Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rajin Ibadah Tapi Hati Tetap Gelisah

Bahron Ansori Editor : Ali Farkhan Tsani - Selasa, 7 April 2026 - 18:07 WIB

Selasa, 7 April 2026 - 18:07 WIB

114 Views ㅤ

BANYAK orang hari ini tampak religius: shalat terjaga, puasa berjalan, sedekah tidak tertinggal, bahkan aktif dalam majelis ilmu.(Foto: ig)

BANYAK orang hari ini tampak religius: shalat terjaga, puasa berjalan, sedekah tidak tertinggal, bahkan aktif dalam majelis ilmu. Namun diam-diam, ada kegelisahan yang tak kunjung reda. Hati terasa sempit, pikiran mudah lelah, dan hidup seperti memikul beban yang tidak terlihat.

Fenomena ini nyata dan Al-Qur’an telah memberi isyarat bahwa ketenangan hati tidak selalu sebanding dengan banyaknya aktivitas lahiriah.

Allah mengingatkan dalam firman-Nya tentang orang yang shalat namun lalai dari shalatnya. Bukan gerakan lahir yang dipermasalahkan, tetapi hati yang tidak hadir. Dari sini kita memahami bahwa ibadah bisa saja sah secara fiqih, tetapi kosong secara ruhiyah. Ada tubuh yang rukuk dan sujud, tetapi hati tetap berkelana jauh dari Allah.

Hakikat ketenangan sejati sebenarnya telah Allah tegaskan: hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang. Ini menegaskan bahwa ketenangan bukan hasil dari banyaknya harta, mudahnya hidup, atau tercapainya keinginan. Ketenangan adalah ketika Allah hadir dalam kesadaran hati—dalam keputusan, dalam musibah, dan dalam setiap lintasan pikiran.

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Dzikir bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi kehidupan di dalam hati. Lisan yang berdzikir memang berpahala, tetapi hati yang berdzikir itulah yang merasakan ketenangan. Ketika seseorang benar-benar menghadirkan Allah dalam hidupnya, ia tidak mudah panik, tidak mudah kecewa, dan tidak mudah iri terhadap apa yang dimiliki orang lain.

Di sisi lain, iman yang benar melahirkan rasa aman. Namun jika iman tercampur dengan dosa, kezaliman, dan maksiat tersembunyi, maka kegelisahan akan tetap menghantui. Maka sering kali masalahnya bukan kurangnya ibadah, tetapi adanya “racun batin” yang tidak dibersihkan.

Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan bahwa seseorang bisa selesai shalat, namun yang tercatat hanya sebagian kecil saja. Ini menunjukkan bahwa kualitas ibadah sangat bergantung pada kehadiran hati. Bukan lamanya berdiri yang menjadi ukuran, tetapi seberapa dalam hati itu tunduk dan sadar kepada Allah.

Imam Al-Ghazali pernah menggambarkan kondisi yang menyedihkan: banyak orang shalat dengan jasadnya, namun hatinya sibuk dengan dunia. Inilah akar kegelisahan yang sering tidak disadari. Jasad sujud, tetapi hati tidak ikut tunduk. Ibadah berubah menjadi rutinitas, bukan penghambaan.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Tidak sedikit orang yang hidupnya tampak lengkap: harta cukup, kesehatan baik, keluarga ada, karier berjalan. Namun tetap saja terasa berat. Al-Qur’an menjelaskan bahwa siapa yang berpaling dari mengingat Allah, maka hidupnya akan terasa sempit. Sempit bukan berarti kekurangan, tetapi kehilangan rasa lapang.

Akibatnya, nikmat yang banyak pun tidak terasa. Semua ada, tetapi tidak membahagiakan. Ini karena kurangnya syukur. Ketika hati tidak pandai mensyukuri, maka nikmat sebesar apa pun akan terasa kurang. Sebaliknya, hati yang bersyukur mampu merasakan kebahagiaan dalam hal yang sederhana.

Salah satu akar kegelisahan adalah cinta dunia yang berlebihan. Hati yang terus ingin lebih tidak akan pernah merasa cukup. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa kekayaan sejati bukan pada banyaknya harta, tetapi pada kaya jiwa. Jika jiwa tidak pernah puas, maka dunia tidak akan pernah cukup untuk menenangkannya.

Selain itu, menggantungkan hati kepada makhluk juga menjadi sumber kegelisahan. Ketika harapan terlalu besar kepada manusia, maka kekecewaan pun akan besar. Hati menjadi mudah marah, mudah kecewa, dan mudah gelisah karena sandarannya rapuh.

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Padahal, ibadah yang benar justru menjadi penyejuk jiwa. Rasulullah ﷺ menjadikan shalat sebagai tempat beristirahat, bukan beban. Shalat adalah tempat pulang bagi hati yang lelah, tempat mengadu bagi jiwa yang sempit, dan tempat menemukan kembali ketenangan yang hilang.

Begitu pula dzikir yang dilakukan dengan kesadaran. Ia mampu melembutkan hati yang keras, menenangkan jiwa yang gelisah, dan menghidupkan kembali rasa dekat dengan Allah. Dzikir yang hidup bukan hanya di lisan, tetapi meresap ke dalam perasaan dan keyakinan.

Jalan menuju ketenangan sejati dimulai dari taubat. Bukan hanya dari dosa besar, tetapi dari kelalaian hati. Ditambah dengan sikap ridha terhadap takdir Allah, meyakini bahwa apa yang terjadi pasti atas kehendak-Nya dan selalu mengandung hikmah, maka hati akan perlahan menjadi tenang.

Pada akhirnya, kegelisahan bukan selalu tanda Allah menjauh. Bisa jadi itu adalah panggilan lembut agar kita kembali. Setiap rasa sempit, setiap kegundahan, adalah undangan untuk memperbaiki hati, menghidupkan kembali dzikir, dan mendekat kepada Allah dengan lebih jujur. Karena ketika hati kembali kepada-Nya, di situlah ketenangan sejati akan ditemukan. []

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Hikmah
Tausiyah
Tausiyah
Hikmah
MINA Sport
Internasional
Info MINA
Indonesia