Penelitian: Spyware Cina Targetkan Muslim Uighur Selama Bertahun-Tahun

Washington, MINA – Sebuah penelitian baru dari perusahaan keamanan Lookout mengatakan, peretas spyware Cina telah melacak minoritas Muslim Uighur di negara itu sejak 2013, selama bertahun-tahun.

Tim Lookout Threat Intelligence menemukan empat alat malware pengintai Android, berupa SilkBean, DoubleAgent, CarbonSteal dan GoldenEagle.

“Tujuan utama dari aplikasi surveillanceware ini adalah untuk mengumpulkan dan mengekstrak data pengguna pribadi ke server perintah dan kontrol,” kata tim. Seperti dilaporkan Anadolu Agency, Kamis (2/7).

Menurut tim, bukti menunjukkan bahwa komunitas Uighur di 14 negara, termasuk Turki dan Kazakhstan juga mungkin terpengaruh.

Perusahaan meyakini,  malware itu diunduh ke perangkat melalui email phishing dan toko aplikasi palsu.

Mereka telah menemukan bukti bahwa pengawasan itu sebagian besar menargetkan warga Muslim Uighur. Namun juga pada tingkat lebih rendah warga Tibet dan komunitas Muslim yang lebih luas.

“Itu seperti menyaksikan pemangsa mengintai mangsanya di seluruh dunia,” Apurva Kumar, seorang insinyur intelijen ancaman di Lookout, mengatakan kepada New York Times.

“Jadi, ke mana pun Uighur Cina pergi, sejauh apa pun mereka pergi, apakah itu Turki, Indonesia, atau Suriah, malware mengikuti mereka di sana.”

Muslim Uighur di barat laut wilayah Xinjiang Cina telah lama mengalami penganiayaan yang meluas, pengawasan dan sterilisasi paksa oleh pemerintah Tiongkok selama bertahun-tahun dan telah dipaksa mengikuti program pendidikan ulang.

Wilayah ini adalah rumah bagi 10 juta warga Uighur. Kelompok Muslim Turki, yang membentuk sekitar 45% dari populasi Xinjiang, telah lama menuduh pemerintah Cina melakukan diskriminasi budaya, agama dan ekonomi.

Hingga 1 juta orang, atau sekitar 7% dari populasi Muslim di Xinjiang, telah dipenjara dalam jaringan yang diperluas dari kamp-kamp “pendidikan ulang politik”, menurut pejabat AS dan para pakar PBB.

Sejak 2014, penumpasan brutal Beijing telah memaksa ribuan warga Uighur mencari suaka di negara-negara lain termasuk Turki dan AS. (T/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)