Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perspektif Hikmah Lailatul Qadar di Masa Perang

Redaksi Editor : Arif R - Senin, 9 Maret 2026 - 06:46 WIB

Senin, 9 Maret 2026 - 06:46 WIB

12 Views ㅤ

Malam Lailatul Qadar (foto: dok MINA)

Oleh Moehammad Amar Ma’ruf, Penulis Buku Katulistiwa

PEPERANGAN yang melanda di kawasan Timur Tengah  disebabkan oleh tipu daya zionis Israel dan didukung oleh negara adidaya, dalam hal ini Amerika Serikat, dengan mencaplok tanah Palestina lalu menyerang Iran, banyak dikecam dunia dan banyak dipandang sebagai tanda-tanda hari akhir zaman, kehancuran dunia.

Dengan mengungkap sejumlah berita langit, para tafsir memandang bahwa tanda-tanda tersebut akan menjadi peringatan tentang huru hara di atas dunia. Walaupun kejadian qiamat sesungguhnya hanya Sang Pencipta/Khalik yang mengetahuinya dan itu pasti datang. Saat itulah fase menuju hari pembalasan akan tiba.

Adanya  Pembalasan mengingatkan kita tentang satu berita langit bahwa  setelah hari ini dimana kita manusia masih hidup di alam dunia (alam transit) ada hari kemudian yang merupakan suatu masa perhitungan bagi amal perbuatan manusia di hari sebelumnya ketika manusia ada di dunia, yakni alam akhirat.

Baca Juga: Ketulusan Cinta Indonesia-Palestina, Makna Ciuman Kening Dubes Palestina kepada Imaam Yakhsyallah Mansur

Dalam teori perputaran waktu hari kemudian diartikan sebagai suatu hari yang ditandai dengan adanya tanda tanda alam berupa sebuah perputaran benda angkasa, yakni terbenamnya matahari kemudian munculnya bulan diiringi dengan  adanya pergantian malam dan siang begitu pun seterusnya.

Semua tanda-tanda itu telah ditangkap oleh nalar manusia sehingga manusia memiliki suatu teknologi yang menunjukkan kemampuan untuk mengetahui pergerakan waktu guna menandakan pergantian siang dan malam dan menjadi ukuran berapa lama sebuah perjalanan dari satu titik ke titik lainnya dengan suatu moda transportasi ataupun alami.

Apa yang kita bicarakan di atas secara sekilas itu adalah perputaran waktu yang terjadi di dunia yang pada kenyataannya kita manusia sendiri tidak bisa menyaksikan sepanjang umur kita di dunia yang terbatas. Setiap manusia sebagai makhluk yang bernyawa pasti menemui ajalnya.

Kalaulah kita coba hitung dari suatu periode waktu di dunia ini semisal dalam kurun waktu tingkat harapan hidup manusia saat ini per individu mencapai usia 75 tahun atau kalau dalam Islam disebut oleh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bahwa umur umatnya itu antara 63 tahunan, maka bisa dibayangkan bila usia dunia ini sudah ribuan tahun, yakni  sejak jaman prasejarah hingga saat ini, sudah tentu ribuan mungkin jutaan  milyaran jiwa manusia telah diberikan kesempatan hidup di dunia.  Dan saat ini manusia yang masih diberikan kesempatan hidup bila dirujuk data PBB 2025 adalah sekitar 8 milyar.

Baca Juga: Polisi, Sekejam Itukah?

Perkembangan demografi dunia inilah yang saat ini semakin menghadapi berbagai tantangan yang lebih kompleks ditandai dengan perkembangan teknologi di berbagai bidang dan secara beririsan pula ditandai dengan semakin terbatasnya lahan dan sumber daya alam semakin membuat wajah dunia seakan dihadapkan pada berbagai persaingan, khususnya di dalam memperjuangkan keberlangsungan hidup manusia itu sendiri.

