Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Puasa Ramadhan Membentuk Ketaqwaan Pribadi dan Sosial

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - 14 jam yang lalu

14 jam yang lalu

49 Views

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (foto: Ardan/MINA)

 Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah Jumat kali ini berjudul: Puasa Ramadhan Membentuk Ketaqwaan Pribadi dan Sosial.

Ketaqwaan bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah  saja, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia. Inilah konsep kesalehan pribadi dan sosial yang seimbang.

Hakikat puasa Ramadhan adalah latihan untuk tunduk dan patuh kepada Allah  sekaligus belajar menghormati hak-hak sesama manusia.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Ramadhan dan Al-Qur’an, Cahaya yang Menyinari Jiwa

Jika puasa Ramadhan dijalani dengan kesadaran dan keikhlasan serta memahami hakikatnya, maka akan lahirlah pribadi yang paripurna: taat dalam ibadah, mulia dalam akhlak, dan memberi manfaat dalam kehidupan bermasyarakat.

Khutbah selengkapnya silakan simak berikut:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khutbah ke-1:

Baca Juga: Khutbah Gerhana Bulan: Kebesaran Allah dan Ketaqwaan Manusia

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ بِإحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، مَاشَاءَ اللّٰهُ كَانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ النَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Segala puji dan syukur marilah sesantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah , Rabb yang telah memberikan berbagai nikmat dan karunia, terutama dengan menurunkan bulan Ramadhan yang mulia ini kepada kita semua.

Di bulan yang mulia dan penuh keberkahan ini, khatib mengajak diri sendiri dan seluruh jamaah untuk terus memelihara dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah .

Puasa Ramadhan bertujuan untuk meraih ketaqwaan, baik ketaqwaan secara pribadi, maupun ketaqwaan secara sosial.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Hubungan Puasa Ramadhan dan Jihad Pembebasan Al-Aqsa

Dengan demikian, Ramadhan bukan hanya membentuk pribadi yang saleh di hadapan Allah , tetapi juga melahirkan masyarakat yang bersatu, bersaudara, tumbuh rasa solidaritas, menegakkan keadilan dan mampu menebar manfaat di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Pada kesempatan Jum’at yang berbahagia ini, marilah kita merenungkan firman Allah  dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah [2], ayat 177 yang berbunyi:

لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْاۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ (البقرة [٢]: ١٧٧)

Baca Juga: Khutbah Jumat: Puasa dan Tazkiyatun Nafs

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah mereka, orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan shalat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.”

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah, dalam kitab tafsirnya menjelaskan, ayat di atas menghimpun seluruh cabang kebaikan. Kebajikan bukan sekadar simbol dan formalitas, tetapi iman yang kokoh, kemudian dibuktikan dengan amal nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

Ayat tersebut memadukan tiga dimensi: akidah, ibadah, dan muamalah (aktifitas sosial). iman kepada Allah  dan Hari Akhir sebagai fondasi pribadi, ada shalat dan zakat sebagai ibadah ritual, dan kepedulian sosial: berinfak kepada fakir miskin dan yang membutuhkan sebagai dimensi sosial.

Ketaqwaan bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah  saja, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia. Inilah konsep kesalehan pribadi dan sosial yang seimbang.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Puasa dan Taqwa  

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه البخاري)

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan tercela, maka Allah tidak butuh puasanya (ia meninggalkan makan dan minumnya).” (H.R. Al-Bukhari)

Baca Juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Bulan Ramadhan

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, dalam Fathul Bari, menjelaskan, bahwa maksud “Allah tidak butuh” bukan berarti puasa orang tersebut tidak sah, tetapi menunjukkan bahwa puasanya tidak bernilai sempurna dan tidak mendatangkan pahala yang diharapkan.

Artinya, ia hanya mendapatkan lapar dan haus saja, tanpa memperoleh pahala yang mulia di sisi-Nya.

Hadits ini menjadi peringatan agar orang yang berpuasa menjaga lisannya dari dusta, ghibah, namimah, dan seluruh ucapan buruk lainnya.

Kata قَوْلَ الزُّورِ (perkataan dusta) mencakup segala bentuk kebohongan, manipulasi, kesaksian palsu, dan ucapan-ucapan yang menyesatkan. Sedangkan وَالْعَمَلَ بِهِ (perbuatan tercela) mencakup perbuatan yang didasari kebohongan dan mengandung kemaksiatan.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Keistimewaan Bulan Suci Ramadhan

Maka, hakikat puasa adalah pembinaan moral secara menyeluruh. Ia bukan sekadar ibadah fisik yang menahan lapar dan dahaga, tetapi proses tarbiyah ruhani yang membentuk kejujuran, kesabaran, pengendalian diri, dan kepekaan hati.

