilah, bukan tujuan. Kepemimpinan adalah sarana mewujudkan tujuan-tujuan tertentu yang tidak bisa dicapai kecuali dengan berjama’ah (Al Imamah Al ‘Udhma, 79).

Tujuan-tujuan itu seperti dijelaskan Ibnu Taimiyah rahimahullah adalah:

“Menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Tujuan wajib dari kewilayahan tersebut adalah untuk memperbaiki agama manusia yang bila tujuan itu lepas dari mereka, maka rugilah mereka dengan kerugian nyata dan tidak akan bermanfaat segala apa yang mereka nikmati dari kehidupan dunia. Selain itu wilayah juga bertujuan memperbaiki urusan-urusan dunia yang agama tidak mungkin bisa ditegakkan kecuali dengan urusan dunia mereka.” (Al Hisbah, Ibnu Taimiyah, hlm 14).

Teramat banyak urusan agama ini yang perwujudannya hanya bisa dilakukan dengan tegaknya keImamahan. Diantaranya seperti hudud, ta’zir, jihad serta menumpas kemungkaran dan bid’ah. Secara umum adanya keimamahan dalam Islam bertujuan mewujudkan kemaslahatan umum baik di bidang agama, sosial, pendidikan, ekonomi, keamanan, budaya dan lain-lain.

Semua aspek kemaslahatan di atas tidak mampu diwujudkan secara individual. Hanya dengan berjama’ah kemaslahatan itu dapat dicapai.

Kepemimpinan dan Penegakkan Agama

Setiap muslim wajib melakukan tarbiyah dzatiyah, memperhatikan dan berusaha memperbaiki urusan agamanya. Selain itu secara fardhu kifayah ia turut berperan dalam perbaikan urusan agama orang lain sesuai dengan kapasitas dan bidang keahlian yang Allah karuniakan kepada masing-masing, baik dalam bentuk dakwah, jihad, amar ma’ruf nahi munkar dan bidang-bidang lainnya.

Dalam konteks kepemimpinan, tanggungjawab perbaikan urusan agama Islam ada di tangan Umara secara fardhu ‘ain. Di pundak Umara kewajiban ini lebih besar dan berat dibandingkan di pundak kaum muslimin secara individual. Demikian karena Umara dikauriniai kekuasaan dan kewenangan oleh Allah Ta’ala untuk mewujudkan tujuan mulia itu.

Ibnul Hamam mengatakan, “Penegakkan agama maksudnya adalah menjadikan agama tegak dengan syi’ar-syi’arnya sesuai dengan ketentuan yang Allah perintahkan baik berupa ketaatan yang ikhlas, menghidupkan sunnah dan menumpas bid’ah, sehingga dengan itu hamba mampu mewujudkan perintah Allah Ta’ala.” (Al Musamirah Syarah Al Musayirah fi ‘Ilm al Kalam karya Kamal Ibnul Hamam, hlm 157).

Penegakkan agama dilakukan dengan dua hal (Al Imamah al ‘Udhma, Abdullah Ad Dimainin, hlm 80). Pertama menjaga dan membentengi agama dengan dakwah dan jihad. Kedua menegakkan syariat dengan menerapkan hukum-hukum Islam. Karena sifat syumuliyatul Islam yang mencakupkan urusan-urusan dunia sebagai alat penting bagi terwujudnya maslahah diniyyah, perbaikan kehidupan duniawi umat Islam juga menjadi tanggungjawab Imaam dan Umara.

Demi mewujudkan dua tujuan asas tersebut, para Umara harus berusaha keras dengan segala cara membentangkan jalan bagi kaum Muslimin mempelajari dan mengamalkan agama mereka dan memperbaiki urusan dunia mereka.

Upaya mencapai mashlahah duniawiyah secara luas, berdasarkan nash-nash syar’iyah, tidak akan berhasil tanpa perwujudan mashlahah diniyah. Pun demikian banyak diantara aspek-aspek agama yang hanya bisa diperbaiki melalui perwujudan mashlahah duniawiyah.

Tiga syarat taklif

Risalah kenabian adalah cara Allah menegakkan hujjah untuk dan atas umat manusia. Agar kelak di akhirat tidak ada hambaNya yang berdalih tidak mengibadahiNya di dunia karena tidak sampai padanya seorang Rasul.

{ وَلَوْ أنَآ أھلَكْنَٰھُم بِعَذَابٍ من قَبْلھِمۦ لَقَالوُا۟ رَبَّنَا لَوْلَآ أرْسَلْتَ إلِیْنَا رَسُولًا فَنَتبِعَ ءَایَٰتِكَ مِن قَبْلِ أنَ نذِل وَنَخْزَىٰ }

Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?” (QS Thaha: 134).

