Meraih Pahala di Bulan Dzulhijjah

Oleh: Nur Rahmi, wartawan Kantor Berita Islam MINA

Apa yang terbesit dalam fikiran kita, jika mendengar bulan Dzulhijjah? Bulan di mana orang menyempurnakan rukun Islam. Benarkah, bulan itu hanya diperuntukkan untuk mereka yang mendapat undangan dari Allah mengunjungi rumahnya, semata?

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman;

وَ الْفَجْرِ . وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 1 – 2)

Dalam kitab Lathaiful Ma’arif hal. 469, Ibn Rajab mengatakan malam yang sepuluh dimaksud dalam surat tersebut adalah sepuluh hari pertama dalam bulan Dzulhijjah. Hal yang sama dikemukakan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.

Ayat kedua, Allah bersumpah dengan menyebut malam sepuluh, yang artinya hari itu mesti memiliki keutamaan, berbeda dengan malam-malam lainnya. Sama seperti sumpah Allah terhadap waktu yang lainnya, “Wal Ashri” (demi masa), “Wal Qolami” (dan demi pena), dan seterusnya.

Amal Shalih yang Dicintai Allah

Dalam beberapa hadist menyebutkan, mengerjakan amal shaleh pada hari pertama di bulan Idul Qurban lebih utama dari jihad fie sabilillah sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

Ibnu ‘Abbas radhiallaahu’anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallampernah bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَل الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأيَّامِ – يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ – قَالُوا: يَا رَسُول اللَّهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيل اللَّهِ؟ قَال: وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيل اللَّهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْء

“Tidak ada satu rangkaian hari pun, di mana amal shalih pada hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah melebihi amal-amal shalih pada hari-hari ini (10 hari pertama Dzulhijjah-pent). Lantas para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, tidak juga dengan (amal) jihad di jalan Allah?”, beliau bersabda: “Tidak juga dengan jihad di jalan Allah, kecuali seorang mujahid yang keluar untuk berperang (di jalan Allah) dengan jiwa dan harta bendanya, lantas ia gugur dan tidak ada yang kembali sedikitpun.” [Shahih Bukhari: 969, Shahih Sunan Abi Dawud: 2438, hadits di atas adalah lafaz Abu Dawud]

Hadist lain dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

شَهْرَانِ لاَ يَنْقُصَانِ شَهْرَا عِيدٍ رَمَضَانُ وَذُو الْحَجَّةِ

“Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak pernah berkurang, kedua bulan itu adalah bulan Ramadhan dan bulan Dzulhijjah.” (HR. Al Bukhari & Muslim)

Dari A’isyah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

“Tidak satu hari dimana Allah paling banyak membebaskan seseorang dari neraka melebihi hari arafah. Sesungguhnya Dia mendekat, kemudian Dia membangga-banggakan mereka (manusia) di hadapan malaikat. Dia berfirman: Apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim, An Nasa’i, dan Al Hakim)

Dari beberapa hadits tersebut menunjukkan bahwa beramal pada sepuluh hari pada bulan Dzulhijjah lebih dicintai atau lebih utama di sisi Allah dari pada beramal pada hari-hari yang lain. Maka dahulu para sahabat selalu berlomba-lomba dalam kebaikan dan memperbanyak ibadah saat memasuki bulan Haji.

Mengejar Pahala

Banyak pahala yang bisa kita raih di bulan yang Allah istimewakan ini, sebagaimana banyak hadis menyebutkan, diantaranya;

وروى الإمام أحمد رحمه الله عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام أعظم ولا احب إلى الله العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

“Imam Ahmad, rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid”.

مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلاَ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ خَيْرٍ يَعْمَلُهُ فِيْ عَشْرِ الأَضْحَى… وَزَادَ: ” قَالَ: وَكَانَ سَعِيْدُ بْنُ جُبَيْرٍ إِذَا دَخَلَ أَيَّامَ الْعَشْرِ اِجْتَهَدَ اِجْتِهَادًا شَدِيْدًا حَتَّى مَا يَكَادُ يَقْدِرُ عَلَيْهِ

“Tidak ada satu amalan pun yang lebih suci di sisi Allah ‘azza wa jalla, dan tidak juga lebih besar pahalanya dibandingkan dengan kebaikan yang diamalkan oleh seorang hamba pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah…” terdapat tambahan riwayat: “(bahwasanya) Sa’id bin Jubair rahimahullah, jika telah masuk 10 hari pertama, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan kesungguhan yang luar biasa, sampai-sampai hampir saja beliau tidak mampu lagi.”

Riwayat tersebut, menurut Imam al-Albani dalam Irwaa-ul Ghaliil (3/398, Cet. Maktab Islamiy, 1405-H), derajatnya hasan.

Pahala Haji

Banyaknya saudara-saudara kita melakukan ibadah haji ke Baitullah untuk menyempurnakan rukun Islam kelima, tak banyak diantara kita yang bersedih karena belum bisa mendapat undangan dari Allah untuk mengunjungi rumah-Nya. Sebaiknya jangan larut dalam kesedihan, karena Allah selalu memberikan kabar gembira buat hambanya yang senantiasa berusaha untuk meraih ridha-Nya. Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ ، وَعُمْرَةٍ، تَامَّةٍ ، تَامَّةٍ ، تَامَّةٍ

“Siapa yang shalat Shubuh berjamaah, kemudian dia duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka baginya pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna.” [HR. at-Tirmidzi: 586, lih. Silsilah ash-Shahihah no. 3403, al-Albani]

Penghapus Dosa Tahun Lalu dan yang Akan Datang

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

“Puasa Hari Arafah; aku berharap pada Allah bisa menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.” [Shahih Muslim: 1162]

Ibadah Qurban 

Ibadah Qurban menjadi ibadah yang memiliki tempat istimewa, karena ibadah yang sunnah namun digandengkan dengan perintah dalam menegakkan shalat dalam al-Qur’an.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Ikhlaskanlah shalat hanya kepada Tuhanmu, serta sembelihlah kurban hanya untuk-Nya dan atas nama-Nya semata.” [at-Tafsir al-Muyassar: 602]

Terdapat sebuah hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

“Tidak ada amalan manusia yang lebih dicintai oleh Allah untuk dilakukan pada hari Nahr (Idul Adha), melebihi amalan mengalirkan darah (qurban). Karena qurbannya akan datang pada hari kiamat dengan tanduknya, bulunya, dan kukunya. Dan darahnya akan menetes di tempat yang Allah tentukan, sebelum darah itu menetes di tanah. Untuk itu hendaknya kalian merasa senang karenanya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Turmudzi no 1493, Ibn Majah 3126, al-Hakim dalam al-Mustadrak 7523.

Banyaknya pahala yang Allah Subahana Wa Ta’ala berikan kepada kita, sudah seyogyanya dengan bersungguh-sungguh kita kejar semata-mata meraih ridha-Nya, sebagaimana para pendahulu kita.

Diceritakan oleh Al Mundziri dalam At Targhib wa At Tarhib (2/150) bahwa Sa’id bin Jubair (Murid terbaik Ibn Abbas) ketika memasuki tanggal satu Dzulhijjah, beliau sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, sampai hampir tidak mampu melakukannya. Pertanyaannya, bagaimana dengan kita?. (A/P3/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)