Menolak Lupa Tragedi Genosida Khojaly

Oleh: Sajadi Wartawan Kantor Berita MINA 

Azerbaijan merupakan negara sekuler pecahan Uni Soviet dengan mayoritas 95 persen penduduknya beragama Islam. Namun, kehidupan Islam di negara itu terbilang unik, penganut Syiah dan Sunni hidup harmonis berdampingan secara damai selama puluhan tahun.

Dari segi ekonomi, rakyatnya terbilang makmur. Negara yang resmi berdaulat pada tahun 1991ditopang oleh kekayaan minyak dan gas alamnya, bahkan kualitas minyaknya disebut terbaik di dunia, bahkan Indonesia menjadi salah satu pengimpor minyaknya.

Namun di sela-sela kehidupan rakyat Azerbaijan yang begitu makmur dan terpenuhi kebutuhan, ada peristiwa masa lalu memilukan yang terus diingat hingga saat ini.

Sudah 27 tahun berlalu peristiwa Genosida Khojaly atau pembantaian yang dilakukan oleh tentara Armenia terhadap penduduk Khojaly, sebuah distrik di daerah Nagorno-Karabkh, Azerbaijan, Eropa Timur.

Namun, peristiwa tersebut tetap terus diingat oleh warga Azerbaijan. Charge d’Affaires Kedutaan Besar Azerbaijan untuk Indonesia, Mr. Ruslan Nasibov menceritakan hal tersebut dalam Seminar Humanity: In Search ofJustice for Peaceful Coexsitence yang diadakam bekerja sama dengan Perpustakaan Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat.

Tanggal 25 Februari 1992, pasukan Armenia yang dibantu oleh pasukan Rezim ke-366 Uni Soviet menghantam distrik Khojaly,   menewaskan 613 warga sipil Azerbaijan, termasuk 106 perempuan dan 63 anak-anak dan 487 korban lainnya mengalami luka kritis, dan 1.275 orang mengungsi.

Dari ribuan orang yang mengungsi tersebut, ternyata masih banyak yang meninggal lagi, baik saat dalam perjalanan maupun berada dit tempat pengungsian. Bahkan dalam sebuah video ditunjukan seorang ibu pengungsi yang tidak sanggup menjaga bayinya hingga meninggal membeku dalam pelukannya.

Bukan hanya itu, laporan Caspian Strategi Institute (CSI) juga mengatakan, invasi pasukan Armenia menyebabkan kepunahan dan hancurnya warisan budaya di Azerbaijan, mencakup 927 Perpustakaan, 464 Monumen bersejarah, 44 Candi, dan 9 Masjid, semua bangunan tersebut hancur.

Hingga saat ini Nagorno-Karabakh dan 7 distrik yang berdekatan, yang mencakup lebih dari 20 persen wilayah Azerbaijan, masih di bawah pendudukan Armenia.

Upaya Menolak Lupa

Pemerintah Azerbaijan terus menggelorakan peristiwa tersebut setiap tanggal 25 Februari sebagai hari yang tidak terlupakan. Bukan hanya dalam negeri, tapi menyuarakan apa yang sebenarnya terjadi di Distrik Khojaly ke dunia internasional.

“Peristiwa ini sangat penting, sehingga setiap tahun diperingati sebagai penghormatan terhadap para korban,” kata Mr. Ruslan.

Sementara itu, Kepala Perpustakaan UI, Dr. Fuad Gani menanggapi positif peringatan tahunan ini dan berharap bisa menjadi pelajaran bagi generasi sekarang.

“Saya kira itu adalah hal yang baik untuk mengungkapkan fakta-fakta yang terjadi langsung didengar dari sumbernya, dan diharapkan peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi kita agar peristiwa tersebut tidak terulang lagi,” jelas Fuad.

Mr. Ruslan mengungkapkan, kondisi Distrik Khojaly saat ini dalam keadaan hancur dan masih dalam pendudukan negara Armenia. Pihaknya telah dan akan terus mengupayakan agar merebut kembali tanah itu agar para pengungsi dapat kembali ke rumahnya masing-masing.

Untuk itu, Pemerintahan Azerbaijan akan terus memperjuangkan nasib para pengungsi dan akan membawa para pelaku Genosida Khojaly ke pengadilan internasional agar mendapatkan hukuman yang setimpal.

Salah satu upaya Azerbaijan adalah dengan “Justice of Khojaly“, sebuah kampanye yang diinisiasi oleh Heydar Aliyev untuk menyadarkan dunia internasional  tentang yang terjadi di Distrik Khojaly. Kampanye ini diluncurkan pada 8 Mei 2008.

Beberapa tujuan strategis kampanye ini adalah menyadarkan dunia internasional secara politik tentang peristiwa pembantaian Khojaly. Kemudian, mengharuskan Pemerintah Armenia untuk meminta maaf atas kejadian tersebut dan membawa pelakunya ke pengadilan internasional.

Lebih dari 120 ribu orang 115 organisasi di seluruh dunia telah bergabung dalam kampanye tersebut. Berbagai cara melakukan kampanye tersebut seperti melalu media sosial, buku, film dokumentasi, seminar dan konferensi.

Menurut Mr. Ruslan, peran internasional sangat diperlukan dalam kampanye ini, termasuk Indonesia sebagai negara yang juga mayoritas penduduknya beragama Islam. Ia mengatakan Indonesia dan Azerbaijan mempunyai hubungan yang baik dalam politik maupun ekonomi.

Nia S. Amira adalah seorang jurnalis dan penggerak humanis asal Indonesia yang pernah diundang ke Azerbaijan untuk melihat secara langsung bekas wilayah yang pernah dikuasai Armenia. Ia juga mendukung gerakan penyelesaian konflik dua negara secara konkrit.

Atas kontribusinya, selain mendapatkan penghargaan dari lembaga peace building bentukan kedua negera tersebut, ia juga satu-satunya sosok dari ASEAN yang pernah diundang langsung ke Azerbaijan.

Dengan berbagai usaha ini diharapkan peristiwa Genosida Khojaly terus diingat oleh generasi penerus dalam rangka menghormati para korban dan membantu keluarga korban yang masih bertahan hidup. (A/Sj/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)