Puasa Asyura 10 Al-Muharram Menghapus Dosa Setahun Lalu

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Pembina Tahfidzul Quran, Redaktur Senior MINA (Mi’raj News Agency)

Alhamdulillah kita umat Islam baru saja memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharram 1441 Hijriyah, akan dilanjutkan dengan amal yang utama, yaitu Puasa Asyura (Asyura artinya sepuluh), yaitu puasa pada tanggal 10 Al-Muharram.

Di dalam hadits shahih dikatakan, puasa pada bulan Al-Muharram ini adalah sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan. Seperti disebutkan dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Artinya: Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Al-Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam (tahajud).” (H.R. Muslim).

Al-Muharram disebut ‘Syahrullah’ (bulan Allah), itu menunjukkan kemuliaan bulan tersebut.

Adapun maksud puasa pada bulan Allah adalah Puasa Asyura, yaitu tanggal 10 Al-Muharram. Ada juga yang berpendapat adalah hari-hari pada bulan Al-Muharram.

Khusus Puasa Asyura, tanggal 10 Al-Muharram, pahalanya dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu. Ini seperti disebutkan  dalam hadits:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Artinya: Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam ditanya mengenai keutamaan Puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan Puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura menghapus dosa setahun yang lalu.” (H.R. Muslim).

Di samping puasa Asyura tanggal 10 Al-Muharram, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga menganjurkan, bagi yang ingin, bisa juga ditambahkan berpuasa pada tanggal 9 Al-Muharram, atau disebut dengan Puasa Tasu’ah (Tasu’ah artinya sembilan).

Ini seperti disebutkan di dalam hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ’Anhuma, bahwa ketika Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam melakukan puasa hari ’Asyura dan menganjurkan kaum Muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan:

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Apabila tiba tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan (bulan Al-Muharram).”

Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Belum sampai tahun depan, Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam sudah meninggal dunia.” (H.R. Muslim).

Mengapa sebaiknya menambahkan dengan puasa pada hari kesembilan? Syaikh Imam An-Nawawi menjelaskan, para ulama berkata bahwa maksudnya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang cuma berpuasa tanggal 10 Muharram saja.

Semoga kita dapat mengamalkannya dan Allah berkenan menghapuskan dosa-dosa kita setahun lalu. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)