PEMAKAMAN Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang digelar Kamis, 9 Juli 2026, pekan lalu menyita perhatian dunia. Bukan hanya karena prosesinya yang monumental, tetapi juga karena jenazahnya baru dimakamkan lebih dari empat bulan setelah ia wafat dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu.
Penundaan tersebut dipanggap melanggar tradisi Islam yang mensyaratkan pemakaman secepatnya, idealnya dalam 24 jam. Lalu, apa alasan di baliknya?
Alasan utama penundaan ini adalah faktor keamanan dan logistik. Demikian informasi yang didapat dari kalangan pejabat Teheran. Saat Khamenei wafat, Iran sedang dalam kondisi perang dengan AS dan Israel. Menggelar pemakaman raksasa dengan jutaan pelayat di tengah konflik militer aktif dianggap terlalu berisiko.
Pemerintah Iran memilih menunggu hingga gencatan senjata dengan AS tercapai, dan situasi keamanan dianggap kondusif, sebelum menggelar upacara pemakaman yang melibatkan jutaan orang di lima kota di dua negara (Iran dan Irak).
Baca Juga: Trump Ancam Gunakan Veto Usai Demokrat Menang Pemilu Sela AS
Pertanyaan selanjutnya: bagaimana jenazah bisa bertahan selama itu? Kuncinya adalah pendinginan (cold storage), bukan pengawetan kimiawi (embalming).
Islam secara tegas melarang pengawetan jenazah dengan bahan kimia. Namun, hukum Syiah memperbolehkan penundaan pemakaman dan pengawetan dengan cara pendinginan dalam kasus-kasus luar biasa. Kamar mayat forensik Iran sudah terbiasa menyimpan jenazah selama berbulan-bulan, sehingga penundaan selama empat bulan “bukanlah hal yang aneh”.
Penundaan pemakaman yang melanggar tradisi Islam memang menuai pertanyaan. Secara hukum, penundaan makam memang tidak secara tegas diharamkan, namun mayoritas ulama menganggapnya tidak terhormat dan harus ada alasan kuat untuk melakukannya.
Jawabannya: Ada alasan kuat, yaitu keadaan darurat perang dan keamanan. Selain itu, sebuah “dispensasi keagamaan” dapat diberikan oleh otoritas Syiah untuk kasus seperti ini, terutama karena menyangkut pemimpin tertinggi negara.
Baca Juga: Demokrat Unggul di Pemilu Sela AS, Keisha Bottoms hingga Deb Haaland Ukir Sejarah Baru
Pemerintah Iran pun menyatakan bahwa jenazah Khamenei disimpan dengan “penuh penghormatan dan sesuai dengan standar agama dan hukum”.
Selain faktor keamanan, ada juga motif politik di balik waktu pemakaman. Pemakaman ini bertepatan dengan bulan Muharram, bulan suci bagi umat Syiah yang identik dengan pengorbanan dan kesyahidan.
Momen ini dipilih untuk membingkai kematian Khamenei sebagai “kesyahidan” sekaligus memperkuat narasi perlawanan terhadap AS dan Israel. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Yair Golan Kritik Netanyahu Usai Trump Umumkan Penghentian Bantuan AS untuk Israel
















Mina Indonesia
Mina Arabic