PERJALANAN adalah nafas kedua dari kehidupan kita manusia. Ada yang berangkat di fajar menyingsing, ditemani harapan dan ransel di punggung. Ada yang bepergian untuk bekerja, mengais rezeki di negeri yang tak pernah berhenti berputar.
Ada yang melangkah untuk belajar, mengukir masa depan kehidupan. Ada yang berdagang, mempertemukan barang dan berkah di pasar-pasar dunia. Ada yang bersilaturahmi, merekatkan hati yang sempat renggang oleh jarak dan waktu.
Dan ada yang berangkat untuk beribadah, menapaki jalan menuju rumah-Nya dengan langkah penuh rindu.
Namun dalam setiap perjalanan, tersimpan satu rahasia besar yang sering terlupa bahwa tidak ada satu kaki pun yang melangkah tanpa izin-Nya, dan tidak ada satu roda pun yang berputar tanpa kendali-Nya.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Maka Islam, agama yang sempurna lagi penuh kasih, mengajarkan sebuah adab yang luhur, bahwa sebelum kita menancap gas, membelokkan setir, atau melangkahkan kaki ke luar pintu, hendaklah hati lebih dulu bersimpuh kepada Sang Pemilik jalan dan tujuan.
Kita memang disiapkan dengan kendaraan, mobil yang prima, motor yang tangguh, atau kereta yang laju. Kita dibekali dengan peta, uang, dan bekal makanan. Tapi sebagus apa pun teknologi rem dan sekencang apa pun mesin, semua itu tidak akan berarti sama sekali jika Allah tidak mengizinkannya berfungsi.
Oleh karena itu, seorang mukmin sejati tidak pernah berpisah dengan doa di setiap permulaan perjalanan. Doa bukanlah pengganti sabuk pengaman, bukan pula penangkal kecelakaan.
Doa adalah pengakuan jujur bahwa kita ini lemah, bahwa jalan ini milik-Nya, bahwa nyawa ini titipan-Nya, dan bahwa selamat sampai tujuan adalah hak prerogatif yang hanya Dia berikan kepada hamba yang Dia cintai dan lindungi.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Maka, lisan kita pun melafalkan, sebagaimana yang dibaca oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam Riwayat Muslim, bacaan doa bepergian:
- Membaca takbir tiga kali:
اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ
Artinya: “Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar.”
- Saat berangkat bepergian membaca doa ini:
سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هٰذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ. اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هٰذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَىٰ، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَىٰ. اللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هٰذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ. اللّٰهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ. اللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Artinya: “Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami, kami pasti akan kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebaikan, ketakwaan, dan amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah bagi kami jaraknya. Ya Allah, Engkaulah teman pendamping dalam perjalanan, dan penjaga keluarga yang kami tinggalkan. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari beratnya perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, serta kepulangan yang buruk pada harta dan keluarga.”
- Saat pulang dari bepergian membaca doa yang sama dengan menambahkan lafaz ini di akhir doa:
آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ، لِرَبِّنَا حَامِدُونَ
Artinya: “Kami kembali, kami bertobat, kami tetap beribadah, dan kepada Tuhan kami, kami senantiasa memuji.”
Begitulah, doa di awal perjalanan adalah pintu keselamatan, dan ridha Allah di sepanjang jalan adalah tujuan terindah yang tak tertulis di GPS mana pun.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Maka marilah kita baca doa dengan kesadaran, bahwa kecelakaan bukan karena salah jalan, tapi karena takdir yang tidak kita kenali. Dan keselamatan bukan karena kemampuan kita atau kendaraan yang kita tumpangi atau jalankan, tapi karena perlindungan-Nya.
Doa naik kendaraan bukan menggugurkan kewajiban menggunakan sabuk pengaman, mengecek rem, atau tidak mengantuk saat menyetir. Justru, doa menyempurnakan ikhtiar.
Semoga Allah lindungi dan ridhai kita dalam setiap perjalanan kita. Aamiin. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
















Mina Indonesia
Mina Arabic