Atas dasar itu, harus ada kesadaran kuat dalam diri setiap hamba untuk tahu apa yang menjadi perintah Allah yang wajib ia tunaikan atau laranganNya yang wajib ia jauhi. Kesadaran itu jauh lebih besar di pundak  Umara yang Allah karuniai kekuasaan dan kewenangan yang dengan itu mereka bertanggungjawab memastikan segala akses bagi umat untuk meraih ilmu dan mengamalkannya itu ada. Pun begitu dengan para Ulama dan Da’i yang Allah karuniai bashirah dan hikmah, mereka bertanggungjawab menyampaikan risalah mulia ke setiap orang.

Allah Ta’ala berfirman,

{ قلْ ھَٰذِهِۦ سَبِیلىِٓ أدْعُوٓا۟ إلِى ٱلله عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أنَا۠ وَمَنِ ٱتَبَعَنِي ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱلله وَمَآ أنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِینَ }

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (QS Yusuf: 108)

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits Abdillah bin Amr radhiyallahu anhu bersabda

“بَلِّغُوا عَني وَلَوْ آیَةً، وَحَدثُوا عَنْ بَنِي إسِرَائِیلَ وَلا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَي مُتَعَمدًا فَلْیَتَبَوأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النار”

“Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Israil dan itu tidak apa (dosa). Dan barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka.” (HR Bukhari)

Urgensi ta’lim dan dakwah untuk menegakkan hujjah Allah atas hambaNya semakin jelas pada sifatnya yang merupakan salah satu dari tiga syarat munculnya taklif (pembebanan syariat) pada setiap hamba.

Syeikh Ramadhan Buthi dalam bukunya Al Jihad fil Islam menyebutkan ada tiga syarat yang harus terpenuhi hingga seseorang terbebani syariat (layak ditaklif). Pertama, al i’lam (pemberitahuan) yang merupakan buah dari khitab Allah kepada manusia melalui pengutusan Rasul dan Nabi. Sekiranya bukan karena Khitab Allah, tentu tidak akan muncul pengetahuan pada diri manusia bahwa dirinya mukallaf. Dan sekiranya bukan karena ilmu yang merupakan buah dari i’lam (dakwah dan ta’lim) tentu tidak akan ada konsekuensi yang mendorong manusia terkena taklif.

Kedua, kemampuan menunaikan apa yang ditaklifkan. Baik kemampuan itu dalam bentuk menunaikan perintah atau meninggalkan larangan.

Ketiga, adanya pilihan (kebebasan) untuk memenuhi perintah Allah atau meninggalkannya. (Al Jihad fil Islam, Ramadhan Buthi, hlm 32).

Peran Umara dan Ulama

Berdasarkan tiga syarat taklif di atas, kita menyadari peran penting kita sebagai Umara dan Asatidz. Tidak mungkin Imaam dengan sendirinya mampu menciptakan tiga pra kondisi (syarat) taklif itu tanpa bantuan kita. Kita berkewajiban membantunya membentangkan jalan bagi umat untuk mempelajari Islam serta mampu dan bebas mengamalkannya. Dan jalan itu berupa kebijakan-kebijakan strategis Umara dan Ulama terkait Ta’lim dan Dakwah.

Peran ini, untuk diperhatikan serius, bukan hanya berada di pundak para Umara dan Ulama. Kebijakan-kebijakan pembinaan umat (agama & dunia) dalam bentuk program-program pembinaan akan dapat diwujudkan manakala semua unsur dan elemen kepemimpinan secara berjama’ah (terorganisir) terlibat aktif dan sungguh-sungguh.

Umara dan Ulama harus merasakan kesadaran yang sama akan tanggung jawab besar dan mulia ini. Semuanya beramal berbekal keyakinan yang kuat bahwa pembinaan umat adalah tanggungjawab mereka bersama dan kelak di akhirat Allah akan mempertanyakan amanah berat itu.

عن معقل بن يسار قال: سمعت رسول الله ﷺ يقول: “ما من عبد يسترعيه الله رعية يموت يوم يموت وهو غاش لرعيته إلا حرم الله عليه الجنة متفق عليه.

Dari Ma’qil Bin Yasâr radhiyallahu’anhu berkata, aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba pun yang diberi amanah oleh Allâh untuk memimpin bawahannya yang pada hari kematiannya ia masih berbuat curang atau menipu rakyatnya, melainkan Allâh mengharamkan surga atasnya.” [Muttafaq alaih]

Program-program pembinaan umat khususnya di ranah Ta’lim dan Dakwah merupakan salah satu media bagi Pemimpin dalam mewujudkan tujuan penegakkan agama. Demi mencapai tujuan mulia itu, pelaksanaan program-program tersebut oleh para Umara dan Ulama  harus benar-benar direncanakan dengan rapih, dilaksanakan secara maksimal dan terorganisir, terkontrol dan terawasi, serta terlaporkan dan terevaluasi. Kesadaran akan tanggungjawab besar itu diantaranya dibuktikan dengan kesungguhan dalam menjalankan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, pelaporan dan evaluasi.

