Pendidikan Berbasis Al-Quran

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA

 

 

Segenap pengelola dan praktisi pendidikan hingga orang tua banyak yang terus mencari format dan bentuk lembaga pendidikan yang ideal untuk menyiapkan generasi penerusnya agar bisa selamat di dunia dan akhirat.

Terlebih dalam skala lebih luas secara nasional, kesuksesan dan kemajuan suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh salah satu faktor utamanya yaitu pendidikan. Sebab, dengan pendidikanlah pola pikir, sikap dan wawasan anak didik akan diubah dan berubah. Sejarah peradaban dunia telah membuktikan bahwa kemajuan sebuah bangsa erat kaitannya dengan pendidikan bangsa tersebut.

Pesatnya teknologi Jepang dengan semangat Kaizen, kemajuan dunia Barat terutama Eropa pasca Renaisance, dan lebih-lebih jauh sebelum itu adalah Islam dengan Iqra’, semangat belajar dan membaca. Iqra, yang merupakan ajaran di dalam Al-Quran, menjadikan manusia terdorong untuk membaca, mempelajari, mengeksplorasi, menulis hingga mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi seluas-luasnya.

Allah pun memberikan penghargaan tinggi bagi orang-orang yang berilmu pengetahuan, tapi yang beriman, seperti dalam firman-Nya:

…يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬‌ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٌ۬

Artinya: “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Mujadalah [58]: 11).

Hingga berkembanglah ilmu pengetahuan, dengan tetap berbasiskan iman kepada Allah, sehingga ilmu itu digunakan untuk kebaikan, kemaslahatan dan kesejahteraan manusia serta alam lingkungan (prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin). Sesuai dengan ajaran Islam itu sendii yang bertujuan memberikan kesejahteraan bagi segenap alam. Seperti tertuang di dalam Al-Quran:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا رَحۡمَةً۬ لِّلۡعَـٰلَمِين

Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk [menjadi] rahmat bagi semesta alam.” (Qs. Al-Anbiya [21]: 107).

Sebaliknya, yang terjadi kemudian perkembangan iptek tanpa iman, tanpa ruh Al-Quran, maka hanya akan mengakibatkan kerusakan saja di permukaan bumi ini. Kemajuan teknologi digunakan untuk merusak alam, menindas sesamanya, mengumpulkan kapital tanpa menyejahterakan, hingga untuk peperangan yang mengorbankan warga sipil.

Allah menyebutkan di dalam Al-Quran tentang kerusakan di muka bumi ini adalah akibat ulah tangan manusia yang tidak melandaskan kegiatannya pada ibadah kepada Allah.

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِى عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari [akibat] perbuatan mereka, agar mereka kembali [ke jalan yang benar].” (Qs. Ar-Ruum [30]: 41).

Dijadikannya Al-Quran sebagai basis pendidikan bagi generasi karena memang Al-Quran adalah pedoman hidup, petunjuk kebenaran, rahmat dn obat bagi segala problematika hidup, yang mampu membimbing umat manusia selamat, bahagia dan sejahtera dunia dan akhirat.

Begitulah memang, Allah menurunkan Al-Qur’an dengan membawa kebenaran yang hakiki. Karenanya, Al-Qur’an memiliki beberapa fungsi dan tujuan bagi kehidupan umat manusia, di antaranya:

Al-Quran Dasar Kurikulum

Dalam sejarah keilmuan Islam terutama dalam bidang ilmu, pendidikan dan pengajaran, baik pada zaman dulu maupun sekarang, baik di lembaga pendidikan pesantren atau di lembaga pendidikan sekolah ataupun madrasah modern, Al-Qur’an menempati posisi yang sangat sentral dan penting. Seluruh aspek keilmuan, pendidikan dan pengajaran bersumber dan bermuara kepada nilai dan spirit Al-Qur’an.

Kalau mencermati sejarah para sahabat Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam serta para tabi’in, pejuang, ulama dan tokoh-tokoh Muslim terpandang pada masa lalu dan pada masa berikutnya. Mereka mampu menjadi tokoh-tokoh yang sangat terkenal baik di tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional, karena mereka telah menjadikan Al-Quran sebagai basis utama pendidikan. Mereka mempelajari terlebih dahulu Al-Quran sebelum mempelajari ilmu yang lainnya. Atau pun mereka kemudian mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan tetap melandaskannya pada Al-Quran.

