Islamabad, MINA – Pembicaraan lanjutan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akan dimulai di Islamabad, Pakistan, pada 10 April 2026 mendatang, sebagai bagian dari upaya meredam konflik yang berlangsung lebih dari sebulan di kawasan Asia Barat.
Pertemuan ini difasilitasi oleh pemerintah Pakistan sebagai mediator untuk mencari jalan keluar diplomatik di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara serta sekutu masing‑masing. Pakistan Press Agency (PPA) melaporkan, Rabu (8/4).
Rencana perundingan tersebut muncul setelah AS dan Iran menyetujui gencatan senjata dua pekan yang awalnya dimediasi Pakistan. Kedua pihak menangguhkan sebagian aksi militer dengan syarat akses aman ke Selat Hormuz dibuka kembali.
Diskusi 10 April mendatang diharapkan menjadi forum formal untuk memperluas kesepakatan ini dan menjajaki gencatan yang lebih panjang maupun penyelesaian konflik secara permanen.
Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya
Diplomasi Pakistan mendapat perhatian luas karena negara itu memainkan peran penting di balik skenario perdamaian saat konflik antara AS–Israel melawan Iran meningkat.
Islamabad mendorong jalur negosiasi yang tidak langsung, sekaligus memanfaatkan hubungan historisnya dengan Teheran dan Washington untuk membuka dialog lintas pihak.
Sebelum pembicaraan formal, Iran telah menyampaikan tuntutannya melalui perantara, antara lain yang berkaitan dengan kepentingan nasional dan keamanan permanen, memberi indikasi bahwa Teheran menginginkan penghentian konflik yang lebih komprehensif daripada sekadar jeda militer sementara.
Meski mekanisme gencatan senjata dan negosiasi sudah berjalan, situasi di lapangan tetap rapuh karena kedua pihak memiliki posisi yang berbeda tentang prioritas utama.
Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa
AS ingin memastikan pembukaan jalur pelayaran dan menekan isu nuklir, sementara Iran menekankan penghentian semua aksi militer dan jaminan keamanan sebelum menyetujui kesepakatan apa pun.
Kehadiran perundingan di Pakistan pada 10 April merupakan momentum penting bagi upaya diplomasi regional untuk menghentikan konflik yang telah berdampak pada stabilitas pasar energi global dan meningkatkan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik
















Mina Indonesia
Mina Arabic