Masjid Krue Sae, Mutiara Thailand Selatan, Mirip Al-Aqsa

Oleh: Nur Syahda, Mahasiswi STAI Al-Fatah Cileungsi, Bogor, asal Thailand 

Masjid Krue Sae atau Krue Se yang dalam bahasa Thailand dikenal sebagai Krue Se Mosque atau Pitu Krue-ban Mosque merupakan salah satu masjid bersejarah yang terletak di Wilayah Pattani, Thailand Selatan.

Sementara menurut ulama setempat, nama dari masjid ini diartikulasikan dengan pelafalan Gresik. Hanya, karena warga Thailand kesulitan mengucapkan ejaan Indonesia, masjid pun dikenal dengan nama Kerisik atau Krue Sae Mosque.

Nama resmi Masjid Krue Sae sendiri adalah Masjid Sultan Muzaffar Shah sesuai dengan nama pendirinya. Masjid yang telah berusia lebih dari 500 tahun itu merupakan masjid pertama di Asia Tenggara yang dibangun menggunakan bata merah.

Bata merah yang digunakan dalam pembangunan Krue Sae sendiri merupakan buatan masyarakat kampung Tarab Bata, sekarang di kawasan Gamia Daerah Muang, Pattani.

Masjid ini dibangun pada masa Sultan Muzaffar Shah di Abad ke 16 M, berdasarkan usulan dari Syeikh Shafiyuddin Al-Abbas, salah seorang Ulama Fiqih yang bergelar Dato’ Faqih Diraja.

Setelah dibangun, Masjid Krue Sae diresmikan sebagai masjid Kerajaan Melayu Patani Darussalam. Selain sebagai tempat ibadah, Krue Se juga dijadikan pusat studi  berbagai bidang ilmu yang berkaitan dengan Islam.

Krue Sae sendiri dalam bahasa Melayu berarti pasir di kawasan pantai yang berwarna putih bagaikan mutiara.

Pada zaman dulu, orang-orang Arab yang berlayar sampai ke Pattani menyebut kawasan ini “lu lu” yang berarti “mutiara” dalam bahasa Melayu.

Menurut mereka ketika matahari menyinari bumi dan cahayanya menimpa pasir-pasir di pantai itu maka terlihat gemerlapan seperti mutiara. Julukan itu kemudian menjadi nama sebuah desa, yang saat ini dikenal dengan “Tanjung Luluk” yang terletak di Wilayah Pattani.

Masjid ini juga tidak jauh dari kota Yala, tempat asal Penulis, yang kini sedang menempuh studi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di STAI Al-Fatah Cileungsi, Bogor.

Kini, Penulis sedang mengikuti program magang di Kantor Berita Islam MINA beralamat pusat di Jl. Kramat Lontar, Senen, Jakarta Pusat.

Arsitektur Masjid Al-Aqsa

Masjid ini berarsitektur sepintas seperti Masjid Al-Aqsa al-Qibli. Bentuk dan bata merah dibiarkan alami, tanpa dilapisi semen dan cat.

Seni arsitek campuran Eropa dan Timur Tengah dengan bangunan yang memiliki lebar 15,10 meter, panjang 2.960 meter, dan tinggi 6,50 meter.

Cara penyusunan batanya dilakukan dengan menggunakan campuran kulit kerang dengan beras pulut hitam yang dihaluskan. Kemudian dicampur dengan adonan telur putih dan manisan cair sebagi perekat, cara orang-orang Melayu membuat suatu bangunan pada masa itu.

Namun, konstruksi Masjid Krue Se akhirnya terhenti dan tidak dapat diselesaikan karena terjadinya perang perebutan tahta antara Sultan Long Yunus dan Ratu Pakalan.

Ratu pakalan yang memenangkan pertempuran kemudian memindahkan pusat administrasi kota Poo yuud ke Distrik Poo Yuud, saat ini, di Kecamatan Pooyuud Distrik Mueang Pattani Daerah istana Poo yuud, sampai sekarang masih dijumpai reruntuhan bekas kota itu.

Setelah pemindahan kota, tidak ada lagi yang meneruskan pembangunan atau menambah dan merenovasi masjid Krue Sae, akhirnya Masjid itu menjadi bangunan terbengkalai.

Struktur bangunan yang ada sekarang  merupakan bangunan yang sama sejak abad ke -16.

Barulah kemudian beberapa organisasi menyeru masyarakat agar kembali menggunakan Masjid Krue Sae.

Kini setiap satu Syawal, Masjid Krue Sae selalu dipenuhi oleh Jamaah yang melimpah hingga ke pekarangan masjid untuk menunaikan Sholat Idul Fitri. Wisatawan dari luar daerah juga banyak berdatangan untuk melihat langsung bangunan Masjid Krue Se dan sejarahnya. (A/NSD/R7/RS2)

Dari Berbagai Sumber

Mi’raj News Agency (MINA)