Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Menjaga Istiqamah Menuju Ridha Allah

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 10 Juli 2026 - 06:18 WIB

Jumat, 10 Juli 2026 - 06:18 WIB

261 Views ㅤ

Ilustrasi: Berdoa (ist)

KHUTBAH Jumat edisi kali ini berjudul “Menjaga Istiqamah Menuju Ridha Allah” yang ditulis oleh Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional yang juga Wartawan Kantor Berita MINA (Minanews). 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menciptakan pagi dan sore sebagai saksi atas perjalanan hidup kita. Allah yang memberi kita napas untuk terus berzikir, langkah untuk terus berbuat kebaikan, dan hati untuk terus mencintai kebenaran.

Setiap detik yang kita lalui adalah karunia yang tak terhitung. Mulai dari kesehatan yang memungkinkan kita hadir di masjid ini, kesempatan yang masih terbuka untuk bertaubat, hingga yang paling agung, yaitu iman dan Islam yang bersemayam di dada.

Maka, jangan biarkan bibir kita kering dari pujian, dan jangan biarkan hati kita lalai dari rasa syukur. Karena orang yang bersyukur akan ditambah nikmatnya, dan orang yang ingkar akan kehilangan makna hidup.

Shalawat teriring salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, beserta keluarganya, para sahabatnya, dan kita para pengikutnya.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian  

Khatib mewasiatkan kepada diri sendiri dan kepada seluruh jamaah, marilah kita perbaharui takwa kita. Sebab takwa adalah lentera di jalan yang gelap, bekal di perjalanan yang panjang, dan perisai di medan yang penuh ujian.

Allah berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 197).

Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa

Takwa bukanlah sekadar kata-kata yang terucap di bibir, tetapi ia adalah getaran yang meresap dalam jiwa. Ia adalah cahaya yang menyinari amal, dan ia adalah pemisah antara kebaikan dan keburukan. Dengan takwa, harta menjadi berkah, ilmu menjadi manfaat, dan hidup menjadi bermakna.

Allah juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. An-Nahl [16]: 128).

Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah kita senantiasa memperbarui takwa kita kepada Allah dengan segenap kerendahan hati, dan dengan harapan akan rahmat-Nya. Upaya menjaga takwa harus terus kita lakukan dengan istiqamah, menjaga diri dari terjangan kemaksiatan, dan di tengah banyaknya godaan dunia.

Dalam hal oini, Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah bersedih hati, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.'” (Q.S. Fushshilat [41]: 30).

Istiqamah bukanlah sekadar ucapan di bibir. Ia adalah keteguhan hati di atas jalan Allah, di saat dunia menggoda dan hawa nafsu membujuk.

Imam Al-Baidhawi menyebut istiqamah adalah keteguhan dalam iman, keikhlasan dalam amal, dan kesungguhan dalam menunaikan segala kewajiban.

Al-Qadhiy ‘Iyadh menambahkan bahwa istiqamah adalah mentauhidkan Allah, beriman kepada-Nya, dan terus menjalankan ketaatan hingga ajal menjemput. Ia adalah jalan lurus tanpa berbelok ke kanan atau ke kiri, tanpa menambah-nambah, tanpa mengurangi, tanpa mempersulit, dan tanpa menyepelekan.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Sabar Dalam Menghadapi Musibah

Allah menegaskan dalam ayat lain:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا

“Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu, dan (juga) orang yang bertaubat besertamu, dan janganlah kamu melampaui batas.” (Q.S. Hud [11]: 112).

Hadirin yang dirahmati Allah,

Baca Juga: Khutbah Jumat: Berbakti Kepada Orang Tua, Kunci Kesuksesan dan Keberkahan Hidup

Di tengah usaha kita untuk istiqamah, syaitan tidak pernah berhenti menggoda. Ia telah bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan anak-cucu Adam. Allah mengabadikan janji iblis dalam firman-Nya:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ – ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).'” (Q.S. Al-A’raf [7]: 16-17).

Imam Qatadah menjelaskan bahwa syaitan mendatangi manusia dari depan dengan menanamkan keraguan tentang hari kebangkitan dan akhirat. Dari belakang, ia menghiasi dunia dan menjadikannya tujuan utama. Dari kanan, ia menunda-nunda kebaikan. Dan dari kiri, ia menghiasi kejahatan dan maksiat.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Tugas Besar Rasulullah ﷺ dan Kunci Kesuksesannya

Ibnu Abbas menambahkan bahwa syaitan akan mengaburkan urusan agama dengan syubhat, serta menjadikan manusia senang kepada maksiat, fitnah, dan syahwat.

Syaitan tidak pernah lelah. Ia datang dari segala arah, kecuali dari atas, karena ia tidak sanggup menghalangi rahmat Allah yang turun dari langit.

Saudaraku yang semoga dijaga oleh Allah,

Ketika kita mulai merasa berat beribadah, ketika shalat terasa memberatkan, ketika Al-Qur’an mulai jarang dibaca, ketika amanah mulai diabaikan, dan ketika jihad mulai ditinggalkan, saat itulah syaitan tengah berjaya.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kemerdekaan Hakiki Sebagai Hamba Allah

Ia akan mendorong kita bermalas-malasan, hingga akhirnya kita meninggalkan kewajiban, bahkan terjerumus ke dalam hal-hal yang diharamkan. Ia akan membuat kita lalai, hingga putus hubungan kita dengan Allah. Na’udzubillahi min dzalik.

Maka, marilah kita jaga iman dan istiqamah kita. Jangan biarkan syaitan menguasai hati, jangan biarkan kelalaian merenggut ketaatan, dan jangan biarkan dunia membutakan mata hati.

Allah berfirman:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (Q.S. Al-An’am [6]: 153).

Hadirin yang berbahagia,

Istiqamah bukanlah perjalanan tanpa ujian. Ia adalah medan yang penuh dengan rintangan, namun setiap langkah di dalamnya dicintai oleh Allah.

Terutama sekali istiqamah mempertahankan diri dalam kehidupan berjama’ah, tidak mudah terbawa arus yang cenderung memecah belah, tetap dalam ketataan meskipun di Tengah banyak ujian.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan kita:

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

“Bagi setiap muslim, wajib taat dan mendengar kepada pemimpin dalam hal yang disukai maupun hal yang dibenci, kecuali jika diperintahkan dalam maksiat. Jika diperintahkan dalam hal maksiat, maka tidak boleh menerima perintah tersebut dan tidak boleh taat.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Maka, di tengah hiruk-pikuk dunia, marilah kita tetap berpegang teguh pada jalan Allah. Jangan biarkan perbedaan memecah belah dari kehidupan berjama’ah, jangan biarkan hawa nafsu menyesatkan, dan jangan biarkan syaitan merenggut istiqamah kita.

Semoga Allah meneguhkan langkah kita untuk tetap istiqamah di atas jalan yang lurus, mengokohkan iman kita, dan memperoleh ridha-Nya.

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.” Aamiin. []

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Khutbah Jumat: Kewajiban Menolong Warga Palestina yang Terjajah
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Hikmah
Khutbah Jumat