Dhaka, MINA – Peraih Nobel Perdamaian dan mantan kepala penasihat pemerintah sementara Bangladesh, Prof Muhammad Yunus, mengatakan bahwa hampir mustahil untuk memerangi kemiskinan ketika pasar pangan dan energi global terganggu oleh perang.
“Sebagai mantan kepala pemerintahan negara terpadat kedelapan di dunia, saya telah melihat sendiri betapa hampir mustahilnya memerangi kemiskinan ketika pasar pangan dan energi global terganggu oleh perang,” katanya merujuk kepada perang AS-Israel terhadap Iran, Dhaka Tribune melaporkan.
Prof Yunus mengatakan, siklus kekerasan ini harus diakhiri, karena dunia tidak lagi mampu menanggung beban krisis kemanusiaan yang terus meningkat ini.
“Di Bangladesh, kecemasan ini sangat pribadi,” kata Prof Yunus dalam sebuah pesan pada kesempatan Idul Fitri yang dirayakan di Bangladesh pada Sabtu (21/3).
Baca Juga: Türkiye dan Pakistan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Saudi
Ia mengatakan jutaan keluarga hidup dalam ketakutan terus-menerus akan keselamatan putra, putri, dan orangtua mereka yang bekerja di luar negeri.
Tragisnya, kata Prof. Yunus, dampak perang ini telah dirasakan di dalam negeri saat mereka berduka atas warga Bangladesh yang tewas akibat serangan rudal di wilayah tersebut.
Ia mengatakan, dunia tidak mampu menanggung konflik regional lain, terutama karena perang di Ukraina memasuki tahun keempat yang menghancurkan.
“Konflik-konflik ini tidak terjadi begitu saja; konflik ini paling keras menghantam kelompok yang paling rentan di dunia,” kata Prof. Yunus, seraya mencatat bahwa harga global telah melonjak, membuat kebutuhan gizi dasar menjadi sulit bagi miliaran orang. []
Baca Juga: Berakhirnya Misi Militer AS, Irak Hadapi Tekanan Fragmentasi Internal
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic