Menjadi Amil Hingga Anak Cucu (Oleh: Nana Sudiana)

  • Penulis adalah Sekjen. Forum Zakat dan Direksi Inisiatif Zakat Indonesia (FOZ & IZI)

“Biarkan anak-anak Anda mengamati tindakan kebaikan Anda yang tidak mengenal tempat dan waktu, karena hal itu dapat menular,” kata Kevin Heath

Kata siapa dinasti hanya untuk urusan politik dan kekuasaan. Kata siapa pula, dinasti itu pasti merugikan dan tak ada guna. Dalam urusan zakat, sah-sah saja bila para amil yang juga orang tua pada akhirnya anak-anaknya mengikuti dirinya menjadi amil pula. Bukan hanya anak, bahkan hingga ke anak cucu. Dinasti sendiri tak selalu negatif, asal daya juang dan spiritnya sama untuk kebaikan dan kesejahteraan negara dan bangsa, tak ada yang dilanggar dan terenggut haknya.

Menjadi amil zakat sekaligus menjadi orang tua adalah niscaya. Ini siklus alamiah saja. Setelah menikah lalu punya anak. Bagi seorang amil yang juga orang tua, menjadi ayah adalah sebuah kebanggan sekaligus kekhawatiran. Bangga karena Allah percaya untuk menjadi orangtua dan khawatir bila tak amanah dalam menjaga dan mendidiknya.

Orang tua di jaman disrupsi dan penuh tantangan seperti saat ini memang tidak mudah. Apalagi adanya pandemi atau wabah global seperti saat ini. Membesarkan anak-anak dengan sebagian besar waktunya di rumah lebih tidak mudah lagi. Apalagi bagi bapak atau Ibu yang terpaksa tetap bekerja ditengah pandemi yang melanda.

Tidak ada memang sekolah menjadi orang tua. Semua akhirnya kembali pada kemampuan dan keterampilan masing-masing dalam mengelola rumah tangga, termasuk merawat dan mendidik anaknya masing-masing. Walau sebenarnya setiap orang tua bisa belajar dari mana saja, termasuk mendapat inspirasi dari siapapun, tetap saja butuh kearifan dan kebijaksanaan untuk melihat mana yang sesuai serta paling tepat.

Dalam tulisan singkat ini, kita berharap ada gambaran singkat tentang bagaimana menjadi amil dan mewariskannya pada generasi penerus setelah kita. Baik generasi penerus secara genetis atau penerus secara ideologis.

Keluarga Amil, Keluarga Harapan

Bagi amil yang sudah berkeluarga, tentu saja memiliki istri dan anak-anak yang baik adalah sebuah kebahagiaan. Ini tak lain kebaikan dan berkah dari Allah SWT yang patut disyukuri. Ini juga adalah nikmat dan anugerah kehidupan dari-Nya. Walau hal ini jamak terlihat, namun tetap saja menjadi bagian keluarga yang baik adalah harapan terindah yang dimiliki seorang amil.

Dari data amil yang ada di Indonesia, ternyata jumlah amil yang sudah menikah lebih sedikit dari yang belum menikah. Dan dari yang sudah menikahpun, sampai saat ini masih ada yang sedang berjuang agar dikaruniai seorang anak dalam keluarganya. Walau memiliki anak pastinya akan membuat kerepotan baru dalam mengurusnya dibanding ketika hanya suami istri, namun faktanya ada keindahan sekaligus kesyukuran atas amanah dari Allah yang berupa anak ini.

Dengan begitu, ditengah situasi apapun, amanah jadi orang tua harus dijalani dengan sebaik-baiknya. Juga tidak ada alasan untuk mengeluh dengan keberadaan anak-anak ditengah kehidupan keluarga kita. Begitu dapat amanah anak, bagaimanapun caranya kita harus mulai merencanakan dan menyiapkan perawatan dan pendidikan anak-anak hingga nanti ia tumbuh dewasa dan mandiri.

Dan semua orang tua, ternyata harapan-nya sama, ingin anaknya soleh atau solehah dan kehidupannya berhasil, bahkan melibihi orang tuanya. Harapan umum orang tua pastinya selain berprestasi lebih dari orang tua dari sisi pendidikan, karier dan kedudukannya, juga lebih baik kehidupan agamanya. Ini terlihat umum dan sederhana, namum faktanya, tak semua orang tua mendapati itu semua. Ada yang senang anaknya berhasil secara materi, namun kadang ia kurang baik dalam hal lainnya. Sebaliknya, ada saja kekurangan anak di mata orang tua, walau mungkin tak pernah muncul dalam kata atau ujaran verbal dari mereka.

Saat seorang anak merasa bangga kepada orang tuanya, maka hubungan yang terjadi antara anak dan orang tua akan menjadi lebih positif dan terjalin kehangatan. Ketika seorang anak bangga terhadap orang tua, termasuk profesinya sebagai amil zakat, sesungguhnya ini merupakan proses identifikasi peran oleh anak, karena ia pada dasarnya belajar tentang peran dirinya kelak lewat orang tua dan orang-orang di sekitar lingkungannya.

Berkaitan soal orang tua yang menjadi kebanggaan anak, bukan berarti seorang ayah atau Ibu harus berprestasi, atau menduduki jabatan yang tinggi. Menjadi orang tua yang membanggakan anak adalah soal bagaimana orang tua dapat memenuhi kebutuhan anak, baik secara lahir maupun secara batin atau kasih sayangnya. Para orang tua yang amil, walaupun selalu sibuk bekerja dan berada dalam kepadatan melayani orang lain, tetaplah mengelola waktunya untuk berbagi kasih sayang dan perhatian dengan anak. Perhatian semacam ini dari orang tua, akan memicu kebanggan anak tanpa memperhitungkan pekerjaan yang hebat atau kedudukan yang tinggi. Ini amat berarti bagi anak, dibandingkan bila para orang tua yang penuh kekayaan dan kemewahan hidupnya, tapi tak punya waktu untuk mereka.

Wallahu A’lam Bissoab

(A/R8/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)