Sabar dan Tawakkal

Selalu ada masalah dalam kita menjalankan amanah mewujudkan target dan tujuan. Masalah merupakan bagian dari imtihan dan ikhtibar dari Allah. Jika mengemban amanah adalah salah satu wujud keimanan kita kepada Allah, tentu menjadi sunnahNya perjuangan itu menemui jalan terjal. Ujian itu berfungsi sebagai tamyiz yang mensucikan Jama’ah ini dari orang-orang yang merusak perjuangan. Ujian juga menjadi cara Allah mensucikan jiwa (tamhish) kita dari niat kotor dan segala penyakit hati. Dia juga hendak memperkuat rasa ketergantungan kita kepadaNya dengan ujian itu.

Teramat banyak hikmah untuk kita teguk dari berbagai masalah yang kita hadapi.

Allah Ta’ala berfirman,

{ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ (3) }

“ Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS Al Ankabut: 2 & 3)

{ إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ ٱلْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُۥ ۚ وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَآءَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ وَلِيُمَحِّصَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَيَمْحَقَ ٱلْكَٰفِرِينَ }

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang kafir.” (QS Ali Imran: 140 & 141)

Kunci meraih berbagai hikmah itu adalah kesabaran kita untuk tetap ada dalam jalan ketaatan kepadaNya. Tentu bukan perkara mudah untuk bisa bersabar, bertahan dalam ketaatan. Tapi Allah dengan RahmatNya hendak menjadikan agama ini kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran.

{یُرِیدُ ٱاللهُ بِكُمُ ٱلْیُسْرَ وَلَا یُرِیدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ}

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS Al Baqarah: 185)

Diantara cara Allah membuat kita mudah menghadapi ujianNya adalah dengan meresapkan tawakkal ‘ala Allah ke dalam diri kita. Wujud tawakkal itu adalah menyerahkan hasil dari kerja keras kita kepadaNya. Ada banyak kesadaran awal yang kita butuhkan untuk bisa tawakkal.

Pertama, menyadari bahwa al amru biyadillah, segala perkara ada di tangan Allah. Tugas kita hanyalah menjalankan kewajiban-kewajiban pembinaan dan dakwah. Mengatasi kendala-kendala yang ada dengan sungguh-sungguh. Adapun hasilnya Allah yang menentukan. Kita serahkan kepadaNya.

{قلُْ إنَّ ٱلْأمَْرَ كُلَّهُ لله}

“Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah” (QS Ali Imran: 154)

Memenangkan agama ini adalah urusan Allah. Tugas kita memastikan bahwa kita berada komitmen dan konsisten dalam shaff jihad.

{قلُِ ٱللَّھُمَّ مَٰلكَِ ٱلْمُلْكِ تُؤْتِى ٱلْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلْمُلْكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ ۖ بِیَدِكَ ٱلْخَیْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِیرٌ}

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali Imran: 26)

Kedua, menyadari bahwa beban yang Allah pikulkan di pundak kita tidak akan melebihi dari kemampuan yang Dia berikan pada kita. Menentukan hasil itu berada di luar batas kemampuan kita. Hanya Allah yang kuasa menentukannya

{لَا یُكَلِّ فُ اللهُ نَفْسًا إلَِّا وُسْعَھَا}

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al Baqarah: 286)

Ketiga, menyadari bahwa diri kita lemah dan serba terbatas. Kita tidak mungkin mewujudkan tujuan di luar batas kemampuan kita yang lemah dan serba terbatas. Yang kita perjuangkan pada diri kita adalah usaha untuk mampu. Adapun kemampuan itu ada di tangan Allah. Dia lah yang Kuasa untuk tidak atau memampukan kita.

{یُرِیدُ اللهُ أنَ یُخَفِّفَ عَنكُمْ ۚ وَخُلقَِ ٱلْإنِسَٰنُ ضَعِیفًا}

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS An Nisa: 28)

Keempat, menyadari urgensi husnudzan kepada Allah. Husnudzan kepada Allah itu wajib. Sebab Allah suci dari sifat-sifat kurang dan buruk. Mustahil bagiNya mendzalimi hambaNya. Maka apapun hasil yang Allah berikan, yang tertanam dalam hati kita adalah itulah keputusan yang terbaik bagi dunia dan akhirat kita, bagi umat dan bagi agamaNya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

حسن الظن با من حسن العبادة

“Berbaik sangka kepada Allah termasuk kebaikan ibadah.” (HR Abu Daud).

Menyatukan umat itu urusan Allah. Tugas kita memenuhi perintahNya berjuang untuk bersatu. Dan itu kita lakukan dengan berjama’ah.

Wallahu a’lam bis showab

Referensi:

Al Imamah Al ‘Udhma, Abdullah Ad Dumaiji, Daar Al Thayyib, Riyadh, Arab Saudi

Al Jihad di Sabilillah, Syeikh Ramadhan Al Buthi, Daarul Fikr Al Mu’ashir, Lebanon.

Al Musamirah Syarah Al Musayirah fi ‘Ilm al Kalam, Kamal Ibnul Hamam, Mathba’ah As Sa’adah Mesir

Al Hisbah, Ibnu Taimiyah, Daar Al Sya’b.

(RA2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)