SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:57 WIB

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:57 WIB

29 Views ㅤ

Presiden Nusantara Foundationa, Imam shamsi Ali (foto: Pribadi)

Oleh Imam Shamsi Ali Al-Nuyorki, Ulama Indonesia, tinggal di New York

COBALAH acungkan satu jari telunjuk ke depan. Lalu perhatikan tangan Anda: satu jari menunjuk ke arah orang lain, sementara empat jari lainnya menekuk ke arah diri sendiri.

Itulah gambaran paling jujur tentang memberi. Kita sering mengira bahwa saat memberi, kitalah yang berjasa dan penerimalah yang beruntung. Kita merasa sedang “menolong” dan “berkorban”. Padahal dalam kalkulasi Allah, orang yang paling beruntung justru yang memberi. Satu jari menunjuk ke orang yang kita bantu, tetapi empat jari kebaikan kembali kepada kita.

Rasulullah SAW bersabda, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau tidak sekadar menyebut tangan yang memberi lebih terhormat. Beliau mengajarkan bahwa memberi adalah kedudukan, derajat, dan kemuliaan.

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Berikut tujuh kebaikan yang kembali kepada mereka yang gemar memberi.

1. Bukti Keimanan

Iman mudah diucapkan, tetapi harta adalah ujian yang paling nyata. Tidak ada orang yang rela melepas apa yang ia cintai kecuali karena keyakinannya pada janji Allah lebih besar daripada cintanya pada dunia. Karena itu Rasulullah SAW menyebut, “Sedekah adalah bukti (burhan).” (HR. Muslim). Ia membuktikan apakah iman kita sekadar slogan atau benar-benar menghunjam di hati.

Lihatlah Abu Bakar As-Shiddiq RA saat menjelang perang Tabuk. Beliau datang membawa seluruh hartanya. Ketika Rasulullah bertanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”, beliau menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Kita mungkin belum sanggup memberi seperti beliau, tetapi dari beliau kita belajar bahwa iman yang yakin tidak pernah takut miskin karena memberi.

2. Meringankan Hisab di Akhirat

Harta bukan hanya nikmat, tetapi juga amanah dan beban. Setiap rupiah akan ditanya: dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan. Allah mengingatkan bahwa kita pasti akan ditanya tentang segala kenikmatan (QS. At-Takatsur: 8). Dalam hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa kaki seorang hamba tidak akan beranjak pada hari kiamat sebelum ia ditanya, di antaranya, tentang hartanya.

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

Maka orang cerdas adalah yang menyadari bahwa harta yang sudah ia berikan di jalan Allah adalah pertanyaan yang sudah terjawab dengan baik. Dengan memberi, kita sedang meringankan hisab kita sendiri.

3. Perisai dari Musibah dan Jalan Keberkahan

Sedekah adalah perisai. Para ulama dan orang-orang saleh dari generasi ke generasi mempercayai dan mengalami bahwa sedekah menjadi sebab terlindunginya seseorang dari berbagai kesulitan. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. (HR. Tirmidzi)

Berkah bukan soal banyaknya angka, melainkan cukupnya hidup, tenangnya hati, dan sehatnya keluarga. Siapa tahu satu sedekah yang kita anggap kecil itulah yang menjauhkan kita dari musibah yang tak pernah kita sadari akan datang.

4. Membersihkan Hati dari Tamak dan Kikir

Penyakit paling berbahaya bukanlah penyakit fisik, tetapi penyakit hati: tamak dan kikir. Penyakit ini tidak terlihat di hasil laboratorium, tetapi menggerogoti ketenangan dan merusak hubungan.

Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah

Obatnya telah Allah tetapkan: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103). Sedekah adalah detoksifikasi jiwa. Setiap kali tangan kita melepas, hati kita ikut dibersihkan dari cengkeraman cinta dunia. Allah pun menjanjikan, “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

5. Pintu Rezeki yang Berkah

Logika manusia berkata 10 dikurangi 1 sama dengan 9. Logika sedekah berkata sebaliknya: 10 dikurangi 1 bisa menjadi 19, 70, bahkan 700. Rasulullah SAW menegaskan bahwa sedekah tidak pernah mengurangi harta (HR. Muslim). Yang berkurang hanyalah angka di rekening, sedangkan berkahnya bertambah.

Allah menggambarkannya dengan perumpamaan yang indah: “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261). Satu butir benih menjadi tujuh ratus. Tak ada investasi di dunia yang menawarkan imbal hasil sebesar itu, dan dijamin langsung oleh Allah.

Dalam hadits qudsi, Allah berfirman, “Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak kepadamu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bayangkan: Pemilik seluruh perbendaharaan langit dan bumi sedang “mengajak bertransaksi” dengan kita.

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

6. Fondasi Kehidupan Bersama

Jika shalat adalah tiang yang membangun kepribadian, yakni hubungan vertikal dengan Allah, maka zakat dan sedekah adalah fondasi yang membangun kehidupan bersama, yakni hubungan horizontal dengan sesama manusia. Islam tidak menghendaki jurang yang menganga antara si kaya dan si miskin.

Dari tangan-tangan yang memberi lahir solidaritas, rasa saling percaya, dan keadilan sosial. Masyarakat yang saling memberi tidak mudah diadu domba, karena yang kuat tidak membiarkan yang lemah jatuh. Allah menegaskan, “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 19).

Perhatikan kata hak. Apa yang kita beri bukan kemurahan hati semata, melainkan hak orang lain yang Allah titipkan pada kita.

7. Naungan di Hari Kiamat dan Bekal Keselamatan

Kesempurnaan Islam seseorang tidak diukur dari banyaknya ritual saja, tetapi juga dari kepeduliannya kepada sesama. Ibadah yang membuat kita saleh secara pribadi tetapi tak peka pada tetangga yang kelaparan adalah ibadah yang belum utuh.

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

Di hari kiamat, ketika matahari begitu dekat dan tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, sedekah akan menjadi payung bagi pelakunya. Rasulullah SAW bersabda, “Naungan orang mukmin di hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR. Ahmad)

Allah mengingatkan dengan tegas: “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh’.” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Renungkanlah. Penyesalan terbesar di akhirat adalah menginginkan kembali ke dunia, bukan untuk menikmati kemewahan, melainkan hanya untuk bersedekah. Kesempatan yang sekarang ada di tangan kita itulah yang kelak akan diminta kembali oleh banyak orang.

Mulailah Hari Ini

Jadi, jangan tunggu kaya untuk memberi, sebab orang kaya pun belum tentu merasa cukup. Jangan tunggu lapang, sebab Allah memuji mereka yang memberi dalam lapang maupun sempit. Jangan menunda sampai besok, sebab kita tidak pernah tahu apakah besok masih milik kita.

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

Sedekah tidak harus besar. Sebungkus nasi, sebotol air, seulas senyum, sepatah kata yang menguatkan, semuanya tercatat. Yang terpenting adalah memulai.

Maka ketika tangan kita terulur kepada orang lain, ingatlah gambaran tadi: satu jari menunjuk kepada mereka, empat jari kembali kepada kita. Saat kita memberi, sesungguhnya kita sedang menabung untuk diri kita sendiri.

Bismillah, mari mulai memberi.

Soeka-Hatta, 12 Oktober 2026

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

MINA Edu
Tausiyah
Waspada! Penyakit yang Tak Terlihat Namun Mematikan
Tausiyah
Artikel
Tausiyah