Kumpulan Hot Topik Seputar Geopolitik Tahun 2019

Oleh: Rifa Berliana Arifin, Kared MINA Arab

Di penghujung tahun 2019, mari kita coba rangkum dan ramu peristiwa-peristiwa penting mengenai dunia internasional dan geopolitik  selama tahun 2019.

Berikut ini adalah perkembangan geopolitik tahun 2019. Isu-isu berikut ini dipilih karena memiliki efek terhadap situasi global dan internasional, karena ada juga beberapa isu yang menarik dan ter blow up media tapi sebetulnya tidak memiliki efek apa-apa dalam situasi dan hubungan internasional, seperti; Ukraina memiliki Presiden baru seorang komedian.

  1. Kebangkitan Indonesia

Tahun 2019 merupakan momen penentu bagi Indonesia. Akibat Pilpres 2019, Masyarakat Indonesia nyaris terkoyak oleh kampanye-kampanye pemilu pilpres dari masing Capres yang begitu beracun. Akan tetapi rekonsiliasi yang terjadi antara Jokowi dan Prabowo melahirkan Indonesia kembali sehat dan fokus kepada agenda pembangunan negara Indonesia Maju 2025, Kebijakan dalam negeri seperti pemindahan ibukota dan aktifnya Indonesia menjadi DK PBB bisa membawa  Indonesia menjadi negara adikuasa di Asia. Hal itu tidak akan terjadi apabila mungkin kalau Prabowo menang, ataupun Jokowi menang tapi tidak rekonsiliasi dengan Prabowo. Keputusan yang tepat dalam waktu yang tepat dengan orang yang tepat dapat membawa perubahan bangsa.

  1. Demonstrasi Hongkong

Pada mulanya demonstrasi damai warga Hongkong untuk menolak pengesahan Rancangan Undang-Undang Ekstradisi berubah menjadi momen kerusuhan selama enam bulan lamanya, akibatnya Hongkong sebagai wilayah yang menjadi pusat ekonomi internasional di Asia menderita semi lumpuh.  Warga Hongkong merasa takut akan hak atas kebebasan mereka yang menganut sebagai “One Country, Two Systems” akan diacak-acak oleh Beijing yang otoriter. Di Taiwan, Tsai Ing-Wen menggunakan isu Hong Kong sebagai modal kampanye untuk memenangkan Pilpres pada Januari tahun depan.

  1. Pemakzulan Donald Trump 

Peristiwa ketiga yang cukup heboh pada tahun 2019 adalah upaya pemakzulan Trump. Kalau kita buka siaran CNN hampir siang malam mengulas pantasnya Trump dimakzulkan dan kenapa ia harus dimakzulkan. Meskipun mustahil terjadi bahwa Trump dapat dimakzulkan tapi ini tetap menjadi hot topik karena ia adalah presiden ketiga AS yang digadang untuk dimakzulkan. Trump dituduh karena menghalangi penyidikan dan penyalahgunaan kekuasaan dalam hubungan dengan Presiden Ukraina.

  1. Krisis Uighur 

Isu Uighur adalah isu yang memiliki sejarah panjang, tidak cukup kita menilai dari apa yang terjadi akhir-akhir ini saja. Kompleks, tapi kita harus membedakan antara munculnya gerakan Free Uighur / Free East Turkistan & Isu kemanusiaan, karena itu adalah intervensi atas kedaulatan Cina.

Bukan bermaksud membenarkan kebijakan Cina terhadap Uighur tapi mencampuraduk isu kemanusiaan dengan intervensi atas kebijakan dalam negeri suatu negara terlebih menuduh adanya konspirasi Cina terhadap Muslim hanya merumitkan permasalahan.

Negara-negara Islam yang mayoritas terkesan “menahan diri” bukan karena takut Cina, tapi bisa saja mencari jalan tengah, tidak ingin terbawa negara-negara Barat dalam agenda mereka. Tidak semata-mata dimaknai “diam itu tanda lemahnya iman,” akan tetapi Islam juga mengajarkan untuk berbuat hikmah.

Di sisi lain, Cina perlu lebih clear terhadap dunia internasional dalam menyelesaikan isu re-education di dalam camp-camp yang berisikan warga Uighur karena itu akan menjadi bola api yang berbalik, semakin permasalahan Uighur terus disensasikan maka semakin mudah para ekstrimisme dan ISIS masuk Xinjiang.

Mengambil jalan tengah dengan tidak mudah percaya dengan propaganda pro Cina yang mengatakan seolah-olah keadaan di Xinjiang baik-baik saja, tapi berhati-hati dalam isu sensasional yang mengandung agenda tertentu.

