Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ اِلَّا تَفْعَلُوْهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الْاَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيْرٌۗ ٧٣ (الانفال [٨]: ٧٣)
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
“Orang-orang yang kufur, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (untuk saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar.” (QS Al-Anfal [8]: 73)
Ayat di atas adalah peringatan kepada umat Islam, bahwa perpecahan akan melahirkan fitnah dan kerusakan. Sedangkan solidaritas yang berlandaskan ketaatan kepada Allah ﷺ dapat menjadi kekuatan yang membawa keadilan dan rahmat bagi seluruh alam.
Para ulama ahli tafsir seperti Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan, bahwa ayat ini menegaskan pentingnya loyalitas dan solidaritas di antara kaum mukminin. Jika orang-orang beriman tidak saling menolong dan tidak membangun solidaritas antara satu dengan yang lain, maka yang akan terjadi adalah dominasi pihak yang batil.
Sementara itu, Imam Al-Qurthubi Rahimahullah menafsirkan bahwa “fitnah” dalam ayat ini mencakup kekacauan, kekufuran, peperangan dan melemahnya kekuatan Islam. Sedangkan “kerusakan besar” adalah tersebarnya penindasan, penjajahan dan kedzaliman yang tidak mampu dibendung.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Ayat di atas menunjukkan sunnatullah hukum sosial yang tetap berlaku sepanjang zaman. Oleh karena itu, membangun solidaritas bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah kewajiban yang harus diwujudkan dalam setiap lini kehidupan, agar bumi ini terhindar dari fitnah dan kerusakan yang besar.
Peperangan di berbagai wilayah, khususnya di Timur Tengah, serta penderitaan panjang bangsa Palestina menunjukkan bahwa kekuatan-kekuatan dzalim saling mendukung satu dengan yang lainnya, sementara umat Islam justru terpecah-belah dalam berbagai kepentingan.
Tidak hanya dalam konflik bersenjata, kerusakan juga tampak dalam bentuk eksploitasi alam yang berlebihan, ketimpangan sosial, dan krisis kemanusiaan di berbagai belahan dunia. Semua ini merupakan bagian dari “fasad kabir” (kerusakan besar) yang disebutkan dalam ayat tersebut.
Solusi yang disebutkan dalam ayat di atas sangat jelas, yaitu dengan membangun kembali solidaritas umat Islam di atas dasar iman dan ketaatan kepada Allah ﷺ. Solidaritas yang dimaksud bukan sekadar simbolik, tetapi harus diwujudkan dalam kerja sama nyata, saling menolong dalam kebaikan, serta menghidupkan kembali nilai-nilai Islam yang universal.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Realitas Dunia yang Terluka
Dunia hari ini sedang menyaksikan berbagai peristiwa tragis yang mengguncang nurani kemanusiaan. Peperangan, penindasan, genosida, dan kerusakan alam terjadi silih berganti tanpa jeda.
Di kawasan Timur Tengah, perang antara Iran dan Zionis Yahudi yang didukung penuh oleh Amerika Serikat (AS) terus memakan korban. Dentuman senjata dan hujan rudal bukan hanya membunuh nyawa dan menghancurkan bangunan, tetapi juga merenggut masa depan generasi.
Sementara itu, bangsa Palestina terus mengalami penderitaan yang tak kunjung usai. Aksi genosida di Gaza telah menelan ratusan ribu nyawa dan masih berlangsung hingga hari ini. Hampir semua bagunan dihancurkan, anak-anak menjadi yatim, para ibu menjadi janda, dan manusia yang tidak bersalah hidup dalam kelaparan dan ketakutan.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Namun ironisnya, dunia internasional bungkam. Negara-negara besar yang mengusung jargon demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) justru diam, bahkan sebagian negara Arab memilih jalan berkoalisi dengan penjajah.
Pertanyaannya, mengapa semua ini terjadi? Apakah ini semata-mata karena faktor politik, ekonomi, atau teknologi? Ataukah ada akar permasalahan yang bersifat spiritual dan moral?
Menurut ayat di atas, semua itu terjadi akibat orang-orang Kafir saling tolong-menolong dalam berbuat kerusakan dan kedzaliman, sementara kaum Muslimin justru terpecah-belah dan saling bermusuhan.
Hilangnya Solidaritas Umat
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Umat yang jumlahnya mencapai lebih dari 2,1 miliar jiwa, tersebar di berbagai negara dengan sumber daya alam yang kaya, sesungguhnya memiliki potensi kekuatan luar biasa. Namun, dengan potensi yang besar itu, umat Islam belum mampu tampil sebagai kekuatan yang solid dalam menghadapi berbagai tantangan global.
Sibuknya pemimpin mereka dalam urusan duniawi serta ketakutan kepada musuh dan kematian meyebabkan melemahnya rasa ukhuwah (persaudaraan). Akibatnya, kekuatan yang seharusnya menjadi pilar dan benteng umat, menjadi tidak berdaya menghadapi tekanan dan ketidakadilan global.
