Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pembangunan Huntara Lambat, Korban Banjir Aceh Timur Masih Tinggal di Tenda

Ansaf Muarif Gunawan Editor : Rudi Hendrik - Rabu, 25 Februari 2026 - 17:53 WIB

Rabu, 25 Februari 2026 - 17:53 WIB

20 Views ㅤ

Pembangunan Huntara di Aceh Timur. (Foto: dok. BNPB)

Aceh Timur, MINA – Puluhan warga terdampak banjir bandang di Desa Sahraja dan Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, hingga kini masih bertahan di tenda pengungsian.

Lambatnya pembangunan hunian sementara (Huntara) membuat para penyintas belum dapat kembali menempati tempat tinggal yang layak, meski bencana telah berlalu empat bulan.

Warga mengeluhkan lambatnya pembangunan Huntara yang ditangani Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sehingga mereka belum dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.

Kepala Dusun Rantau Panjang, Mujahidin, mengatakan hingga kini belum ada kepastian penyelesaian pembangunan Huntara di wilayah mereka.

Baca Juga: Dugaan Kesalahan Prosedur Gerebek Ponpes, Anggota DPR Nasir Djamil Minta Mabes Polri Usut Tuntas

“Pihak vendor beralasan ingin membangun Huntara dengan sistem komunal agar pengerjaannya cepat selesai. Namun masyarakat menolak karena kami memiliki tanah sendiri dan meminta pembangunan dilakukan secara insitu atau di lokasi tanah masing-masing,” ujar Mujahidin, Rabu (25/2).

Ia menjelaskan, perbedaan konsep pembangunan antara warga dan pihak pelaksana proyek menjadi salah satu penyebab terhambatnya realisasi Huntara. Warga menginginkan pembangunan dilakukan di atas lahan milik masing-masing, bukan secara terpusat.

Sementara itu, pihak pelaksana proyek menyampaikan bahwa kondisi geografis menjadi tantangan utama dalam proses pembangunan. Mereka menyebut medan ekstrem di wilayah Sijudo menyulitkan mobilisasi alat berat dan material bangunan ke lokasi terdampak.

Di lapangan, warga yang tak lagi sanggup menunggu terpaksa membangun gubuk darurat secara mandiri. Bahan bangunan yang digunakan berasal dari kayu sisa hanyutan banjir yang mereka kumpulkan di sekitar lokasi.

Baca Juga: Denda Pajak Kendaraan di Jakarta Dibebaskan hingga 31 Desember 2026

Saat ini, satu-satunya bangunan yang telah rampung di Dusun Rantau Panjang adalah meunasah yang digunakan sebagai tempat ibadah. Namun, warga di Dusun Bedari dan Sijudo masih harus melaksanakan ibadah di bawah tenda darurat dengan fasilitas seadanya, termasuk menjelang bulan suci Ramadhan.

Warga berharap pemerintah segera mempercepat penyelesaian Huntara agar mereka dapat kembali hidup dengan lebih layak dan aman. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Kualitas Udara Kota Palangka Raya Berbahaya, 9 Daerah Lain Tidak Sehat

Rekomendasi untuk Anda