  1. Ketegangan India dan Pakistan

Hubungan India-Pakistan tegang setelah Kashmir kembali bergejolak. India menuduh Pakistan coba menkisruhkan dan mengucar-kacirkan Kahsmir, Pakistan pun menuduh India karena menindas umat Islam di Kashmir.

Hubungan kedua negara berada dalam fase paling tegang sejak 1990 an akibat Presiden India Narendra Modi dan Perdana Menteri Imran Khan menggunakan sentimen identitas dalam pernyataan-pernyataannya. India dan Pakistan adalah negara yang memiliki senjata nuklir, ditambah dengan hubungan mereka yang rumit dengan AS, Cina, Rusia, Arab Saudi, Israel dan Turki.

  1. ISIS Tamat, Turki Terancam

Kubu ISIS terakhir di Suriah akhirnya ditangkap oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF) / YPG yang dipimpin oleh pejuang Kurdi. Setelah “kekhalifahan” ISIS  dihabisi oleh militer AS. Tetapi itu tidak berarti bahwa ISIS sudah mati terkubur, kebangkitan SDF / YPG menciptakan kekacauan di Turki, hingga Turki meluncurkan operasi ketiganya setelah Operation Euphrates Shield (2016) dan Operation Olive Branch (2018) untuk menggusir  SDF / YPG yang menduduki perbatasan Turki-Suriah setelah mengalahkan ISIS.

Erdogan ingin menggunakan perbatasan yang dibersihkan dari ancaman SDF / YPG untuk membangun zona aman supaya dapat merelokasi pengungsi Suriah yang telah membanjiri Turki yang saat ini jumlahnya sudah dua kali lipat lebih banyak. Tindakan satu sisi Trump dalam bentrokan antara Turki dan SDF / YPG dipandang sebagai pengkhianatan Bangsa Kurdi, merusak kredibilitas AS di mata sekutu-sekutunya dan pengaruhnya di Timur Tengah. Jangan lupa bahwa kejadian ini membuat Trump menulis surat kepada Erdogan.

7.  Demonstrasi ala Joker

Tahun 2019 menyaksikan gelombang demonstrasi terbesar sejak Arab Spring 2011-2012. Dari Libanon, Irak, Chili ke Ekuador, pengunjuk rasa memprotes pemerintah yang gagal mengatasi tingginya biaya hidup  dan memberlakukan pajak yang mencekik.

Satu hal yang menyamakan aksi demonstrasi ini adalah para pengunjuk rasa menggunakan topeng Joker, sebuah film yang sedang trending pada tahun 2019. membaca secara mendalam, karakter Joker dalam film ini adalah “underdog” dalam strata sosial ekonomi seolah menggambarkan pengunjuk rasa yang tertekan dengan mahalnya kehidupan. Arab Spring menuntut kebebasan politik, sementara demonstrasi ala Joker menuntut keringanan bahan-bahan pengisi perut.

Isu tersebut tampak terkesan remeh, tetapi ternyata memiliki efek begitu besar sehingga Perdana Menteri Libanon dan  Presiden Irak harus mundur dari jabatannya.

8. Gambia Seret Myanmar ke ICJ 

Kasus Rohingya dalam bulan terakhir ini menjadi sorotan media internasional.

Sudah lama Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) tidak menjadi sorotan dunia, khususnya Umat Islam yang masih bingung sebenarnya apa peran hukum & undang-undang internasional & sistemnya.

Tgl 10-12 Desember 2019  ICJ akan membahas kasus pembersihan etnis (genosida) yang dilakukan pemerintah Myanmar terhadap etnis Rohingya. Kasus ini menjadi yang ke-4 dalam sejarah ICJ apabila merujuk pada “Konvensi Genosida”. Kasus-kasus genosida sebelumnya diajukan atas Serbia, 2 diantaranya oleh Bosnia tahun 1993 & 2001 dan 1 oleh Kroasia (1999).

Kasus ini diajukan bulan lalu ke PBB oleh sebuah negara bernama Gambia di Afrika sana membawa nama Organisasi Negara Islam (OKI). Kenapa Gambia? Karena Gambia akan menjadi Ketua KTT OKI berikutnya pada tahun 2022.

Gambia tidak bergerak sendiri melainkan ia membawa hasil dari upaya kolektif negara-negara OKI untuk membawa kasus ini ke mahkamah internasional sebagai resolusi pada Juni lalu di Mekkah. (RA-1/P1)

Miraj News Agency (MINA)