Dortmund, MINA News – Kota Osnabrück, sekitar 80 km utara-timur laut Dortmund, Jerman, dikenal sebagai Kota Perdamaian (City of Peace).
Di sinilah Perjanjian Westphalia 1648 ditandatangani, sebuah perjanjian bersejarah yang mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun di Eropa dan meletakkan dasar hukum internasional modern. Kini, identitas agung itu terancam oleh rencana raksasa otomotif Jerman, Volkswagen.
Volkswagen berencana mengubah pabriknya di Osnabrück menjadi fasilitas produksi komponen untuk sistem pertahanan rudal Iron Dome milik Israel, bekerja sama dengan perusahaan pertahanan milik negara Israel, Rafael Advanced Defense Systems.
Pabrik mobil yang di Indonesia dikenal dengan mobil VW alias “Mobil Kodok” yang mempekerjakan sekitar 2.300 pekerja ini terancam tutup setelah produksi mobil berakhir pada 2027.
Baca Juga: Trump Ancam Gunakan Veto Usai Demokrat Menang Pemilu Sela AS
Rencana ini dianggap sebagai jalan keluar untuk menyelamatkan lapangan kerja, namun menuai kecaman dari berbagai kalangan. Dikutip dari MEMO, Jumat (28/8).
Thomas Gross, kandidat walikota dari Partai Kiri Jerman untuk Osnabrück, mengecam keras rencana tersebt. Baginya, kerja sama dengan perusahaan milik Israel bertentangan dengan identitas Osnabrück sebagai Kota Perdamaian.
“Kerja sama dengan perusahaan milik negara Israel tidak sesuai dengan tradisi Osnabrück sebagai Kota Perdamaian,” tegas Gross dalam pernyataannya.
Ia mengingatkan bahwa pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertanggung jawab atas banyak kejahatan perang di Gaza yang dikategorikan sebagai genosida oleh berbagai organisasi hak asasi manusia internasional.
Baca Juga: Demokrat Unggul di Pemilu Sela AS, Keisha Bottoms hingga Deb Haaland Ukir Sejarah Baru
Gross menegaskan bahwa ada opsi yang layak untuk mempertahankan manufaktur sipil di Osnabrück. Partai Kiri mendukung usulan untuk memproduksi minibus yang sangat dibutuhkan untuk transportasi umum di daerah pedesaan.
“Menurut kami, jauh lebih mendesak untuk meningkatkan perlindungan iklim dan adaptasi iklim daripada menggelontorkan miliaran untuk membangun militer,” ujarnya .
Perlawanan dari Aktivis Perdamaian
Tidak hanya Partai Kiri, Osnabrück Peace Initiative (OFRI) dan aktivis perdamaian Jerman juga bergerak. Mereka bertekad mengintensifkan kampanye untuk menghentikan kesepakatan tersebut.
Baca Juga: Yair Golan Kritik Netanyahu Usai Trump Umumkan Penghentian Bantuan AS untuk Israel
Marie Dominique Guyard, juru bicara OFRI, mengatakan, “Kami bekerja dengan berbagai mitra koalisi untuk membangun dukungan di kota bagi penggunaan sipil pabrik ini, dan kami menjelaskan mengapa kami tidak menyetujui produksi senjata. Israel tidak dikenal karena menghormati hukum internasional. Pendirian perusahaan milik negara Israel di sini, pada dasarnya, adalah dukungan terhadap perang-perang Israel.”
Ratusan pengunjuk rasa bahkan telah turun ke jalan di Osnabrück, mengibarkan bendera Palestina dan menuntut agar kota mereka tetap menjadi simbol perdamaian.
Reiner Braun, aktivis perdamaian terkemuka Jerman, menyebut proposal tersebut sebagai “kriminal”.
“Jika Volkswagen memproduksi komponen untuk Rafael, maka ia terlibat dalam kebijakan genosida dan tidak bisa membebaskan diri dari tanggung jawab itu,” ujarnya.
Baca Juga: AS akan Hentikan Bantuan untuk Israel Akhir Tahun Ini
Braun menyerukan para pekerja Volkswagen untuk menolak setiap langkah menuju produksi militer.
Ironi Sejarah Volkswagen
Ada ironi pahit dalam rencana ini. Volkswagen adalah perusahaan yang didirikan oleh rezim Nazi pada tahun 1937 dan memainkan peran sentral dalam produksi senjata selama Perang Dunia II, dengan mempekerjakan pekerja paksa dari kamp-kamp konsentrasi.
Kini, setelah puluhan tahun membangun citra sebagai produsen mobil sipil, Volkswagen kembali mempertimbangkan untuk memproduksi persenjataan.
Baca Juga: Partai Demokrat Unggul Sementara dalam Pemilu Sela AS
Stephan Krull, mantan pekerja VW, mengingatkan, “Untuk alasan historis, Volkswagen seharusnya tidak memproduksi senjata”.
Lotte Herzberg dari Zukunftswerk Osnabrück menambahkan, “Kami menganggap pergeseran ke industri senjata di Volkswagen sebagai bencana. Dengan mempertimbangkan signifikansi historis unik Osnabrück, ini mengirimkan pesan yang sangat buruk, industri senjata internasional beroperasi dari Kota Perdamaian—, engkhianatan total terhadap cita-cita”.
Akankah Terwujud?
Meskipun negosiasi berjalan intensif, ada hambatan besar. Dana Kekayaan Negara Qatar, pemegang saham terbesar ketiga Volkswagen, telah memveto rancangan kemitraan pertahanan sebelumnya pada bulan Juli 2026.
Baca Juga: Abaikan Larangan, Ratusan Pelajar Prancis Tetap Demo di Dekat Pantheon Paris
Pengaturan yang direvisi berupaya mengatasi kekhawatiran Qatar dengan mengalihkan kerja sama langsung antara Volkswagen dan Rafael.
Dalam proposal baru, Volkswagen akan mentransfer sebagian fasilitas ke negara bagian Niedersachsen, yang akan membentuk usaha patungan dengan Rafael.
Dewan Pengawas Volkswagen dijadwalkan bertemu pada 4 September 2026, di mana keputusan akhir dapat diambil. Negara bagian Niedersachsen dilaporkan siap menginvestasikan setidaknya €200 juta (sekitar Rp4,09 triliun).
Persimpangan Jalan
Baca Juga: Menteri Transportasi Spanyol Mundur Usai Dua Kecelakaan Kereta Cepat dalam Setahun
Osnabrück, kota yang melahirkan Perdamaian Westphalia dan menjadi fondasi hukum internasional modern, kini berada di persimpangan jalan. Akankah ia tetap menjadi simbol perdamaian, atau berubah menjadi pabrik komponen rudal yang mendukung genosida? Kini, dunia menanti tanggal 4 September 2026, saat sejarah Osnabrück akan ditentukan.
Satu hal yang pasti, Kota Perdamaian tidak seharusnya menjadi pemasok komponen sistem rudal untuk negara yang sedang melakukan genosida. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Warga Washington DC: Pemilu Sela Jadi Ajang Menilai Kinerja Trump
















Mina Indonesia
Mina Arabic