Maka, lahirlah pakar-pakar iptek seperti Ibnu Sina dalam bidang Kedokteran, Ibnu Khaldun dalam hal sosial budaya, Imam Al-Ghazali dalam psikologi, Al-Jabbar pakar matematika, dsb.

Ketokohan para ilmuwan Muslim yang menjadikan Al-Quran sebagai dasar pengembangan iptek itu sendiri, telah diakui oleh para pakar dan profesor Barat, seperti pengakuan Prof Dr Joe Leigh Simson, Profesor bidang Moleculer dan Genetika Manusia, Baylor College Medicine, Houston Amerika.

Dalam pernyataannya mengatakan, “Agama dapat menjadi petunjuk yang berhasil untuk pencarian ilmu pengetahuan. Dan agama Islam dapat mencapai sukses dalam hal ini. Tidak ada pertentangan antara ilmu genetika dan Islam. Kenyataan di dalam Al-Quran yang ditunjukkan oleh ilmu pengetahuan menjadi valid. Al-Quran mendukung Ilmu Pengetahuan”.

Prof. Persaud, Ahli Anatomi, Ahli Kesehatan Anak-anak dan Ahli Ginekologi kebidanan dan Ilmu Reproduksi di Universitas Menitoba, Winnipeg, Menitoba, Kanada, menyimpulkan, “Al-Quran adalah sebuah kitab, petunjuk, kebenaran, bukti dan kebenaran yang abadi bagi kita sampai akhir zaman”.

Prof. Palmer, Ahli Geologi ternama Amerika Serikat, juga menyebutkan, “Al-Quran adalah kitab yang menakjubkan yang menggambarkan masa lalu, sekarang, dan masa depan”.

Demikian pula Prof. Shroeder, Ilmuwan Kelautan dari Jerman, yang mengatakan bahwa Ilmuwan itu sebenarnya hanya menegaskan apa yang tertulis di dalam Al-Quran beberapa tahun yang lalu. Para Ilmuwan sekarang hanya menemukan apa yang tekah tersebut di dalam Al-Quran sejak 1400 tahun yang lalu.

Kalau demikian, maka kaitannya dengan orang-orang Muslim yang terkait dengan pembentukan kurikulum pendidikan nasional adalah bagaimana nilai-nilai Al-Quran dapat terkandung dan mewarnai pendidikan generasi. Apalagi jika dikaitkan dengan pendidikan karakter kepribadian, moral (akhlak), etika (adab), interaksi sosial (jama’ah), hingga pembangunan suatu bangsa. Maka, itu semua ada di dalam Al-Quran.

Tinggal memadukan tiga elemen penting pendidikan, seperti menurut Brooks dan Goole dalam Elmmubarak (2009), yaitu prinsip, proses, dan praktiknya. Dalam menjalankan prinsip, nilai-nilai yang diajarkan adalah bersumber dari Al-Quran. Proses kurikulum oleh para pembuat kebijakan, dan praktiknya oleh lembaga-lembaga pendidikanm termasuk guru-gurunya.

Insya-Allah jika sisitem pendidikan berbasis Al-Quran diterapkan, maka senantiasa nilai-nilai kehidupan kita akan lebih bermakna.

Ini pun sesuai dan seiring dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dan ini merupakan hak warga negara Indonesia, yang mayoritas Muslim, yang kitab sucinya adalah Al-Quran. Mereka, pelajar-pelajar Muslim berhak mendapatkan pendidikan berbasiskan Al-Quran.

Lembaga-lembaga pendidikan berlebelkan Islam, seperti Pondok Pesantren, Sekolah Islam Terpadu, Peguruan Tinggi Islam, tentu tidak harus menunggu kurikulum itu ada. Lembaga-lembaga itu dengan kemandiriannya sudah dapat memulai, dan sebagian besar sudah memulainya, menerapkan Kurikulum Pendidikan Berbasis Al-Quran.

Tidak ada lagi dikotomi ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Sebab yang seringkali disebut ilmu-ilmu umumpun, seperti matematika, fisika, kimia, biologi, ekonomi, geografi, adalah bagian juga dari ilmu-ilmu agama Islam. Dan semua itu prinsip-prinsip dasarnya, sekali lagi ada di dalam Al-Quran. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)