Pertanyaannya, apakah memang manusia diciptakan oleh Sang Khalik untuk membuat terjadinya persaingan yang pada akhirnya membuat pertumpahan darah di dalam mempertahankan hidupnya. Sehingga muncul pandangan filsuf terdahulu tentang survival of the fittest.

Pandangan tersebut banyak di artikan mereka yang bisa berjuang dan lulus di dalam menghadapi tantangan di dunia ini, maka ia lah yang berhak hidup. Hal ini secara netral di artikan mereka yang tidak tangguh ( tidak sehat, tidak cerdas, tidak punya perisai hidup) maka layak mati. Terlebih-lebih mereka yang hidup di dataran  luas yang tandus dan keras, maka secara naluriah mereka akan mencari dataran subur untuk kelangsungan hidup mereka. Seringkali hal ini membuat pertumpahan darah.

Sangat patut disyukuri, sebagai umat manusia  yang menyakini dan diajarkan akan ada Hari Kemudian sebagai suatu Hari Pembalasan terhadap semua perbuatan manusia itu semasa hidupnya dengan mematuhi berbagai norma dan aturan yang saling menghormati dan memberikan hal yang terbaik dan berguna bagi sesama manusia (norma kemanusiaan), maka keyakinan terhadap adanya balasan dari Sang Pencipta tersebut yang dapat menyelamatkan ia  dihadapkan Sang Khalik.

Baca Juga: Memaknai Bulan Solidaritas Palestina: Ketika November Menjadi Pengingat Kemanusiaan

Namun demikian, terkait pemberitaan kitab suci tentang Hari Kemudian itu  sebagai wahyu yang diturunkan oleh Sang Khalik kepada para Nabi dan Rasul di zamannya melalui para malaikatNya, khususnya para nabi dan rasul yang memegang Kitab Agama Samawi, seperti Nabi Daud AS dengan kitab Zabur,  Nabi Musa AS dengan  Kitab Taurat, Nabi Isa AS dengan Kitab Injil, dan Nabi Penutup Muhammad SAW dengan Kitab Qur’an, banyak diingkari oleh sejumlah besar kalangan manusia. Mereka tidak menyakini adanya ketetapan  Hari Kemudian (Hari Pembalasan). Sehingga banyak dari kaum manusia yang terjerumus dalam kehidupan yang melanggar norma kemanusiaan bahkan inkar terhadap Sang Penciptanya dan sebaliknya menganggap dirinya adalah Tuhan, seperti Fir’aun.

Konskwensinya, dalam konteks Survival of the Fittest disalahartikan oleh mereka yang tangguh  (kalau saat ini bisa diartikan sbg yang punya teknologi) sewenang wenang melenyapkan hak kemanusiaan bangsa lain. Dan ternyata ketangguhan mereka juga dilandasi oleh sikap keserakahan untuk memakan hak orang lain yang lebih lemah dari mereka yang dalam banyak sisi masih terbelakang dan tidak kuat untuk berpegang pada nilai-nilai keagamaan yang murni  diajarkan oleh para nabi dan pewaris nabi.

Tiga  hal terkait aspek kemanusiaan di atas yang menyangkut keserakahan, gap antar keterbelakangan dan kemajuan, dan ketidaktaatan terhadap norma agama  yang benar, membuat persaingan antar manusia itu cenderung untuk menguasai hak orang lain dan menghalalkan segara cara dengan tipu muslihat untuk mengambil dan menjajah hak orang lain. Bukannya malah menjadi perbedaan itu membuat manusia itu memberikan manfaat satu sama lain tetapi malah mematikan orang atau bangsa lain.

Memperhatikan fenomena di atas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang ber-Ketuhanan Maha Esa selayaknya meminta pertolongan hanya kepada Sang Khalik sebagai satu satunya Dzat Yang Patut dimintakan Petunjuk dan Bergantung, agar diberikan petunjuk dengan jernih dan dapat menyelamatkan bangsa Indonesia dan meminimalisir dampak buruk  yang sudah banyak diprediksi akan melanda bila Indonesia tidak memiliki langkah antisipatif bagi  permasalahan yang menyangkut kepentingan  nasional di dalam negeri maupun di luar negeri.

