DALAM sepak bola, dikenal dengan istilah injury time alias waktu tambahan di akhir pertandingan yang sering kali menjadi penentu kemenangan.
Di sanalah para pemain mengerahkan sisa tenaga, berlari lebih kencang, berjuang lebih keras, bekreasi lebih aktif, karena mereka tahu, tidak ada lagi kesempatan setelah ini.
Ramadhan kita pun hari-hari teralkhir ini berada di injury time-nya.
Kita telah memasuki babak gran d final. Sepuluh malam terakhir sedang berjalan, dan waktu terus bergerak cepat menuju garis akhir. Ini adalah momen krusial yang akan menentukan: apakah kita pulang dengan membawa kemenangan, yaitu ampunan dan ridha-Nya, ataukah sekadar meninggalkan bulan suci tanpa perubahan berarti?
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim).
Namun, pengampunan Allah itu tidak datang dengan begitu saja. Ia perlu dijemput dengan kesungguhan. Dan kesungguhan itu kini diuji di penghujung waktu.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Sementara itu, kita pun pasti tahu, di luaran sana sudah mulai ramai hiruk-pikuk menyambut Lebaran. Mall-mall mulai dipadati pemburu baju baru. Dapur-dapur sibuk dengan segara toples kue kering. Tiket mudik sudah dipesan, koper mulai dikeluarkan dari lemari, kendaraan mulai disiagakan.
Semua itu boleh-boleh saja. Bahkan, menyambut hari raya dengan gembira adalah bagian dari syukur. Tapi hati-hati, jangan sampai semangat duniawi menggeser kekhusyuan ibadah dan amaliyah Ramadhan di saat-saat terakhir yang justru paling berharga ini.
Jangan sampai kita sibuk memilih warna baju, tapi lupa mempersiapkan diri untuk perjumpaan dengan-Nya. Jangan sampai kita sibuk mencicipi nastar dan bronis, tapi lupa bahwa di sepuluh malam terakhir ini ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Jangan sampai pula kita sibuk menghitung hari mudik, tapi lupa bahwa kita juga akan “mudik” kembali kepada fitrah.
Allah sudah mengingatkan kita:
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar: 3).
Seribu bulan. Bayangkan, satu malam yang nilainya melebihi 83 tahun usia manusia. Siapa yang sanggup meninggalkan bonus sebesar itu hanya karena sibuk belanja baju Lebaran?
Maka, mari kita manfaatkan injury time ini sebaik-baiknya. Yakni mari kita tetap pertahakan Puasa Ramadhan kita bukan hanya dari lapar dan dahaga, tapi juga dari kata-kata sia-sia dan perbuatan yang mengurangi nilai ibadah puasa itu sendiri.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Shalat Tarawih tetap kita tegakkan, terutama di malam-malam ganjil, karena di situlah Lailatul Qadar lebih diharapkan kehadirannya. Maka, rencanakan perjalanan seefektif mungkin jangan sampai mengorbankan shalat Tarawih. Tak ada masalah di perjalanan, masij banyak masjid di tepi jalan, di rest area atau di Pom Bensin/SPBU, atau di kendaraan sekalipun.
Tentu, Zakat, infak, dan sedekah sebagai amaloiyah pamungkas pembersih jiwa dan harta, kita keluarkan dengan tangan terbuka.
Rasulullah ﷺ meneladankan adalah manusia paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan, melebihi angin, saking segeranya. Beliau memberi untuk yang tidak meminta, apalagi yang meminta kepadanya.
Allah menjanjikan di dalam ayat-Nya, tentang menginfakkan harta di jalan Allah:
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261).
Di hari-hari terakhir bulan suci Ramadhan ini, mari jangan biarkan ia lewat begitu saja.
Gapai Garis Akhir dengan Semangat
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
Sisa hari ini bukan sekadar hitungan mundur menuju Lebaran. Ia adalah detik-detik terakhir di mana pintu ampunan masih terbuka lebar. Ia adalah saat di mana setiap sujud terasa lebih dalam, setiap doa lebih mungkin dijawab, setiap permohonan terasa lebih berharga.
Maka, mari bersegera. Bukan dengan lelah, tapi dengan semangat. Karena injury time ini adalah anugerah, bonus waktu dari Yang Maha Pemurah, agar kita bisa mengejar ketertinggalan, menggenapkan kekurangan, dan meraih kemuliaan yang tak terbayangkan. Sementara ada saudara kita yang mendahului kita pada Ramadhan ini, tanpa menyelesaikan akhir Ramadhan. Karena memang sudah jatah usianya.
Semoga kita semua pulang dari Ramadhan sebagai pemenang. Bukan sekadar berganti pakaian baru, tapi berganti jiwa yang baru, jiwa yang lebih bersih, lebih dekat, lebih dicintai-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. []
Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic