PADA bulan suci Ramadhan, ada satu malam yang namanya berbisik lembut di hati setiap perindu Ridha Allah. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam ketika langit dan bumi seakan berjabat mesra, dan para Malaikat turun silih berganti menghembuskan salam. Itulah Lailatul Qadar.
Lailatul Qadar, bukan sekadar malam biasa, tapi malam kemuliaan, malam agung, malam ketetapan. Dalam sunyi dan heningnya, Allah Ta’ala menggoreskan tinta takdir bagi perjalanan hidup hamba-Nya untuk setahun ke depan.
Allah mengungkapkannya di dalam Surat Al-Qadar:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. (1) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (3) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (4) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (5).
Maka, mencarinya bukanlah soal perburuan biasa. Ia butuh persiapan, butuh keikhlasan, dan butuh kesadaran penuh bahwa kita sedang mengetuk pintu langit.
Persiapan itu pun tak harus rumit. Ia bisa dimulai dari dalam hati, meniatkan diri untuk bersepi dengan-Nya. Lalu, mulai merencanakan, misalnya, “Aku akan duduk diam (i’tikaf) di masjid dekat rumah, atau di Masjid Agung.”
Di rumah, pelan-pelan kita menyiapkan perlengkapan sederhana: mushaf Al-Qur’an yang mungkin sudah mulai lusuh, kitab-kitab kecil bacaan, sajadah kesayangan yang juga sudah mulai luntur warnanya, dan termos kecil air hangat untuk menemani malam. Semua ini bukan sekadar barang, tapi tanda bahwa jiwa kita sudah mulai berlayar menuju samudra rahmat-Nya.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Di sepuluh malam terakhir Ramadhan itu, rencana-rencana pun ditata. Ada yang menargetkan khatam Al-Qur’an satu atau dua kali, mendengar lantunan ayat suci bergema di relung malam. Ada pula yang bertekad untuk menghafal satu juz, atau mentadaburi tafsir surat atau ayat tertentu dari Al-Quran.
Amaliyah pun tak melulu untuk diri sendiri. Ada kehangatan dalam berbagi makanan untuk berbuka, menyisihkan uang untuk bersedekah, atau membantu orang lain yang memerlukan. Walau tanpa ada yang tahu. Lailatul Qadar juga mengajarkan kita untuk menjadi pemaaf, untuk merengkuh orang lain dalam kebaikan.
Dan di antara sekian banyak doa, ada untajan kalimat yang paling sering terucap di bibir para pencari mulia:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, suka memaafkan, maka maafkanlah aku.” (H.R. Ibnu Majah dan Ahmad dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha).
Doa itu pendek, tapi begitu dalam. Ia mengakui ke-Maha Pemaaf-an Allah dan merendahkan diri memohon ampunan. Jika kita terus-menerus melafazkannya, hati akan terasa ringan, seakan dosa-dosa lama terlepas satu per satu.
Pada akhirnya, ini bukan soal kepastian waktu. Ini tentang kesungguhan usaha. Jika kita berusaha mencari Lailatul Qadar dengan sepenuh jiwa, insya-Allah kita pun akan mendapatkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَيُوَافِقُهَا
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
“Barangsiapa yang menghidupkan Lailatul Qadar, maka ia mendapatkannya.” (H.R. Muslim)
Maka, mari hidupkan malam-malam sepeuluh yang akhir dari Ramadhan. Bukan hanya dengan mata yang terjaga, tapi dengan hati yang mengharap, dengan jiwa yang merindu.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang dipertemukan dengan malam penuh cahaya itu, Lailatul Qadar, dan keluar dari bulan Ramadhan dengan ampunan serta masa depan yang lebih baik. Aamiin. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
















Mina Indonesia
Mina Arabic