Puasa mendidik lisan agar terjaga dari dusta, hati agar bersih dari dengki, serta perilaku agar jauh dari kedzaliman kepada sesama manusia.

Hakikat puasa Ramadhan adalah latihan untuk tunduk dan patuh kepada Allah  sekaligus belajar menghormati hak-hak sesama manusia.

Jika puasa Ramadhan dijalani dengan kesadaran dan keikhlasan serta memahami hakikatnya, maka akan lahirlah pribadi yang paripurna: taat dalam ibadah, mulia dalam akhlak, dan memberi manfaat dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Bulan Sya’ban, Jalan Menuju Cahaya Ramadhan

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Puasa Ramadhan bukan hanya ibadah personal, tetapi juga membentuk ketaqwaan sosial sehingga berdampak pada kehidupan di tengah-tengah masyarakat.

Puasa menumbuhkan empati. Ketika kita merasakan lapar, maka kita akan teringat kepada saudara-saudara kita di Gaza, Palestina yang setiap hari kekurangan makanan. Dari rasa itu lahirlah kepedulian dan dorongan untuk berinfak, bersedekah dan berbagi.

Puasa juga menggerakkan solidaritas sosial secara nyata. Zakat fitrah, infak, dan sedekah di bulan ini menjadi sarana pemerataan kesejahteraan yang diajarkan langsung oleh syariat.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menyambut Bulan Ramadhan dengan Gembira

Di bulan inilah tangan-tangan kaum beriman lebih ringan untuk memberi, menggugah hati lebih lembut untuk peduli, dan mengajak jiwa agar lebih peka terhadap penderitaan sesama. Orang yang kaya membantu yang miskin, yang kuat menopang yang lemah, yang lapang melapangkan yang sempit.

Dari semangat berbagi itulah tumbuh masyarakat yang saling menguatkan, bukan saling meninggalkan; saling menolong, bukan saling menjatuhkan. Inilah wajah indah bulan Ramadhan sebagai bulan yang menumbuhkan kepedulian dan memperkokoh ukhuwah (persaudaraan).

Puasa Ramadhan juga mempererat ukhuwah Islamiyah. Shalat tarawih berjamaah, buka puasa bersama, i’tikaf dan aktivitas lainnya menyatukan hati kaum muslimin dalam suasana ibadah.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Baca Juga: Khutbah Jumat: Momentum Sya’ban, Mempersiapkan Jasmani dan Rohani Menuju Bulan Ramadhan  

Apa yang perlu kita lakukan agar puasa yang kita tunaikan mampu membentuk ketaqwaan pribadi dan sosial? Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan:

Pertama, luruskan niat. Berpuasa hendaknya hanya karena Allah semata, bukan sekadar tradisi, rutinitas, atau tuntutan lingkungan sekitar. Niat yang tulus akan menjadi fondasi agar setiap amalan di bulan Ramadhan bernilai mulia di sisi-Nya.

Kedua, jaga diri dari perbuatan maksiat. Puasa tidak berhenti hanya pada menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menuntut pengendalian lisan, mata, hati, dan pikiran agar terhindar dari dusta, ghibah, dan hal-hal yang diharamkan.

Ketiga, perbanyak tadabbur Al-Qur’an dan muhasabah diri. Setiap hari di bulan Ramadhan menjadi momentum refleksi dan evaluasi diri, menilai sejauh mana hati, perkataan, dan perbuatan telah selaras dengan tuntunan Allah .

Keempat, hidupkan semangat berbagi. Bulan Ramadhan adalah waktu untuk memperbanyak sedekah, menolong tetangga, dan meringankan beban sesama, sehingga kebaikan yang kita lakukan terasa manfaatnya secara nyata di masyarakat.

Kelima, jadikan puasa sebagai bekal perubahan jangka panjang. Tanda puasa yang diterima bukan hanya tampak selama bulan Ramadhan, tetapi terlihat dari konsistensi menjaga amal saleh, akhlak mulia, dan kepedulian sosial sepanjang tahun.

Semoga Allah  menjadikan kita tergolong sebagai hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, baik taqwa secara pribadi dan taqwa secara sosial. Taqwa yang kita raih tidak hanya menjadi perhiasan diri, tetapi juga menjadi rahmat yang dirasakan oleh orang lain di sekitar kita. Āmīn yā Rabbal ālamīn.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ. إِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

 

Khutbah ke-2

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِلُزُوْمِ الْجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ الْإِخْتِلَافِ وَالتَّفَرُّقَةِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ هُدَاةِ الْاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآ أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى يَآ أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيمًا. اَللَّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ أَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَآ الْمُجَاهِدِينَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِينَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Ramadhan 1447 H
Ramadhan 1447 H
Ramadhan 1447 H
Ramadhan 1447 H