Kesungguhan Orang Kafir Memerangi Muslimin

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Berbicara soal perjuangan, orang-orang kafir memiliki kesungguhan luar biasa dalam memerangi kaum Muslimin. Berbagai cara, tenaga, pikiran, ilmu, teknologi, jiwa dan raga mereka kerahkan demi ntuk umeraih tujuannya, melemahkan umat Islam agar menjauhi ajaran agama Islam.

Tidak sedikit di antara mereka berjuang dengan mengeluarkan hartanya yang banyak, segenap pemikirannya, waktunya. Semua dilakukan dengan maksimal, bukan harta sisa, pemikiran sedapatnya atau paruh waktu.

Allah menyebutkan di dalam ayatnya:

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Artinya: “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah”. (QS An-Nisa’ [4]: 76).

Hanya yang mebedakan ya itu, mereka berperang, berjuang, berusaha di jalan Thaghut, jalan yang menjauhkan diri dari Allah, jalan keingkaran, jelan kemaksiatan.

Jalan Thaghut adalah jalannya para pengikut hawa nafsu. Mereka yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Mereka adalah orang-orang yang memerangi dakwah dan penegakkan syari’at dengan lisan, tulisan, harta dan jiwa mereka.

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata, “Orang-orang kafir, mereka yang mengingkari ke-Esaan Allah dan mendustakan Rasul-Nya, mereka berperang di jalan taghut, yaitu jalan syaitan dan jalan orang-orang kafir.

Sementara orang-orang beriman, mereka berperang di jalan Allah, dan mereka diperintahkan untuk memerangi thaghut dan kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.

Imam Ath-Thabari melanjutkan, ”Sesungguhnya tipudaya syaitan itu amatlah lemah. Janganlah takut pada wali-wali syaitan. Karena sesungguhnya mereka itu para wali-wali syaitan itu adalah lemah dan pengecut.”

Begitulah, kelemahan mereka karena mereka berperang demi materi yang fana dan dengan kedengkian nafsu. Sedangkan orang-orang beriman berperang karena mengharapkan ridha dari Allah semata.

Kalau dalam berperang itu orang-orang beriman lelah, peluh bercucuran, kurang tidur, bahkan kadang sampai jatuh sakit atau terluka. Itu janganlah membuat lemah apalagi mundur walau selangkah. Maka sesungguhnya mereka orang-orang kafir pun mengalami hal serupa. Mereka juga lelah, kurang tidur, bahkan juga sakit dan terluka.

Allah menyebutkan di dalam ayat:

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Artinya: “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS An-Nisa’ [4]:104).

Berkaitan dengan hal itu, Syaikh Abdurrahman As Sa’di mengatakan, “Orang-orang yang berperang di jalan Allah hendaknya bersabar dan tahan banting. Hal itu, karena kawan-kawan syaitan siap bersabar dan tahan banting pula, padahal mereka di atas kebatilan. Oleh karena itu, orang-orang yang berada di atas kebenaran lebih berhak untuk sabar dan tahan banting”.

Apalagi orang-orang yang berperang di jalan Allah itu sejatinya adalah berpegang dengan tiang yang kuat, yaitu kebenaran dan bertawakkal kepada Allah. Orang yang memiliki tiang yang kuat dituntut untuk lebih sabar, berani, teguh dan semangat. Berbeda dengan orang yang berada di atas kesalahan.

Orang beriman harus terus memupuk semangat jihad, sesuai maknanya yaitu usaha, kekuatan, kesungguhan. Yakni mengeluarkan segala kesungguhan, kekuatan, dan kesanggupan pada jalan Allah. (A/RS2/B05)

Mi’raj News Agency (MINA)