Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Doa Lailatul Qadar, Saat Seribu Bulan Menyapa

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Selasa, 10 Maret 2026 - 15:13 WIB

Selasa, 10 Maret 2026 - 15:13 WIB

27 Views ㅤ

ilustrasi: Doa Lailatul Qadar (foto: MINA)

ADA satu malam yang lebih berharga dari seribu bulan. Malam yang dinanti oleh mereka yang merindukan ampunan, yang hatinya haus akan kelembutan Ilahi. Itulah Lailatul Qadar, malam ketika langit dan bumi seakan berbisik mesra, dan doa-doa menjelma cahaya.

Ketika Aisyah, wanita agung yang hatinya seluas samudra, bertanya pada kekasih Allah, “Wahai Rasul, jika aku menemukan malam itu, doa apa yang harus kupanjatkan?” Maka Rasulullah menjawab dengan kalimat yang begitu dalam dan lembut:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, mencintai maaf, maka maafkanlah aku.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad).

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Doa itu singkat, namun isinya seluas cinta-Nya. Ia mengajarkan kita bahwa di malam yang sunyi, yang paling kita butuhkan bukanlah permintaan dunia, melainkan ampunan dari Zat yang tak pernah lelah memaafkan.

Maka, marilah kita hidupkan malam-malam Ramadhan, terutama sepuluh malam terakhir, dengan hati yang hadir. Dalam setiap tarawih, dalam lantunan ayat suci, dalam dzikir yang merayap lembut di dada, dan dalam doa yang menengadah penuh harap. Jangan lupa, ulurkan tangan. Berbagi dengan yang kekurangan, memberi pada yang terhimpit, seperti untuk saudara-saudara kita di Palestina yang teguh dalam cinta dan ujian.

Rasulullah bersabda:

مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَيُوَافِقُهَا

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

“Barang siapa yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan harap, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

Malam itu, para malaikat turun, dipimpin Jibril, membawa salam dan kedamaian. Mereka datang bukan karena biasa, melainkan karena malam itu sangat agung. Allah sendiri menyebutnya:

سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Q.S. Al-Qadar [97]: 5).

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Ya, salam. Itulah suasana Lailatul Qadar. Semua urusan diatur dengan hikmah, takdir ditulis dengan kasih, dan jiwa-jiwa yang berjaga diberi ketenangan yang tak terkira.

Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk tetap istiqamah di sisa-sisa bulan Ramadhan ini.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mendapat kemuliaan malam seribu bulan. Dan semoga, setelah fajar tiba, kita kembali dengan jiwa yang baru, dimaafkan, dicintai, dan diberkahi Allah. Aamiin. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Ini 8 Hikmah Mengapa Malam Lailatul Qadar Dirahasiakan
Tausiyah
Tausiyah
Kolom
Tausiyah