Peci Aceh Terinspirasi Peci Turki (Oleh: Aprizal Rahmad)

Alwasliyah Masri baru saja pulang megantar pesanan kopiah hasil kerajinannya, ke sejumlah toko souvenir di Banda Aceh. Pria berusia 50 tahun itu, datang ke Kutaraja dari Desa Meunasah Masjid Teupin Punti, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara.

Di sana, Masri punya rumah produksi kopiah khas Aceh. Usaha itu dikelolanya sejak tahun 1993. Ia mewarisi usaha kopiah orangtuanya. Usaha pembuatan peci Aceh ini awalnya dibangun dengan susah payah. Namun, peci produksi Masri kini telah diekspor hingga ke Brunei dan Malaysia.

Selasa siang (30/7), di sebuah warungkopi di Aceh Besar, Masri menceritakan awal mula  mengembangkan usaha peci khas Aceh itu. Bermula dari orang tuanya, bernama Saidi,  yang hijrah ke Pesantren Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan pada tahun 1942 di masa pendudukan Jepang di Indonesia.

“Di sana orang tua saya melihat peci Turki. Sedang peci Aceh kan  bentuknya bulat, tidak bisa dilipat, beda dengan peci Turki yang lebih elastis. Waktu itulah ayah belajar cara membuat peci,” kata Masri, tatkala diwawancarai, Rabu (31/7).

Mula-mula orang tua Masri  membuat peci dengan on gersong (daun pisang kering), dan tikar on iboh, dibentuk menyerupai peci, dibalut dengan kain beledru Jepang yang dijual di kaki lima, lalu dijahit dengan benang serat nanas.

Dalam sehari, Saidi mampu memproduksi satu hingga dua peci. Peci itu dijual kepada santri di pesantren tersebut. Sementara uang hasil penjualan digunakannya untuk kebutuhan hidup sehari-hari di pesantren.

Usai menimba ilmu di pesantren di Labuhan Haji itu, Saidi memutuskan untuk pulang ke Aceh Utara. Di sanalah ia mulai mengajar warga setempat model baru membuat peci. “Saat itu peci belum ada motif, masih polos,” sebut Masri

Bersama warga di desa setempat, Saidi mulai memproduksi peci secara masal, untuk dipasarkan ke berbagai dareah di Aceh. Peci itu terkenal seantero Aceh dengan nama peci Gedong, karena asal produksinya di wilayah Geudong, Pase, Aceh Utara.

Tahun 1990-an, orang tua Masri berpesan untuk meneruskan usahanya. Masri menerima pesan itu dan mulai berkreasi dengan kopiah bermotif. Motif pertamanya adalah rencong, senjata perang khas Aceh.

“Motif itu saya coba tawarkan ke berbagai penjahit yang ada di sana, alhamdulillah mulai banyak peminat,” ungkapnya.

Tiga tahun berselang, motif rencong mulai dikenal, lantas Masri mulai memproduksi masal untuk dipasarkan. Motif rencong hasil kerajinannya dilirik pelancong yang ke Aceh, sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Saat ini, motif produksinya semakin variatif. Motif Rencong, Pinto Aceh, Kerawang Gayo menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin membeli peci hasil kerjainannya.

“Paling banyak peminat itu, motif Pinto Aceh dan Rencong, tapi ada juga yang pesan khusus untuk motif-motif tertentu, kita juga buat sesuai pesanan,” paparnya.

Kini perhari usahanya mampu memproduksi 200 hingga 250 peci. Produksi peci miliknya tidak dibuat di satu tempat, melainkan memberdayakan rumah-rumah warga setempat. Masri melatih warga untuk membuat peci, untuk dikerjakan sendiri di rumah masing-masing.

Peci yang sudah selesai dari warga, baru diantar langsung ke rumah produksinya, untuk dikemas dalam kotak, sebelum dikirim ke toko-toko souvenir.

“Ada sekitar 50-an yang memproduksi peci di bawah saya, ada juga yang produksi merek sendiri. Kalau ke kampung saya, boleh lihat tidak ada yang nganggur, semua sibuk dengan produksi peci,” sebutnya.

Peci karya Masri dijual mulai Rp 45.000 hingga Rp 130.000 perbuah. Dalam sehari peci miliknya bisa laku puluhan hingga ratusan. Jumlah ini kian meningkat saat masa Maulid tiba dan jelang bulan Ramadhan.

Peci dengan kain berkualitas terbaik beledru dibanderol seharga Rp 130.000 per peci. Itu harga termahal, dengan kualitas terbaik. Tidak jarang pula pengunjung dari luar Aceh langsung membeli ke sentral pengrajin peci itu. (L/AP/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)