Washington, MINA — Senator Amerika Serikat dari Partai Republik, Lindsey Graham, meninggal dunia pada Sabtu (11/7) malam waktu setempat dalam usia 71 tahun. Sebelumnya, ia sempat mengalami gangguan kesehatan secara tiba-tiba setelah kembali dari kunjungan ke Ukraina dan menjelang agenda tampil dalam program televisi Meet the Press.
Juru bicara Graham menjelaskan bahwa penyebab kematiannya adalah diseksi aorta yang dipicu oleh penyakit kardiovaskular arteriosklerotik. Keterangan tersebut mengacu pada hasil pemeriksaan awal dari Pemeriksa Medis District of Columbia. Diseksi aorta merupakan kondisi darurat medis ketika lapisan dinding aorta mengalami robekan sehingga dapat mengancam keselamatan jiwa.
Laporan panggilan darurat pada Sabtu malam menyebutkan adanya dugaan henti jantung di kediaman Graham. Foto-foto yang dilansir CBS News juga memperlihatkan petugas medis mengevakuasi seseorang dari rumah senator tersebut di kawasan Capitol Hill.
Graham mulai mewakili negara bagian South Carolina di Senat AS sejak 2003. Selama lebih dari dua dekade, ia dikenal sebagai salah satu figur penting Partai Republik, khususnya dalam isu keamanan nasional dan kebijakan luar negeri.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Meski pada awal kemunculan Donald Trump ia dikenal sebagai pengkritik, Graham kemudian menjadi salah satu sekutu terdekat presiden tersebut serta pendukung utama berbagai kebijakan pertahanan dan hubungan internasional.
Presiden Donald Trump menyampaikan belasungkawa melalui Truth Social. Dalam unggahannya, Trump menyebut Graham sebagai salah satu senator terbaik yang pernah dikenalnya, sosok yang bekerja tanpa lelah, serta seorang patriot Amerika yang akan sangat dirindukan.
Di bidang kebijakan luar negeri, Graham dikenal sebagai salah satu pendukung paling kuat bagi Israel di Kongres AS. Selama bertahun-tahun, ia konsisten mendorong dukungan militer, diplomatik, dan politik Amerika Serikat kepada Israel.
Sejak konflik di Jalur Gaza memanas pada Oktober 2023, Graham secara terbuka menolak seruan gencatan senjata maupun usulan pembatasan bantuan militer AS kepada Israel. Menurutnya, Israel sedang menghadapi ancaman terhadap keberadaannya sehingga Washington harus terus memberikan dukungan tanpa syarat.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Ia juga menentang berbagai upaya yang mengaitkan bantuan militer dengan kepatuhan terhadap hukum internasional atau perlindungan warga sipil Palestina.
Sepanjang masa jabatannya, Graham beberapa kali mengunjungi Israel dan bertemu dengan para pemimpin politik maupun militer negara tersebut. Ia secara konsisten menekankan pentingnya menjaga keunggulan militer Israel di kawasan Timur Tengah. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic