Jakarta, MINA – Nilai tukar rupiah pada Selasa (14/7) kembali merosot di angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai terus memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi nasional.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp18.099 per dolar AS, sementara di pasar spot ditutup menguat tipis ke Rp18.091 per dolar AS.
Meski menunjukkan penguatan dibanding sehari sebelumnya, nilai tukar tersebut masih berada di level yang relatif lemah dan berpotensi memengaruhi harga berbagai kebutuhan masyarakat.
Pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Di tingkat global, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik antara Amerika Serikat dan Iran, mendorong investor memburu dolar AS sebagai aset aman (safe haven).
Baca Juga: Semeru Erupsi Dua Kali Hari Ini, Warga Diminta Jauhi Aliran Besuk Kobokan
Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga masih menjadi sentimen yang memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Tekanan terhadap nilai tukar akan berdampak langsung pada meningkatnya harga barang yang memiliki kandungan impor, seperti bahan baku industri, alat kesehatan, obat-obatan, hingga produk elektronik.
Kenaikan biaya impor tersebut berpotensi diteruskan ke harga jual barang dan jasa, sehingga mempersempit daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.
Di sisi lain, depresiasi rupiah juga meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri pemerintah maupun dunia usaha yang menggunakan denominasi dolar AS.
Namun, pelemahan mata uang domestik dapat memberikan keuntungan bagi pelaku usaha berorientasi ekspor karena nilai penerimaan devisa menjadi lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah. Kondisi ini menunjukkan dampak fluktuasi kurs tidak dirasakan secara merata di seluruh sektor ekonomi.
Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui bauran kebijakan moneter, stabilisasi pasar valas, dan koordinasi dengan pemerintah.
Penguatan rupiah pada perdagangan Selasa disebut turut didorong oleh sentimen positif setelah lembaga pemeringkat S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan prospek stabil, sehingga meningkatkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional.
Menjaga daya beli masyarakat menjadi tantangan utama di tengah nilai tukar yang masih berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Pemerintah dinilai perlu terus mengendalikan inflasi, memperkuat produksi dalam negeri, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor agar gejolak nilai tukar tidak berdampak lebih besar terhadap kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional. []
Baca Juga: BPOM Ungkap Sejumlah Vape Mengandung Obat Bius Etomidat dan Ketamin
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic