Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior MINA (Mi’raj News Agency), Pembina Sekolah Tahfidz DTI (Daarut Tarbiyah Indonesia)
Memasuki awal Tahun Baru Islam 1 Muharram 1442, nanti akan berjumpa dengan amalan yang utama, yaitu Puasa Asyura atau Puasa pada tanggal 10 Muharram.
Negeri-negeri Muslim telah menetapkan 1 Muharram jatuh pada Kamis (20/8). Berarti, puasa Asyura 10 Muharram akan jatuh bertepatan dengan Sabtu, 29 Agustus.
Baca Juga: Pentingnya Istiqamah dalam Jamaah
Di dalam hadits shahih riwayat Muslim disebutkan, puasa pada bulan Muharram ini adalah sebaik-baik puasa. Seperti disebutkan dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
Artinya: “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam (tahajud).” (H.R. Muslim).
Menurut ulama, Muharram disebut ‘Syahrullah’ (bulan Allah), itu menunjukkan kemuliaan bulan tersebut.
Baca Juga: Hari Akhir: Keyakinan yang Semakin Samar
Adapun maksud puasa pada bulan Allah adalah Puasa Asyura, tanggal 10 Muharram. Ada juga yang berpendapat adalah hari-hari pada bulan Muharram.
Khusus Puasa Asyura, tanggal 10 Muharram, pahalanya dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu. Ini seperti disebutkan dalam hadits:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
Artinya: “Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam ditanya mengenai keutamaan Puasa Arafah. Beliau menjawab, ”Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan Puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura menghapus dosa setahun yang lalu.” (H.R. Muslim).
Baca Juga: Al-Aqsa Kiblat Pertama yang Tak Pernah Lepas dari Ingatan
Di samping puasa Asyura tanggal 10 Muharram, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga menganjurkan, bagi yang ingin, bisa juga menambahkannya berpuasa pada tanggal 9 Muharram, atau disebut dengan Puasa Tasu’ah.
Ini seperti disebutkan di dalam hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ’Anhuma, bahwa ketika Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam melakukan puasa hari ’Asyura dan menganjurkan kaum Muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.
“Wahai Rasulullah, hari ini (hari ke sembilan Muharram) adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan:
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa Tempat Ibadah Umat Islam yang Terjajah
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
“Apabila tiba tahun depan – insya Allah (jika Allah menghendaki) – kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,
فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
“Belum sampai tahun depan, Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam sudah meninggal dunia.” (H.R. Muslim).
Baca Juga: Menyelami Makna Ulul Albab dalam Al-Qur’an
Mengapa sebaiknya menambahkan dengan puasa pada hari kesembilan? Syaikh Imam An-Nawawi menjelaskan, para ulama berkata bahwa maksudnya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang berpuasa tanggal 10 Muharram saja.
Semoga kita dapat mengamalkan Puasa Asyura dan mendapatkan keutamaannya. Aamiin. (T/RS2/P1)
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Setelah 40 Hari Tertutup, Betapa Haru Memasuki Kembali Masjid Al-Aqsa
















Mina Indonesia
Mina Arabic