MAPIM Dukung Boikot Pembangunan Hotel di Retuntuhan Masjid Xinjiang

Kuala Lumpur, MINA – Presiden Majlis Perundingan Pertubuhan Islam Malaysia (MAPIM), Mohd Azmi Abdul Hamid menyatakan, mendukung kampanye untuk memboikot rencana pembangunan Hotel Hilton di reruntuhan Masjid di Xinjiang, China.

Mohd Azmi dalam pernyataan resminya, yang diterima MINA, Kamis (23/9) juga menyerukan kepada para pemimpin Muslim dunia untuk mencegah hal itu terjadi.

“Ini bukan hanya masalah masjid di Xinjiang, tetapi juga menyentuh kesucian dan martabat Islam dan Muslim di seluruh dunia,” ujarnya.

Langkah Komite Hubungan Islam Amerika Serikat untuk mengkampanyekan boikot pada jaringan hotel Hilton, harus didukung, setelah mereka berkonsultasi dengan perusahaan induk hotel tetapi masih ingin melanjutkan rencananya membangun hotel di situs masjid milik Uyghur.

Pemerintah China dan jaringan hotel Hilton perlu mendapatkan pesan yang kuat bahwa umat Islam tidak akan tinggal diam ketika masjid dan situs masjid dirambah dan dinodai, ujarnya.

“Kami menekankan bahwa masalah permusuhan antara AS dan China adalah masalah yang terpisah dan merupakan masalah antara kedua negara. Namun, yang ingin kami tekankan adalah, penggunaan kekuatan China yang terus-menerus untuk menindas kelompok etnis Uyghur dan mengancam status masjid di Xinjiang, tidak dapat dikompromikan,” imbuhnya.

Para pemimpin Muslim dunia perlu mengungkapkan keprihatinan mendalam mereka atas kampanye pemerintah China untuk menghancurkan kesucian situs-situs keagamaan Uyghur.

Apa yang sekarang berlaku adalah genosida agama dan budaya yang diluncurkan oleh pemerintah China terhadap Muslim Uyghur.

“Kami mengulangi penyesalan mendalam kami bahwa para pemimpin negara-negara Islam masih terombang-ambing oleh penyangkalan China. Alasan ingin mempertahankan hubungan dagang dengan China adalah alasan yang menghianati kewajiban membela Islam dan umat Islam yang tertindas di China,” lanjutnya.

Sekitar 16.000 masjid di 900 lokasi di Xinjiang telah dihancurkan sebagian atau seluruhnya antara 2017 dan 2020, demikian ia mengutip sebuah studi oleh Institut Kebijakan Strategis Australia.

“Mengapa dunia Muslim diam dan tidak mendesak China untuk menanggapi studi tersebut dengan mengizinkan badan Islam independen internasional untuk menyelidiki tuduhan tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, penghancuran menara masjid dapat dilihat pada citra satelit yang terakumulasi selama beberapa tahun terakhir. “Kami juga mendesak Organisasi Kerjasama Islam untuk menyatakan posisinya dalam masalah ini,” lanjutnya. (L/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)