Nilai-nilai kebersamaan, saling melindungi dan mendahulukan kepentingan orang lain (altruisme) mulai tergerus oleh semangat individualisme dan nasionalisme sempit. Kondisi ini membuat mereka tidak lagi peka terhadap penderitaan saudaranya, sehingga solidaritas yang seharusnya menjadi kekuatan utama, justru melemah seiring perpecahan yang melanda.
Jika ditarik ke belakang, melemahnya solidaritas umat berawal sejak runtuhnya Kekhilafahan Turki Utsmani (1924), yang selama berabad-abad menjadi simbol solidaritas umat Islam. Sejak saat itu, dunia Islam terpecah menjadi negara-negara kecil yang berjalan dengan kepentingannya masing-masing.
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
Tidak lama kemudian, deklarasi sepihak negara Zionis Israel di tanah Palestina menjadi titik awal dari rangkaian panjang penjajahan dan penindasan. Umat Islam yang tercerai-berai tidak mampu memberikan perlawanan yang kuat dan terkoordinasi, hingga konflik demi konflik terus berlanjut dan meluas ke berbagai wilayah.
Peperangan di berbagai negeri Muslim hari ini sejatinya adalah cermin dari rapuhnya solidaritas. Semua itu menunjukkan bahwa krisis yang kita hadapi bukan hanya krisis politik atau ekonomi, tetapi krisis iman dan krisis solidaritas.
Kembali kepada Al-Qur’an dan Mewujudkan Solidaritas Umat
Menghadapi realitas yang begitu kompleks ini, solusi yang diberikan Islam sesungguhnya sangat jelas, yaitu mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah secara kaffah (keseluruhan), dengan membangun kehidupan berjamaah.
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan, tetapi hendaknya menjadi pedoman hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan: dari ibadah hingga muamalah, dari kehidupan individu hingga kehidupan bermasyarakat.
Ketika umat Islam benar-benar mengamalkan Al-Qur’an dan sunnah, keadilan akan tegak, kedzaliman akan sirna, dan solidaritas umat akan terwujud. Solidaritas yang dimaksud dalam hal ini tidak terbatas pada wilayah, tidak tersekat dengan teritorial, atau demi kepentingan kelompok tertentu, tetapi solidaritas yang melampaui batas geografis dan kepentingan duniawi.
Solidaritas dibangun atas dasar aqidah yang sama, tujuan yang sama, dan komitmen yang sama. Dengan solidaritas yang kokoh, umat Islam akan memiliki wibawa di hadapan kawan maupun lawan. Mereka tidak lagi menjadi objek permainan musuh, tetapi menjadi subjek yang menentukan arah peradaban manusia.
Sejarah telah membuktikan hal ini. Rasulullah ﷺ bersama para sahabat berhasil membangun masyarakat beradab dan memiliki solidaritas yang kuat. Generasi setelahnya melanjutkan perjuangan tersebut hingga Islam menjadi kekuatan global yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa
Maka, tugas umat Islam hari ini bukan sekadar meratapi keadaan, tetapi hendaknya mengambil peran dalam perubahan. Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi dalam upaya membangun solidaritas umat.
Meskipun kondisi saat ini masih tampak suram, namun harapan tetap ada. Sejarah menunjukkan bahwa umat Islam pernah berada di puncak peradaban manusia, ketika dunia Barat yang saat ini memimpin masih berada dalam keterbelakangan, bahkan untuk mandi pun mereka belum bisa.
Salah satu bukti kebangkitan itu tampak pada sosok Salahuddin Al-Ayyubi. Dengan kekuatan iman, keteguhan akhlak, dan kemampuan menyatukan kaum Muslimin, ia berhasil membebaskan kembali Al-Quds dari tangan tentara Salib.
Tidak hanya itu, dalam lintasan sejarah yang sama, dunia Barat pun mengalami fase Aufklärung, yaitu masa pencerahan yang menandai bangkitnya rasionalitas, ilmu pengetahuan, dan kebebasan berpikir setelah berabad-abad terkungkung dalam kegelapan
Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan
Begitu pula dengan Muhammad Al-Fatih, yang sejak muda dididik dengan visi besar untuk menaklukkan Konstantinopel. Dengan persiapan matang, ia mampu mengubah hal yang dianggap mustahil menjadi kenyataan. Keberhasilannya membebaskan Konstantinopel (Istambul) menjadi simbol kebangkitan peradaban Islam yang lahir dari iman, solidaritas, dan kepemimpinan yang visioner.
Kini saatnya kita bergerak mewujudkan kehidupan berjamaah, memperkuat ukhuwah, dan bekerja sama dalam kebaikan. Karena selama solidaritas umat belum terwujud, selama itu pula penjajahan dan kedzaliman akan terus berlangsung.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing kita untuk kembali kepada jalan-Nya, menyatukan hati-hati kaum Muslimin, dan menjadikan kita bagian dari generasi yang membawa perubahan positif sehingga Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Baca Juga: Hukuman Potong Tangan: Alternatif Mengatasi Kejahatan Korupsi
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic