Larangan Jadikan Ajaran Agama untuk Lelucon

Aksi demo desak pelaku penistaan agama diadili beberapa waktu lalu (Foto: Homecare24)

Oleh: Zaenal Muttaqin

Kasus penistaan ajaran agama Islam atau juga isi dari kitab suci Al-Qur’an masih sering terjadi. Parahnya, seringkali pelakunya beralasan untuk konten di media sosial atau lelucon yang tujuannya menjadi viral bahkan dapat cuan.

Baru-baru ini apa yang dilakukan oleh tiktoker Galih Loss, secara sengaja membuat video melecehkan kalimat ta’awudz yang merupakan bagian dari kitab suci Al-Qur’an.

Dalam ajaran Islam ada peringatan yang melarang seseorang membuat suatu candaan atau lelucon dengan menceritakan suatu hal yang isinya dusta atau berbohong, dalam rangka membuat manusia tertawa.

Peringatannya cukup keras, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻭَﻳْﻞٌ ﻟِﻠَّﺬِﻯ ﻳُﺤَﺪِّﺙُ ﻓَﻴَﻜْﺬِﺏُ ﻟِﻴُﻀْﺤِﻚَ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ ﻭَﻳْﻞٌ ﻟَﻪُ ﻭَﻳْﻞٌ ﻟَﻪُ

“Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315).

Menurut Ibnu Taimiyyah, dusta tidak diperbolehkan, baik dalam hal serius maupun bercanda, menukil perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

ﺇﻥ ﺍﻟﻜﺬﺏ ﻻ ﻳﺼﻠﺢ ﻓﻲ ﺟﺪ ﻭﻻ ﻫﺰﻝ

“Sesungguhnya berdusta tidak boleh baik dalam keadaan serius maupun bercanda.”

Baca Juga:  Ini Alasan Manusia Wajib Beribadah

Ibnu Taimiyah mengatakan, bahwa hukumannya lebih berat jika sampai menimbulkan permusuhan dan persengketaan di antara manusia, bahkan menimbulkan bahaya bagi agama.

“Apabila hal tersebut (dusta) menimbulkan permusuhan di antara kaum muslimin dan menimbulkan madharat bagi agama, maka ini lebih terlarang lagi. Pelakunya harus mendapatkan hukuman syar’i yang bisa membuatnya jera,” katanya.

Apa yang dijelaskan Ibnu Taimiyah tersebut merupakan peringatan bagi para konten kreator, komedian, aktivis stand-up comedy dan siapa saja, untuk selalu berhati-hati dalam berkreasi.

Terlebih-lebih terlalu banyak tertawa bisa mematikan hati dan mengeraskan hati yang pada akhirnya akan semakin jauh dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻻَ ﺗُﻜْﺜِﺮُ ﺍﻟﻀَّﺤَﻚَ ﻓَﺈِﻥَّ ﻛَﺜْﺮَﺓَ ﺍﻟﻀَّﺤَﻚِ ﺗُﻤِﻴْﺖُ ﺍﻟﻘَﻠْﺐَ

“Janganlah terlalu banyak tertawa karena banyak tertawa bisa mematikan hati.” (Shahih Al Jami’ no. 7435).

Baca Juga:  Tingkatkan Amal di Bulan Haji

Kemudian ada peringatan keras dalam Al-Quran sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja. Katakanlah: Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman….” (QS. At Taubah : 65-66).

Menurut Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa hukumnya sangat berat yaitu bisa keluar dari agama Islam.

“Mengolok-olok dalam agama, ayat Al-Qur’an dan Rasul-Nya termasuk kekafiran yang bisa mengeluarkam dari Islam, karena agama ini dibangun di atas pengagungan kepada Allah, agama dan Rasul-Nya.” (Shahih Al Jami’ no. 7435).

Islam dan ajarannya adalah sangat mulia, sehingga sangat tidak layak untuk dijadikan bahan candaan atau lawakan.

Baca Juga:  Di Tengah Konflik, Muslim Rohingya Diusir, Rumah pun Dibakar

Perlu diingat juga bahwa ada aturan di bandara atau pesawat terbang, bagi yang bercanda membawa bom, bisa terkena sanksi hukuman pidana.

Jika urusan dunia seperti ini saja dilarang, urusan agama tentu lebih serius dan bukan untuk canda-candaan.

Perlu difahami juga, menjadikan agama sebagai candaan atau mempelesetkan istilah-istilah agama adalah kebiasaan orang Yahudi, sebagaimana Allah berfirman,

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﻻَ ﺗَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﺭَﺍﻋِﻨَﺎ ﻭَﻗُﻮﻟُﻮﺍ ﺍﻧﻈُﺮْﻧَﺎ ﻭَﺍﺳْﻤَﻌُﻮﺍ ﻭَﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺃَﻟِﻴﻢٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): raa’ina, tetapi katakanlah: unzhurna, dan dengarlah. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.” (QS. Al-Baqarah: 104).

Raa’ina berarti “sudilah engkau memerhatikan kami”. Yaitu kebiasaan para sahabat ketika berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yahudi mempelesetkan menjadi “ru’unah” yang artinya sangat dungu atau sangat tolol.

Maka Allah memerintahkan sahabat menggantinya dengan perkataan “undzurna” yang maknanya sama. Allahu a’lam. [*]

Mi’raj News Agency (MINA) 

Wartawan: Zaenal Muttaqin

Editor: Rudi Hendrik