Baca Juga: Akhiri Perang Saudara Yaman-Arab Saudi, Rakyat Hanya Jadi Korban

Dalam konteks di atas, perkenankan saya sebagai warga negara memberikan masukan. Mungkin masukan ini sudah banyak dilontarkan atau bahkan di dalam benak para pemangku kepentingan, namun saya ingin mengingatkan dan memperkuat dukungan terhadap upaya mitigasi dampak di atas melalui masukan saya yang saya beri tajuk sebagai  “Perspektif Lailatul Qadar di Masa Perang” sebagai berikut:

Pertama, Perang Dunia ke III nampaknya sudah dimulai, apa yang harus disiapkan oleh Bangsa ini adalah Kencangkan Ikat Pinggang dan Berdayakan Sumber Alam secara lestari. Pilih dan kelola energi bersih yang bersumber dari kekayaan hayati dan non hayati yg tersisa secara bijak dan lestari serta seminimal mungkin mudharatnya.

Kedua, Inovasi strategik aplikatif harus menjadi agenda dalam setiap ruang pendidikan dan kewirausahaan serta teknologi pertahanan dan ketahanan sipil dan negara berbasis kepercayaan rakyat. Artinya tata kelola harus transparan dan bersih dari KKN.

Ketiga, Ubah pola konsumtif energi tak terbarukan secara terukur dan progresif aplikatif dengan energi bersih terbarukan. Pemanfaatan aset nabati  seperti: pohon palma aren, pohon jarak, jagung  sebagai aset biodiversitas guna mendukung  penguatan pangan, energi serta kesehatan. Ini selayaknya menjadi komoditi strategik yg sejalan dgn pelindungan alam lingkungan secara lestari, perlu dioptimalkan dan didukung hingga akar rumput. Berikan apresiasi terhadap para pelaku dan perintis bidang2 tersebut.

Baca Juga: Ketika Warga Eropa Berdemo, Apa Tuntutan Mereka?

Keempat, Kebijakan impor energi tak terbarukan harus  diubah dengan menjadikan negeri mandiri energi bersih berbasis sosialis mengingat daya beli masyarakat masih dibawah ideal dan anggaran negara yang terus cenderung defisit karena minimnya pendapatan negara dari pengelolaan industri dalam negeri dan masih banyak industri strategik berbasis impor. Hasil karya peneliti yang sudah berhasil pilot projectnya agar segera didukung dalam skaka yang lebih besar di setiap wilayah dan membuka ekspor antar wilayah nasional.

Kelima, Semua elemen bangsa harus berfikir dan berperilaku yang sejalan dengan  kapasitas diri masing dengan tekad untuk  memberikan yang terbaik bagi negeri yang sedang bersedih. Bangsa ini patut prihatin.Negeri kita sedang menghadapi tantangan alam lingkungan yg semakin nyata, baik berupa bencana alam maupun bencana ekologis.

Keenam, Mari inventaris masing-masing kapasitas dan kompetensi diri para pimpinan,  para pembina, pengawas termasuk pengelola dunia pendidikan dan dunia kewirausahaan untuk dimanfaatkan guna  menghasilkan suatu  produk nyata yang manfaat bagi masyarakat banyak.

Sebagai bangsa  atau lembaga harus fokus dan  yakinlah bahwa bangsa ini  akan berubah ke arah yang lebih baik karena siapa lagi bila bukan bangsa itu sendiri yang memulai. Maka di bulan Ramadhan ini di mana bangsa ini memperoleh kemerdekaannya sangat perlu merefleksi diri guna berikhtiar mendapat lailatul qadar bagi kemajuan peradaban negeri. Wallahu’alam bi shawab. []

Baca Juga: Perang Digital atas Masjid Al-Aqsa

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Indonesia
Amerika
Tausiyah
Tausiyah
Kolom