Al-Quds, MINA – Polisi pendudukan Israel pada Senin malam (16/2) menangkap imam Masjid Al-Aqsa, Sheikh Mohammad Ali Al-Abbasi, di area halaman kompleks masjid yang terletak di Yerusalem Timur yang diduduki. Penangkapan ini terjadi di tengah meningkatnya langkah keamanan dan pembatasan yang diberlakukan terhadap jamaah yang ingin masuk ke masjid menjelang tibanya bulan Ramadhan.
Menurut sumber lokal, tindakan tersebut merupakan bagian dari serangkaian kebijakan yang menargetkan imam, penceramah, dan al-Murabitin, kelompok relawan yang rutin berada di Masjid Al-Aqsa. Penjajah Israel juga memperketat akses jamaah dan menghadapi lonjakan serangan pemukim Yahudi ke kompleks Al-Aqsa dengan pengawalan ketat dari pasukan keamanan.
Situasi keamanan di kawasan Al-Aqsa dan sekitarnya dilaporkan semakin tegang akibat kebijakan tersebut, termasuk penahanan terhadap tokoh agama dan aktivis lokal serta berbagai pembatasan yang diberlakukan di kawasan Kota Tua.
Penangkapan imam Masjid Al-Aqsha tersebut menambah daftar panjang tindakan aparat Polisi Israel terhadap pengelola dan tokoh agama di kompleks suci Masjid Al-Aqsha. Sejak beberapa tahun terakhir, Israel kerap memberlakukan pembatasan masuk, pemanggilan untuk interogasi, hingga larangan aktivitas dakwah terhadap imam dan khatib yang dinilai kritis terhadap kebijakan pendudukan.
Baca Juga: Bertambah Lagi, Tiga Warga Gaza Syahid Akibat Serangan Israel
Langkah represif ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di Yerusalem Timur, terutama menyusul seringnya masuknya pemukim Yahudi ke kompleks Al-Aqsha dengan pengawalan aparat keamanan. Praktik tersebut dinilai melanggar status quo historis yang sejak lama mengatur bahwa Al-Aqsha merupakan tempat ibadah eksklusif umat Islam, sementara kunjungan non-Muslim dibatasi secara ketat.
Sejumlah lembaga HAM Palestina menilai penangkapan imam di halaman masjid merupakan bentuk intimidasi terhadap otoritas keagamaan Islam dan upaya sistematis untuk mengubah karakter Al-Aqsha. Mereka menegaskan bahwa tindakan ini bukan insiden tunggal, melainkan bagian dari kebijakan yang bertujuan melemahkan peran para ulama dan murabitun—jamaah yang secara rutin menjaga keberlangsungan ibadah di masjid tersebut.
Di sisi lain, penjajah Israel berdalih bahwa langkah-langkah keamanan tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas dan ketertiban umum. Namun, narasi ini kerap dibantah oleh warga Palestina dan pengamat internasional yang menilai pendekatan keamanan Israel justru memperburuk eskalasi dan memicu kemarahan umat Islam, baik di Palestina maupun di berbagai belahan dunia.
Masjid Al-Aqsha sendiri memiliki posisi sentral dalam Islam sebagai kiblat pertama dan masjid ketiga yang dimuliakan setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Setiap tindakan yang menyentuh kawasan ini hampir selalu memantik reaksi luas, tidak hanya sebagai isu lokal, tetapi juga sebagai persoalan keagamaan dan kemanusiaan global. []
Baca Juga: Hamas Kecam Ben Gvir Pimpin Pembongkaran Bangunan Palestina di Al-Quds
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic