MANTAN PERDANA MENTERI ISRAEL DIVONIS BERSALAH MELAKUKAN KORUPSI

Tel Aviv, 12 Jumadil Akhir 1436/1 April 2015 (MINA) – Sebuah pengadilan Kota Al-Quds (Yerusalem) memvonis mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, bersalah melakukan korupsi, atas tuduhan bahwa ia menerima uang tunai dari seorang pengusaha Amerika Serikat (AS).

Menurut International Middle East Media Center (IMEMC), hal itu merupakan hukuman terbaru pada musim gugur yang menghinakan bagi pria yang pernah mengambil alih sebagai perdana menteri Israel pada tahun 2006 menggantikan pembimbing dan pendahulunya Ariel Sharon yang mengalami koma, di mana ia tidak pernah pulih hingga wafatnya.

Pria 69 tahun itu Senin 30/3 dijatuhi hukuman enam tahun penjara dalam kasus suap yang terpisah setelah ia telah mengajukan banding ke Mahkamah Agung. Olmert akan dijatuhi hukuman pada 5 Mei mendatang, kata laporan IMEMC yanbg dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Olmert selalu bersikeras mengklaim bahwa dia tidak bersalah, menggambarkan tuduhan terhadap dirinya sebagai “perburuan brutal dan kejam ” serta pengacaranya mengatakan dia akan mengajukan banding dengan bukti terbaru.

Dia awalnya telah dibebaskan dari tuduhan penipuan dan korupsi dalam kasus tersebut, melarikan diri dengan hukuman denda 19.000 Dolar AS dan penangguhan hukuman penjara atas pelanggaran kepercayaan pada tahun 2012.

Namun bukti baru terungkap selama persidangan dalam kasus korupsi lainnya dan jaksa penuntut sekali lagi menekankan dua tuduhan yang lebih serius.

Sebagai imbalan untuk pengurangan hukuman, mantan sekretaris dan orang kepercayaan Olmert, Shula Zaken, mengungkapkan bahwa rahasia rekaman kaset yang ada percakapan antara dirinya dan Olmert mengenai puluhan ribu dolar yang ia duga telah diterima dari pengusaha Morris Talansky saat Olmert menjabat Menteri Perdagangan dan Industri Israel pada awal 2000-an.

Enam tahun penjara yang dijatuhkan terhadap Olmert pada Mei tahun lalu adalah yang pertama kalinya hukuman bagi seorang mantan perdana menteri Israel karena korupsi.

Setelah persidangan dua tahun, ia dihukum karena menerima suap senilai 560.000 shekel (sekitar 140.000 Dolar) saat Olmert menjabat sebagai walikota Yerusalem antara tahun 1993 dan 2003 dari proyek pengembangan kompleks perumahan masif kota Holyland.

Proyek pembangunan yang menjulang, mendominasi kaki langit kota itu, dipandang sebagai aib besar dan menjadi bahan celaan sebagai simbol korupsi tingkat tinggi.

Para pemimpin politik Israel memiliki sejarah panjang bermasalah dengan hukum. Mendiang Ariel Sharon sendiri terjerat dalam skandal korupsi besar saat ia jatuh koma.

Pada tahun 2011, mantan Presiden Israel Moshe Katsav memulai hukuman penjara tujuh tahun setelah dinyatakan bersalah atas dua tuduhan pemerkosaan dan kejahatan seksual lainnya.

Olmert mengundurkan diri sebagai perdana menteri pada September 2008 setelah polisi merekomendasikan ia didakwa karena kasus korupsi, tetapi ia tetap berada di kantor hingga Maret 2009, saat perdana menteri saat ini, Benjamin Netanyahu, disumpah.

Ahli Strategi Sharon

Sebelum mengambil alih sebagai perdana menteri pada tahun 2006, Olmert diakui sebagai ahli strategi kunci di balik banyak kebijakan paling berani Sharon, termasuk penarikan pemukim ilegal Israel dari Gaza 2005 lalu serta keputusannya untuk meninggalkan partai sayap kanan Likud dan membentuk partai Kadima.

Setelah runtuhnya Sharon, Olmert memimpin Kadima untuk kemenangannya Maret 2006 pada sebuah platform pembongkaran puluhan permukiman ilegal Israel dan menarik pasukannya dari sebagian besar Tepi Barat.

Namun sejak saat itu, mulai terjadi kemunduran, bersamanya memerintah rencana Tepi Barat ditangguhkan setelah perang 34 hari melawan Hizbullah Lebanon pada musim panas yang menewaskan lebih dari 1.200 tewas di Lebanon, sebagian besar warga sipil, dan 160 di wilayah jajahan Israel, sebagian besar tentara.

Tidak seperti banyak pendahulunya, Olmert tidak memiliki latar belakang militer dan caranya menangani krisis banyak menuai kecaman keras, demikian IMEMC melaporkan.

Meskipun ia menolak perundingan damai selama beberapa dekade, Olmert mengalami perubahan d masa akhir pemerintahannya, memainkan peran kunci penarikan pemukim ilegal Israel dari Gaza pada 2005 lalu dan kemudian menghidupkan kembali perundingan dengan Palestina.

Setelah peluncuran kembali pembicaraan damai pada November 2007 setelah absen tujuh tahun, Olmert bertemu beberapa kali dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, yang menawarkan jauh konsesi dalam upaya untuk mencapai kesepakatan.

Dalam memoarnya, yang diterbitkan pada tahun 2011, mantan Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice menulis tentang hal mengejutkan pada Mei 2008 rahasia usulan Olmert untuk menarik diri dari 94 persen wilayah Tepi Barat yang diduduki dengan pertukaran lahan sisnya dan Kota Al-Quds sebagai ibukota bersama Israel dan Palestina.

Namun pembicaraan itu tiba-tiba dihentikan pada Desember 2008 ketika Israel memulai operasi penghancuran selama tiga pekan dengan agresi militer ke Gaza.(T/R05/P2)

 

Mi’raj islamic News Agency (MINA)

 

Comments: 0