Jakarta, MINA – Yayasan Wasilah (Wadah Silaturahmi Ummat) kembali menginisiasi kegiatan Maqdisy Heroes Long March Vol. 02 yang akan digelar di Jakarta, pada Sabtu (16/5). Kegiatan yang didukung Aqsa Working Group itu menjadi pembuka rangkaian Maqdisy Talent Hunt 1448 H.
Ajang pembinaan dan pencarian bakat bagi anak dan remaja usia 5–19 tahun tersebut digagas oleh Annisa Theresia sebagai upaya membangun generasi muda yang sadar akan isu Baitul Maqdis dan Palestina sejak dini.
Program itu berangkat dari semangat Surah Al-Anfal ayat 65 tentang pentingnya melahirkan generasi yang sabar, tangguh, dan berani menyuarakan kebenaran.
Para peserta diharapkan tidak hanya berkembang dalam kreativitas dan keberanian berekspresi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap perjuangan kemanusiaan global.
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
Kegiatan tersebut turut mendapat dukungan dari berbagai tokoh, influencer, pegiat dakwah digital, komunitas, hingga aktivis kemanusiaan. Di antaranya Ketua Julid Fii Sabilillah Erlangga Greschinov, pegiat dakwah digital Mosfeed ID, penulis buku Gia Josie, aktivis seni Gita Hastarika, Annisa Kartini, serta Bang Iyut.
Turut hadir pula sejumlah pegiat dan relawan dari Aqsa Working Group yang selama ini aktif mengedukasi masyarakat terkait isu Palestina dan pembebasan Masjid Al-Aqsa melalui literasi, advokasi, dan aksi kemanusiaan.
Dengan mengusung tema “Mengenang Nakbah dan Belajar dari Gaza yang Tak Pernah Menyerah”, kegiatan ini menjadi momentum refleksi atas tragedi Nakbah 1948, yakni peristiwa pengusiran lebih dari 750 ribu rakyat Palestina dari tanah kelahirannya saat berdirinya entitas Zionis Israel.
Hingga kini, penderitaan rakyat Palestina masih berlangsung. Gaza terus menghadapi blokade, agresi militer, penghancuran fasilitas sipil, serta krisis kemanusiaan yang menewaskan puluhan ribu warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan.
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
Namun di tengah situasi tersebut, rakyat Gaza tetap menunjukkan keteguhan, keberanian, dan semangat bertahan yang menginspirasi dunia.
Panitia menegaskan, kepedulian terhadap Palestina tidak boleh hanya muncul ketika terjadi serangan besar atau tragedi viral semata. Kesadaran tentang Baitul Maqdis dan Palestina perlu dibangun sebagai gerakan jangka panjang melalui pendidikan, literasi, aksi nyata, dan pembiasaan kepedulian sejak usia dini.
Rombongan aksi yang terdiri dari anak-anak dan remaja nantinya dibagi ke dalam lima kelompok. Masing-masing kelompok dipimpin oleh lima besar Maqdisy Talent 1447 H hasil kompetisi 27 Rajab lalu. Mereka akan menyuarakan yel-yel edukatif, membagikan stiker, serta menyampaikan pesan solidaritas kepada masyarakat dan pengunjung di kawasan GBK.
Penanggung jawab kegiatan, Annisa Theresia mengatakan aksi tersebut menjadi pondasi penting dalam menanamkan kesadaran literasi Baitul Maqdis kepada anak-anak sejak dini.
Baca Juga: Forum Zakat Soroti Perlindungan dan Profesionalisme Amil
“Long march adalah teladan yang pernah dicontohkan Rasulullah di Makkah, bahkan ketika jumlah Muslim masih sedikit setelah Umar bin Khattab masuk Islam. Kita ingin anak-anak memiliki keberanian untuk menyuarakan nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan itu juga mempertemukan para pejuang cilik Baitul Maqdis yang telah berkarya melalui puisi, buku, kerudung, orasi, seni, dan berbagai media kreatif lainnya.
“Melalui kegiatan ini kita membangun solidaritas dan kepedulian terhadap Palestina yang ditumbuhkan sejak usia dini melalui kegiatan edukatif, kreatif, dan penuh makna.
Collective consciousness atau kesadaran kolektif sangat penting untuk melahirkan collective action menuju gerakan global,” tambahnya.
Baca Juga: Tenggelamnya KM Virgo, Polisi Tetapkan 4 Orang sebagai Tersangka
Ia menegaskan, setiap langkah kecil memiliki arti besar dalam membangun gerakan solidaritas global bagi Palestina.
Sementara itu, Ketua Presidium Aqsa Working Group, M. Anshorullah mengapresiasi inisiatif Yayasan Wasilah dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut sebagai bagian dari rangkaian program Maqdisy Talent Hunt.
Ia menyerukan kepada masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak dan remaja, untuk mengikuti kegiatan tersebut sebagai bentuk keberpihakan terhadap Palestina dan wujud ketaatan pada konstitusi serta nilai-nilai agama.
Menurut Anshorullah, Hari Nakba yang diperingati setiap 15 Mei merupakan respon dan perlawanan bangsa Palestina atas deklarasi entitas Zionis yang mendirikan apa yang disebut sebagai Negara Israel pada 14 Mei 1948.
Baca Juga: Anak Krakatau Erupsi Dua Kali, Abu Vulkanik Bergerak ke Barat Laut
“Jika Mei 1948 diperingati oleh entitas Zionis sebagai hari kemerdekaan, sebaliknya bangsa Palestina dan dunia memperingatinya sebagai malapetaka (Nakba).
Tahun-tahun itu ratusan ribu warga Palestina diusir, dibunuh, dan dirampas tanah serta harta bendanya. Sampai hari ini malapetaka itu masih terus berlangsung. Dunia menyebutnya dengan on going Nakba,” ujarnya.
Karena itu, lanjutnya, kegiatan tersebut penting dilakukan sebagai bagian dari perlawanan global terhadap on going Nakba, genosida, pembersihan etnis, perampasan properti, serta penjajahan atas Palestina dan Masjid Al-Aqsa yang masih berlangsung hingga 78 tahun lamanya. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Rupiah Hari Ini Rp17.914 per Dolar AS
















Mina Indonesia
Mina Arabic